Dosen FIK UMJ Terapkan Budaya Belajar Baru

Ninik Yunitri, M.Kep., Ns., Sp.Kep.J., Ph.D.,
(Foto : Dok. Ninik Yunitri)

Selain meningkatkan kompetensi sesuai bidang keilmuan, studi di luar negeri bisa memberikan banyak hal berguna lainnya. Hal itu dirasakan langsung oleh Ninik Yunitri, M.Kep., Ns., Sp.Kep.J., Ph.D., dosen muda Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta (FIK UMJ) yang menyelesaikan studi doktoral di Taipei Medical University (TMU) pada 2023 lalu.

Ninik, yang sebelumnya menjalani studi Magister dan Spesialis Keperawatan Jiwa di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, mengakui bahwa lingkungan pertemanan yang sangat akademis di Taipei memacunya untuk tidak tertinggal dari teman-temannya di kelas internasional. Ia menuntut ilmu dengan semangat dan berdisiplin sampai berhasil meraih  gelar Ph.D., walaupun beberapa kali harus dirawat di rumah sakit karena kelelahan.

Saat ditemui di Gedung FIK UMK, dosen yang duduk sebagai Pemimpin Redaksi Internasional Journal Nursing Science and Practice ini mengungkap bahwa ia menemukan budaya belajar baru saat menempuh studi di Taipei. Ia lantas membawa dan menerapkan budaya baru itu di FIK UMJ, yaitu  membuka diskusi dalam kelompok kecil mahasiswa, misalnya tentang cara melakukan penelitian.

Dengan raut wajah yang cerah ceria, Ninik menceritakan bagaimana mahasiswanya senang ikut dalam kelas-kelas kecil yang diadakannya itu. Bahkan tidak jarang mahasiswa menagih kelas lainnya di luar mata kuliah. Menurut Ninik, menerapkan budaya belajar seperti itu adalah strateginya untuk meningkatkan kemampuan analisis mahasiswa.

Ninik juga tergabung dalam ARSINE Study Club, sebuah komunitas pendidikan dan pelatihan yang didirikan bersama alumni TMU dari berbagai universitas di Indonesia pada 2020. Melalui forum ini, Ninik dan tim memberikan seminar dan pelatihan terkait penelitian serta penulisan artikel ilmiah. Terbaru, ARSINE Study Club bekerja sama dengan LOTUS Institute diundang untuk memberikan pelatihan bagi dosen-dosen di Universitas Andalas. Dengan keyakinan yang terpancar dari wajah cantiknya, Ninik mengatakan kelas-kelas itu juga terbuka bagi dosen-dosen di UMJ, “Gratis!” katanya.

Perempuan asal Tanjung Pinang ini mengaku selama studi doktoral, dirinya semakin senang meneliti dan menulis artikel ilmiah. Salah satu artikelnya yang tembus di jurnal internasional terindeks Scopus, berjudul “Global prevalence and associated risk factors of posttraumatic stress disorder during COVID-19 pandemic: A meta-analysis,” telah disitasi lebih dari 50 orang di Scopus, lebih dari 80 orang di Google Scholar, dan beberapa portal jurnal lainnya.

Penelitian itu ia lakukan atas bimbingan profesor di TMU dan menjadi projectnya selama studi doktoral. Menggunakan metode meta-analisis, ia menseleksi ribuan artikel dari seluruh dunia untuk menemukan dan menganalisa data terkait angka prevalensi posttraumatic stress disorder (PTSD) selama pandemi COVID-19 secara global. Dari hasil penelitian tersebut, Ninik menemukan prevalensi tinggi PTSD terdeteksi pada individu yang terinfeksi COVID-19, dan tenaga kesehatan.

Pencapaiannya itu tidak lepas dari adaptasi budaya belajar yang berhasil diterapkan. Menurutnya, lingkungan akademis di TMU cukup kompetitif, tapi tetap seimbang antara otak kanan dan kiri. Meskipun mahasiswa di Taipei dianggap Ninik ‘gila belajar’ karena begitu betah duduk dan membaca di perpustakaan yang buka hingga tengah malam, akan tetapi sisi kreativitas dari otak kanan tetap ada.

Dosen FIK UMJ Terapkan Budaya Belajar Baru
Aktivitas Ninik Yunitri bersama mahasiswa internasional TMU.

Di TMU kegiatan seni dan budaya rutin dilaksanakan. Ia bersama mahasiswa internasional lainnya berpartisipasi dalam acara kesenian yang bertajuk Cultural Night setiap tahunnya. Kegiatan ini juga menjadi wadah bagi Ninik yang memiliki hobi bernyanyi dan menari yang telah dimilikinya sejak remaja saat tergabung di sebuah sanggar.

Ia berbisik, ada darah seni mengalir dan sempat terpikir selepas SMA ingin melanjutkan studi untuk mendalami bidang kesenian mengikuti jejak kakaknya. Di sela perbincangan tentang pengalaman studi, Ninik membocorkan dulu pernah mengikuti audisi ajang pencarian bakat Indonesian Idol meskipun tidak sampai babak yang disiarkan di televisi.

Ninik memang memiliki hobi seni. Bahkan ia juga yang mengajarkan mahasiswa FIK UMJ beberapa tarian tradisional yang kerap ditampilkan mahasiswa pada acara-acara di FIK. Namun Ninik mensyukuri takdir membawanya kuliah S-1 Keperawatan di UMJ yang menurutnya memiliki lingkungan Islami.

“Pendidikan agama saya sangat kurang. Institusi Muhammadiyah tidak banyak diketahui. Sekolah Muhammadiyah menjadi pilihan terakhir di lingkungan kampung halaman saya. Namun setelah saya bergabung dan menjadi mahasiswa UMJ, saya melihat Muhammadiyah dari perspektif yang berbeda. Saya bersyukur berada di lingkungan dengan orang-orang yang memiliki pengetahuan agama yang baik,” kata alumni FIK UMJ dengan IPK sempurna ini.

