Kurikulum Transisi PAUD Ke SD Jadi Bahasan Webinar Nasional Prodi PAUD UMJ

Oleh :
Fazri Maulana
Kurikulum Transisi PAUD Ke SD Jadi Bahasan Webinar Nasional Prodi PAUD UMJ
Direktur SD Kemendikbud Ristek Dikti Dr. Muhammad Hasbi, M.Pd., saat penyampaian materi Kebijakan Kurikulum Transisi Paud Ke SD, Sabtu (18/11/23). (Foto : SS Zoom)

Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta (PAUD FIP UMJ) selenggarakan webinar nasional bertajuk Kurikulum Transisi Paud Ke Sekolah Dasar secara daring melalui zoom meeting, Sabtu (18/11/23).

Baca juga : Dosen FIP UMJ Raih Gelar Doktor Bidang Ilmu Pengetahuan Budaya

Acara ini merupakan rangkaian kegiatan pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ke-1 Asosiasi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini/Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (APG PAUD/PIAUD) se-Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) dimana UMJ menjadi tuan rumah.

Dekan FIP UMJ Prof. Dr. Iswan, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya perhatian terhadap kurikulum pendidikan anak usia dini. Menurutnya, pendidikan anak usia dini merupakan hal yang strategis.

“Pendidikan Anak Usia Dini merupakan hal fundamental dalam proses pembelajaran awal anak. Maka dari itu, diskusi ini bisa menjadi fondasi dalam membentuk kurikulum pendidikan anak usia dini. Tentu, nantinya bisa berkolaborasi dengan berbagai pihak, “ungkap Iswan.

Lebih lanjut, Ketua APG PAUD/PIAUD PTMA, Dr. Tasrif, mengatakan pengembangan pembelajaran Anak Usia Dini merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama oleh berbagai pihak. Baginya, memunculkan karakter pembelajaran adalah hal utama yang harus dilakukan.

Dalam kesempatan ini, Keynote Speaker,  Deputi Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Didik Suhardi, S.H., M.Si., Ph.D., mengungkapkan bahwa dalam strategi siklus pembangunan manusia yang dimiliki Kemenko PMK, pembangunan nilai-nilai karakter harus ditanamkan pada tahap PAUD, pra sekolah, dan SD kelas rendah. Hal ini harus didukung ketersedian bantuan operasional penyelenggaran PAUD.

Lebih lanjut, Didik menyampaikan bahwa pada 100 tahun usia kemerdekaan, Indonesia mempunyai harapan menjadi negara besar dan sejahtera. Oleh karenanya, perlu membangun masa depan bangsa dengan kondisi Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas dan berkarakter unggul, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.

“SDM berkarakter pancasila, berkualitas, dan berdaya saing global berperan penting dalam pembangunan sosial, budaya, ekonomi, dan politik,” tutur Didik.

Webinar ini menghadirkan tiga narasumber yakni Direktur SD Kemendikbud Ristek Dikti Dr. Muhammad Hasbi, M.Pd., Ketua Pokja PAUD BAN PDM Majelis PAUD Dasmen PWA Banten Dr. Irma Yuliantina, M.Pd., Pimpinan Aisyiyah Majelis PAUD Dasmen Dra. Kis Rahayu, M.Si., dan dimoderasi oleh Wadek II FIP UMJ, Dr. Diah Andika Sari, M.Pd.

Narasumber pertama membahas kebijakan kurikulum Transisi PAUD ke Sekolah Dasar. Menurut Hasbi, terdapat miskonsepsi tentang kemampuan baca, tulis, dan hitung (Calistung) pada pendidikan anak usia dini dan SD.

“Di masyarakat kita saat ini, masih banyak miskonsepsi yang terjadi terkait kemampuan Calistung pada murid sekolah dasar kelas awal. Masih banyak guru dan juga orang tua yang beranggapan bahwa Calistung merupakan penentu utama keberhasilan anak dalam belajar,” ungkap Hasbi

Miskonsepsi besar itulah kini sedang diluruskan oleh Kemendikbudristek dengan pembuatan kebijakan transisi PAUD ke SD yang menyenangkan diantaranya menghapuskan calistung, menerapkan masa perkenalan, dan menerapkan pembelajaran membangun enam fondasi anak nilai-nilai agama dan budi pekerti, keterampilan sosial dan bahasa, kematangan emosi, kematangan kognitif yang meliputi kemampuan literasi dan numerasi,  kemampuan motorik, dan pemaknaan positif atas proses belajar.

“Guru diharapkan dapat melakukan strategi pembelajaran yang aktif, eksploratif, interaksi positif, dan menyenangkan. Selain itu, sekolah melaporkan perkembangan anak kepada orang tua atau wali sehingga tercipta komunikasi antara sekolah dengan keluarga,” ujar Hasbi

Kemudian, Irma melanjutkan pembahasan mengenai kurikulum transasi PAUD ke SD. Menurutnya, tidak terpenuhinya kemampuan fondasi pada usia dini hingga masa sekolah menimbulkan masalah lainya yang lebih besar. Ia menyampaikan bahwa perlu memahami kemampuan fondasi yang perlu dimiliki oleh anak usia dini.

“Perlu ada kesinambungan kurikulum SD dengan PAUD sehingga beberapa negara merasa perlu adanya kurikulum yang bisa menjembatani kita mengenal istilah The Bridge Curriculum, hal lain juga yang sangat menentukan yakni kompetensi, kapasitas dan kemampuan melaksanakan proses pembelajaran” ungkap Irma.

Terakhir, Kis rahayu menjelaskan bagaimana implementasi transasi kurikulum PAUD ke SD dengan Gerakan ‘Aisyiyah Cinta Anak (GACA). GACA merupakan gerakan yang dilakukan Pimpinan Pusat Aisyiyah Majelis PAUD, Dasar dan Menengah sebagai upaya dalam menciptakan suasana aman dan nyaman di sekolah, agar anak belajar dengan baik tanpa ada rasa khawatir akan adanya perundungan (bullying) atau bahkan kekerasan dari pihak yang tidak bertanggung jawab.

Editor : Dian Fauzalia