Kuliah Umum FKK UMJ: Indonesia Tempati Urutan Ketiga Kasus Kusta Terbanyak

Oleh :
Fazri Maulana
FKK UMJ Edukasi Penyakit Kusta Dalam Kuliah Umum
Dr. dr. Sri Linuwih Susetyo Wardhani Menaldi, S.p. KK(K), FINSDV, FAADV saat menajadi narasumber kuliah umum edukasi penyakit kusta yang digelar secara daring, Rabu (1/09/2023).

Indonesia menjadi negara urutan ke-3 dengan kasus kusta terbanyak di dunia. Terhitung sampai tahun 2022, jumlah kasus kusta mencapai 13.487 kasus. Namun, itu masih bisa bertambah seiring kasus yang tidak dilaporkan. Penyakit kusta masih menjadi permasalahan yang kompleks, dari 38 Provinsi di Indonesia masih terdapat 7 provinsi yang belum mencapai eliminasi nasional.

Baca juga: Dies Natalis XX FKK UMJ, Kanker Penyebab Kematian Tertinggi di Indonesia

Eliminasi yang dimaksud adalah pengurangan kasus kusta kurang dari 1/10.000 penduduk. Fakta dan data ini mengemuka dalam kuliah umum yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta (FKK UMJ) yang digelar secara daring, Rabu (1/09/2023).

Kuliah umum mengusung tema Diagnosis dan Tata laksana Kusta secara Holistik dalam upaya Mencapai Three Zero Lepsory, sebagai upaya untuk melakukan edukasi tentang penyakit kusta. Kegiatan ini berkolaborasi dengan sepuluh wahana rumah sakit pendidikan yang menjadi mitra FKK UMJ.

Lepra atau lebih dikenal dengan kusta adalah penyakit infeksi bakteri kronis yang menyerang jaringan kulit, saraf tepi, dan saluran pernapasan. Kusta disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini dapat menular dari satu orang ke orang lainnya, ditandai dengan bercak putih, pembesaran saraf tepi, mati rasa, dan bengkak atau benjolan.

Kuliah umum disampaikan oleh FKK Universitas Indonesia (UI) spesialis kulit dan kelamin, Dr. dr. Sri Linuwih Susetyo Wardhani Menaldi, S.p. KK(K), FINSDV, FAADV dan dimoderasi oleh dr. SK Sulistyaningrum, Sp.DVE, FINSDV, IFAAD dokter spealis kulit kelamin.

Masih banyak yang belum mengenal lebih jauh tentang kusta. Kusta dikenal oleh sebagian masyarakat sebagai penyakit turunan, akibat dosa, kutukan, dan tidak bisa disembuhkan ataupun dicegah penyebarannya. Ia mengungkapkan bahwa pernyataan tersebut adalah salah.

“Tetapi, memang anggapan tersebut sudah tertanam selama berabad-abad. Namun, setelah adanya penemuan yang dilakukan oleh Hansen. Kita bisa menjelaskan bahwa keadaan tersebut disebabkan oleh bakteri sama seperti penyakit lainnya,” ungkap Sri.

Kemudian, ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki target mencapai eliminasi pada tahun 2030. Hal itu bisa dicapai secara bersama-sama dengan menekankan konsep Three Zero Lepsory.

“Kenapa kita harus optimis dan bisa. Saya menekankan dengan cara terintegrasi kita bisa mendapatkan atau mencapai eliminasi ini. Kita ingin zero transmission, zero disability, zero stigma & discrimination. Kusta sangat melekat dengan stigma tidak bisa disembuhkan, stigma kusta itu disabiltas, tiga nihil itu harus bisa kita capai bersama-sama pada tahun 2030,” tambah Sri.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa jika sudah mengenalkan tentang kusta kepada masyarakat, selanjutnya perlu ada pemahaman tata laksana yang multidisiplin dan integratif. Hal itu dapat dilakukan melalui nonmedikamentosa (edukasi tanpa menggunakan obat), medikamentosa (edukasi menggunakan obat), tindakan bedah, integrasi & kolaborasi mutidisiplin, rehabilitasi sosial, dan rehabilitasi medis.

“Kalau kita bisa mengerjakan dengan cerdas dan terintegrasi, harapan untuk eliminasi nasional akan tercapai. Memang bukan nol. Tetapi kurang dari 1/10.000,” pungkas Sri.

Terakhir, ia menyampaikan harapannya untuk bisa bekerja bersama agar target eliminasi tercapai, “Untuk calon-calon dokter, calon Bidan, dan lainnya agar tidak takut terhadap kusta, kita bantu sama-sama.” tutup Sri. Seminar ini dihadiri oleh dosen, pembimbing klinik rumah sakit jejaring, dan mahasiswa FKK UMJ.

Editor Tria Patrianti