Perbincangan beralih ke topik adaptasi. Tinggal dan belajar di lingkungan baru tentu tidak selalu berjalan mulus. Selama hidup di Taiwan, sebagai minoritas di Taipei, Ninik tidak pernah kesulitan dalam melakukan ibadah. TMU menyediakan fasilitas yang sangat nyaman untuk melaksanakan ibadah. Beberapa program keagamaan juga di jalankan persatuan pelajar Indonesia (PPI) dengan dukungan penuh dari pimpinan TMU seperti kajian rutin, buka puasa bersama, salat id, dll. Ia juga mengaku senang karena bisa mensyiarkan nilai-nilai agama Islam kepada teman-temannya yang beragama.

Kesulitan Ninik pada awal masuk kuliah justru adalah takdirnya menjadi mahasiswa internasional angkatan pertama di bawah bimbingan Professor Kuei-Ru Chou. “Orang Indonesia kan kemampuan menelitinya masih minimal. Dikarenakan saya anak bimbingan pertama, saya tidak punya rekan satu lab yang bisa saya ajak diskusi,” katanya.

Sebagai orang Indonesia yang sebelumnya tidak pernah studi di luar negeri, Ninik merasa bahwa kemampuan menelitinya tidak sama dengan mahasiswa internasional lainnya. Namun ia bersyukur memiliki teman seangkatan yang baik dan menjadi lingkungan yang mendorong dirinya untuk terus belajar. “Alhamdulillah saya punya teman kelas yang baik, jadi bisa berbagi,” tutur Ninik

Dosen yang memiliki suara merdu ini lantas membagikan tips yang bisa diterapkan oleh mahasiswa atau siapa saja. “Saya dan teman-teman di sana punya prinsip cara belajar yaitu ‘work hard, play hard.’ Misalnya saya punya target untuk membaca 1000 artikel, maka kalau berhasil saya akan pergi jalan-jalan untuk membeli sesuatu. Memang awalnya berat tapi setelah terbiasa, jadi mudah,” katanya.

Ninik sadar bahwa kegiatan penelitian dan penulisan artikel di Indonesia masih belum patuh sepenuhnya pada aturan yang ada. Itulah alasan Indonesia kalah saing dengan negara lain. “Itu karena kita tidak memperhatikan aturan, misalnya dalam penelitian. Saya selalu bilang ke mahasiswa bahwa jika mengerjakan sesuatu jangan berdasarkan kepada insting tetapi kepada rasionalitas dan sumbernya,” kata Ninik.

Dosen FIK UMJ Terapkan Budaya Belajar Baru
                Poster penelitian Ninik Yunitri

Maka dari itu, Ninik berulang kali mengatakan agar patuh pada aturan penelitian dan penulisan. Ia juga menyayangkan orang Indonesia yang tidak begitu aktif menulis. “Kita orang Indonesia, memiliki kecenderungan aktif berbicara dari pada menulis. Akan tetapi seorang dosen atau ilmuwan, perlu menuangkan ilmu dan pengetahuannya dalam tulisan sehingga lebih banyak orang yang mendapat manfaat. Ilmu tidak akan berguna jika kita tidak dibagikan, publish or perish,” ungkap Ninik.

Kini, Ninik terus melanjutkan perjalanannya hingga ia berharap dapat menjadi seorang profesor. “Saya sempat berujar bahwa pada saat umur 40 tahun, saya sudah menjadi seorang profesor. Namun ternyata belum, tapi saya ingin kesana. Saat ini saya sedang menulis buku tentang meta-analisis bersama rekan-rekan di ARSINE Study Club,” pungkasnya.

Saat ini Ninik aktif membina mahasiswa untuk tidak hanya menjadi perawat profesional, tapi juga menjadi peneliti dan penulis agar ilmu yang dimiliki semakin bermanfaat. Ninik selalu melibatkan mahasiswa dalam kegiatan penelitian dan penulisan artikel ilmiah baik dalam seminar skala nasional maupun internasional.

Pada tahun 2023, Ninik mendampingi dua mahasiswa berpartisipasi dalam kompetisi Palang Merah Internasional dan salah satunya terpilih sebagai perwakilan Indonesia yang mempresentasikan hasil kerjanya di Swiss.

Pada tahun yang sama, Ninik membimbing dua mahasiswa untuk melakukan oral presentation pada SIGMA International Conference yang akan dihelat di Singapura pada Juli 2024 mendatang.

Penulis : Dinar Meidiana
Editor : Tria Patrianti

 

 

 

https://simlppm.untan.ac.id/vendor/terbaik-2024/https://lentera.uin-alauddin.ac.id/question/gratis-terlengkap/https://fateta.ilearn.unand.ac.id/terbaru/https://old-elearning.uad.ac.id/gampang-menang/https://tos.dephub.go.id/maxwin/https://siswa.dpuair.jatimprov.go.id/app/https://fk.ilearn.unand.ac.id/demo/http://ti.lab.gunadarma.ac.id/jobe/system/https://elearning.uika-bogor.ac.id/tanpa-potongan/https://silayar.ut.ac.id/demo/http://www.matano.desa.luwutimurkab.go.id/https://litmas.ar-raniry.ac.id/system/demo-gratis/https://elearning.umsu.ac.id/report/log/https://pusatbahasa.hamzanwadi.ac.id/https://besadu.belitung.go.id/css/https://silayar.ut.ac.id/course/terbaik-terpercaya/https://jdih-dprd.sumedangkab.go.id/system/