Kelompok Milenial Menentukan Pemilu 2024

Oleh :
Asep Setiawan
Lecture Series Pemilu 2024
Dosen Magister Ilmu Komunikasi, Dr. Asep Setiawan, saat menjadi narasumber dalam Lecture Series Virtual Pemilu 2024, Selasa (22/08/2023).

Generasi milenial merupakan bagian yang penting dari pemilih di Indonesia dan akan ikut menentukan hasil dari pemilihan umum tahun 2024. Faktor politik yang mempengaruhi sikap pemilih milenial antara lain kesadaran akan kredibilitas calon dan relevansi program-program mereka, pilihan ideologis dan nilai politik, transparansi dan akuntabilitas politik serta media dan kampanye politik.

Baca juga : Uji Kompetensi Wartawan Perlu untuk Membangun Pers Indonesia

Demikian penjelasan Dr. Asep Setiawan, Dosen Magister Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Jakarta dalam Lectures Series virtual dengan topik Aspirasi dan Partisipasi Milenial dalam Pemilu 2024 hari Selasa 22 Agustus 2023. Acara ini diselenggarakan oleh Program S1 dan S2 Ilmu Politik UMJ, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Universitas Jenderal Soedirman dan Asosiasi Program Studi Ilmu Politik (Apsipol).

Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan daftar pemilih tetap (DPT) untuk Pemilu 2024 jumlahnya mencapai 204.807.222 pemilih. Dari jumlah ini 66,8 juta adalah generasi milenal yang lahir dari tahun 1980-an sampai menjelang tahun 2000. Dengan demikian sepertiga pemilih pemilu 2024 adalah generasi milenial.

Menurut Asep, dalam faktor politik yang menentukan partisipasi kalangan milenial adalah kesadaran akan kredibilitas calon dan relevansi program-program mereka dalam mengatasi isu-isu yang dianggap penting oleh generasi milenial memiliki dampak signifikan terhadap partisipasi politik mereka.

Kaum milenial yang jumahnya mencapai 66,8 juta dari sekitar 204 juta pemilih akan cenderung memberikan dukungan kepada calon yang memiliki rekam jejak yang baik dalam memenuhi janji-janji kampanye mereka. Dikatakan bahwa memahami latar belakang dan pandangan calon dengan cermat memungkinkan generasi milenial untuk membuat pilihan politik yang lebih terinformasi.

Selanjutnya dijelaskan oleh Asep bahwa partisipasi politik generasi milenial juga dipengaruhi oleh sejauh mana calon dan partai politik mencerminkan nilai-nilai dan ideologi yang mereka pegang. Identifikasi dengan pandangan politik tertentu dapat menjadi dorongan bagi mereka untuk turut serta dalam memilih calon dan partai yang sejalan dengan keyakinan mereka. Pengkajian mendalam tentang pandangan politik generasi ini dan ketersesuaian dengan pandangan calon politik dapat menjadi dasar bagi strategi kampanye yang lebih relevan.

Sementara itu, jelas Asep, generasi milenial cenderung menuntut transparansi dan akuntabilitas dalam ranah politik. Mereka memiliki keinginan untuk memahami dengan jelas kebijakan politik, sumber daya yang digunakan, dan integritas calon serta partai politik. “Ketidaktransparanan atau skandal politik dapat menghambat partisipasi politik mereka. Kesadaran mengenai kualitas transparansi dan akuntabilitas calon dapat memengaruhi tingkat partisipasi generasi milenial,” katanya. Kegiatan ini dibuka oleh Kaprodi Magister Ilmu Politik Dr. Lusi Andriyani dan juga diberi pengantar oleh Ketua Apsipol Dr. Iding Rosyidin. Selain itu hadir pula sebagai nara sumber Dr. Indaru Setyo Nurprojo dari Universitas Jenderal Soedirman. Kegiatan yang dihadiri sekitar 30 mahasiswa dan dosen ini dipimpin moderator Boy Sakti Hapsoro dari Mipol FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Editor : Tria Patrianti