Perjuangan Partai Politik Islam dalam Pemilu 2024

Oleh :
Mutiara Halimatu's Sadiyah
Diskusi Publik Prodi Ilmu Politik dan Magister Ilmu Politik
Diskusi Publik Prodi Ilmu Politik dan Magister Ilmu Politik FISIP UMJ bersama Kaprodi Pemikiran Politik Islam UIN Mahmud Yunus Batusangkar, di ruang rapat FISIP UMJ, Jum’at, (16/06/2023).

Di tahun 2024 mendatang, 60% pemilih Indonesia adalah generasi milenial (GenZ). Namun, fakta ini berpengaruh pada persoalan apakah 60% pemuda akan menjadi kekuatan atau sebaliknya untuk perjuangan Partai Politik Islam. Pembahasan ini tertuang dalam Diskusi Publik yang diselenggarakan oleh Prodi Ilmu Politik dan Magister Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (FISIP UMJ) dengan tema Peluang Partai Politik Islam pada Pemilu 2024. Kegiatan ini dilaksanakan di ruang rapat FISIP UMJ, Jum’at, (16/06/2023).

Baca juga : Prodi MIPOL dan ILPOL FISIP UMJ Jalin Kerjasama dengan UIN Mahmud Yunus Batusangkar

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, S.I.P., M.I.P. sebagai pembuka acara memberikan pandangannya terkait problematika Partai Politik (Parpol) Islam yang sejak zaman kemerdekaan tidak pernah mendominasi perpolitikan Indonesia.

Menurut Pangi, dengan jumlah yang cukup banyak, Parpol Islam belum mampu menjadi penentu politik Indonesia. Hal ini disebabkan karena GenZ sudah tidak lagi masuk pada aspirasi agama. Mereka lebih cenderung pada Partai yang mengedepankan visi-misi Nasionalis. Adapun pendekatan Parpol Islam dipandang Pangi masih belum dapat menyentuh jiwa muda GenZ sehingga tidak ada keserasian antar keduanya.

Di samping itu, narasumber kedua, ketua prodi Pemikiran Politik Islam UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Dewi Dahlan, M.IP., menuturkan tiga kendala yang kerap dihadapi Parpol Islam dalam perjuangannya.

“Pertama, ketidakmampuan Parpol islam salah satunya mengubah ideologinya menjadi platform politik. Kedua, masih ada konflik internal dan krisis kepemimpinan di lingkungan Parpol Islam. Ketiga, krisis identitas dan kecenderungan pragmatisme politik seperti money politik,” ujar Dewi.

Menanggapi hal ini, dosen Ilmu Politik FISIP UMJ, Sri Yunanto, Ph.D., mengatakan pada realitanya tidak ada perbedaan antara Parpol Islam dan Parpol lainnya. Jika melihat dari sisi nasionalis, Parpol Islam pun juga mementingkan nasionalisme. Oleh karenanya, Yunanto berharap masyarakat dapat mendukung Partai yang tulus memperjuangkan nilai-nilai universal Islam dan aspirasi umat Islam.

Turut hadir sebagai narasumber, ketua prodi Ilmu Politik FISIP UMJ, Dr. Usni, M,Si., mengulas balik sejarah di tahun 1945, bahwa posisi Parpol Islam pernah memiliki konsolidasi yang kuat dengan selalu memperjuangkan pasal tentang syariat Islam.

Sejarah ini tercatat dengan adanya UUD 1945 pasal 29. Namun memasuki pasca kemerdekaan, Parpol Islam mulai stagnan dan terjadi pola haus kekuasaan yang mengakibatkan terjadinya pecah belah Partai.

Di sisi lain, dosen Ilmu Politik FISIP UMJ, Drs. Sumarno, M.Si., berpandangan bahwa permasalahan setiap Parpol adalah sama seperti konflik internal dan kekuasaan. Problematika juga terjadi di masyarakat yang memiliki standar moral tinggi kepada Partai Islam dan standar ganda pada Parpol Nasionalis.

Oleh karenanya, dosen prodi Ilmu Politik FISIP UMJ, Drs. Hamka, M.Si., turut memberi komentar bahwa umat Islam dengan Parpol harus memiliki new design untuk membangun politik keumatan yang rahmatan lil alamin dalam membangun nilai-nilai Islam.

Sementara itu, kaprodi Magister Ilmu Politik FISIP UMJ, Dr. Lusi Andriyani, M.Si., berpendapat ada 2 pokok yang harus dicermati masyarakat. Pertama, kover luar partai yang memakai nama islam. Kedua, partai yang sungguh berpihak pada umat islam. Inilah yang harus menjadi perhatian masyarakat.

Kegiatan Diskusi Publik diakhiri dengan penandatangan kerja sama antara prodi Ilmu Politik dan Magister Ilmu Politik UMJ bersama prodi Pemikiran Politik Islam UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Adanya kegiatan ini merupakan langkah awal dari kerja sama tersebut. Diskusi Publik dimoderatori oleh dosen Ilmu Politik FISIP UMJ, Ali Noer Zaman, MA. dengan dihadiri oleh sejumlah dosen dan mahasiswa FISIP UMJ.

Editor : Tria Patrianti