Qoriah Internasional Alumni UMJ Ingin Berantas Buta Aksara Al-Qur’an

Mastia Lestaluhu Qoriah Internasional FAI UMJ
Mastia Lestaluhu, Qoriah Internasional, Alumni Prodi Hukum Perdata Islam FAI UMJ. 

Membaca Al-qur’an tidak hanya sekadar kewajiban, tetapi juga keistimewaan. Dalam salah satu hadits riwayat Tarmidzi dikatakan bahwa membaca satu huruf Al-Quran dapat mendatangkan satu kebaikan. Satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kebaikan.

Pemahaman itulah yang membuat Mastia Lestaluhu tertarik menekuni baca Quran sejak duduk di kelas 4 SD. Hal itu kemudian mengantarkan alumni program studi Hukum Perdata Islam Fakultas Ilmu Agama Universitas Muhammadiyah Jakarta ini sebagai Qoriah internasional di tahun 2011.

“Saya pertama kali jadi juara internasional saat diorbitkan oleh UMJ. Pada tahun 2011 FAI UMJ memenuhi  undangan dari USIM Malaysia untuk mengikuti Ihtifal Institusi Pengajian Tinggi. UMJ mengirim 2 mahasiswa, saya dan seorang mahasiswa lain, laki-laki. Alhamdulillah saya juara 2 dan teman saya juara 3,” ungkap sosok yang kerap dipanggil Mastia itu.

Kenangan menjadi qoriah internasional tentu sangat luar biasa. Wanita kelahiran Ambon merasa kemenangan saat itu telah menjadi pintu utama untuk membangun relasi.

“Merasa bersyukur banget karena dapat bertemu orang luar dan menjalin pertemanan. Karena ini skala internasional. Jadi ada jalan untuk memperluas relasi. Ketika kita ingin membuka bisnis ataupun menimba ilmu, akan lebih mudah,” tuturnya.

Selanjutnya Mastia makin sering memenangkan  perlombaan tilawah di berbagai daerah, dalam dan luar negeri.  Mulai dari perlombaan Musabaqah Syarhil  Quran Nasional 2012 di Maluku, lomba Tilawah Dewasa Putri STQ Nasional 2013 di Bangka Belitung, Tilawah Dewasa Putri MTQ Nasional 2014 di Batam, Tilawah Dewasa Putri MTQ Nasional 2015 di Jakarta, Qiraat Sab’ah Putri MTQ Nasional 2016 di Lombok, hingga jadi juara 2 MTQ Internasional 2016 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Pengalaman Mastia ternyata tidak di satu bidang saja. Perempuan yang sangat gigih dalam mengejar ilmu ini ternyata menuntut ilmu di dua universitas sekaligus. Saat menempuh semester 5 di FAI UMJ, Mastia mendaftarkan diri pada studi Diplomasi 4 (D4) di salah satu sekolah motivator di Tangerang selatan.

“Aku mengambil double degree. Tapi pendidikan di sekolah motivator ini cukup lama, sampai enam Setengah tahun. Jadi, setelah lulus dari UMJ aku masih melanjutkan sekolah motivator. Dua tahun kemudian aku mukai studi S2 di salah satu PTS di Jakarta.  Aku baru lulus dari sekolah motivator itu bersamaan dengan kelulusan dari sekolah S2 itu,” kenang Mastia.

Pendidikan di sekolah motivator itu memberi Mastia dua buah gelar, yaitu CPSM (Certified Profesional Spritual Motivator) dan CHC (Certified Hypnosis Communication). Jadi,  selain menjadi qoriah yang melalang buana ke berbagai daerah di Indonesia dan luar negara, Mastia juga aktif sebagai motivator dan dosen hipnoteraphy di akademik non formal.

Hobi membaca Al-Qur’an yang ditekuni sejak kecil hingga dewasa membuat Mastia memiliki keinginan untuk memberantas buta aksara Al-Qur’an. Ia lantas mendirikan institusi yang bergerak di bidang pendidikan dan pelatihan untuk pengajar Al-Qur’an bernama Mastiah Institute.

Proses pembelajaran Mastiah Institute yang sudah berusia 4 tahun ini dilakukan secara daring. Di sini, para guru pengajar baca Qur’an diajarkan cara memberikan proses belajar yang menyenangkan.

“Sebagai orang yang berkecimpung di dunia Qur’an dan memiliki prestasi di bidang tersebut, aku sebenarnya ingin memiliki pesantren, tapi sembari mempersiapkan jalannya aku ingin lembaga belajar mengajar ini berjalan lebih dulu,” ujar Mastiah.

Dengan berdirinya Mastiah Institute, Mastia berharap semakin banyak umat Muslim yang mahir membaca Al-Qur’an. Berkaitan dengan hal tersebut, Mastia memberikan tips untuk lancar membaca Al-Qur’an.

“Temukan guru. Biarpun sekarang banyak platform belajar mengaji, tapi peran guru tetap tidak tergantikan. Temukan guru yang paham ilmu yang akan dipelajari,” ujar Mastia.

Selain itu, Mastia juga menekankan agar pembaca Al-Qur’an selalu istiqomah dalam setiap proses. Karena, menurutnya, tidak ada pembelajaran yang selalu lancar. Belajar tentu penuh rintangan. Namun, semua itu tergantung bagaimana cara untuk menghadapinya. “Karena kalau nggak mau menderita karena kebodohan, ya harus hadapi menderita karena proses belajar,” tutup Mastia.

Penulis : Mutiara H.S

Editor  : Tria Patrianti