Perjuangan Muhammad Ferarri di Tengah Cedera

Perjuangan Muhammad Ferarri di Tengah Cedera

 

Cedera di kaki tidak menghentikan Ferarri, pemain timnas sepak bola Indonesia, saat pertandingan melawan Qatar di ajang Asian Cup U23 2024, April lalu.

Muhammad Ferarri yang kini tercatat sebagai mahasiswa aktif Prodi Pendidikan Olahraga Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta (POR FIP UMJ) semester 2, berbagi cerita tentang pertandingan Asian Cup U23 2024 itu saat ditemui dalam acara Colour Run 2024 yang digelar oleh HIMAPOR FIP UMJ, Sabtu (18/05/2024), Ferarri mengaku mengalami cedera ankle saat warming up sebelum bertanding melawan Qatar.

“Orang-orang kan gak tahu. Lihat di lapangan seperti baik-baik saja, padahal selama pertandingan itu saya dibebat (diperban kencang). Pokoknya dalam keadaan sakit. Passing, sakit. Lari, sakit. Tapi harus dikuat-kuatin, mental dan doa,” ungkap Ferarri.

Hingga saat wawancara, Ferarri mengaku masih dalam masa pemulihan. Meskipun begitu, tidak menjadi penghalang bagi Ferarri untuk terus bermain bola. Hal itu dikarenakan sepak bola sudah menjadi bagian dari kehidupannya.

Pengalaman bermain di Asian Cup bersama Timnas kelompok usia menjadi pengalaman sangat berharga baginya. Selain berharga untuk kariernya sebagai atlet sepakbola profesional di masa mendatang, Ferarri juga merasa beruntung karena bisa satu lapangan dengan atlet-atlet hebat.

“Saya bisa main dengan pemain hebat, ketemu lawan yang levelnya berbeda, dan banyak belajar. Saya masih muda, masih perlu banyak belajar,” ujar mahasiswa yang juga Anggota Polri berpangkat Brigadir Polisi Dua ini.

Banyak pengalaman yang tidak hanya menjadi pelajaran bagi Ferarri dari segi kompetensi tapi juga mental. Salah satunya saat gol cantik yang dicetak Ferarri pada menit ke-63 pada laga semifinal melawan Uzbekistan dianulir oleh wasit.

Muhammad Ferarri (paling kanan) melakukan selebrasi seusai mencetak gol, sebelum dianulir wasit saat pertandingan Semifinal Piala Asia U-23 2024, Senin (29/4/2024). (Foto : Dok.Youtube)
Muhammad Ferarri (paling kanan) melakukan selebrasi seusai mencetak gol, sebelum dianulir wasit saat pertandingan Semifinal Piala Asia U-23 2024, Senin (29/4/2024). (Foto : Dok.Youtube)

“Awalnya senang karena ini mimpi. Mungkin kalau masuk, bisa jadi penentu. Itu sesuatu yang wah banget. Setelah gol dinyatakan dianulir, saya rasa berarti belum rezeki. Semua pemain pasti down tapi sebagai pemain sepakbola profesional, harus menyikapi dengan bijak,” ungkap pemain bek tengah ini.

Ajang Asian Cup U23 2024 itu juga mendorong Ferarri terus belajar menjadi seorang bek tengah. Beberapa komentar di media sosial menyoroti permainan Ferarri yang terlihat keras. Itu diakuinya sebagai sebuah strategi untuk menghadapi lawan layaknya sang idola, Sergio Ramos, pemain asal Spanyol yang pernah bermain untuk Real Madrid dan kini bergabung di Sevilla FC.

“Idola saya Sergio Ramos, orangnya keras. Main di bek tengah memang harus begitu. Keras, membuat striker lawan gak nyaman. Kalau dia (striker) emosi, berarti saya berhasil,” tuturnya.

Ferarri juga merasa beruntung karena bisa berlatih di bawah asuhan Coach Shin Tae-yong. Menurutnya, Shin Tae-yong adalah sosok pelatih yang sangat baik dalam membangun tim. “Coach Shin Tae-yong bisa membangun mental dan kekeluargaan dengan sangat baik,” tutur pemain Persija Jakarta ini.

Sebelum bisa bergabung di Persija dan Timnas, Ferarri cukup banyak pengalaman dan berprestasi. Perjalanannya dimulai sejak usia 7 tahun, bergabung di Sekolah Sepak Bola (SSB) Jagakarsa selama kurang lebih lima tahun.

Kemudian mahasiswa kelahiran Jakarta, 21 Juni 2003 ini bergabung di SSB Jakarta Football Academy (JFA) di Jakarta Timur bersama salah satu teman seperjuangan Salman Alfarid yang juga pernah di Persija dan Timnas, sekaligus mahasiswa POR FIP UMJ.

Ferarri mulai mengikuti banyak kompetisi di internal wilayah DKI Jakarta yang membawanya mendapatkan banyak relasi baru. “Dari situ saya banyak diajak main di mana-mana. Akhirnya, 2016 saya gabung di top score Indonesia level usia 13 tahun,” imbuh mantan pemain PS TIRA ini.

Setelah menyelesaikan kontrak dua tahun di PS TIRA, Ferarri mendapat tawaran di Persija Jakarta. Saat itu, kondisi kaki Ferarri mengalami patah fibula dan mendapatkan perawatan pemulihan.
Sejak debut di Persija Jakarta Februari 2020 hanya sekitar dua bulan ia latihan dan terpaksa harus berhenti karena pandemi. Kemudian Agustus 2020, Ferarri bergabung ke tim senior Persija.

“Sebetulnya gak nyangka bisa masuk Persija. Bangga bisa main di klub kelahiran saya sendiri di Jakarta. Ini salah satu motivasi terbesar. Alhamdulillah rezekinya di Persija juga bagus,” ungkapnya.

Ferarri yang mengaku sejak kecil lebih senang beraktivitas di lapangan dari pada di ruang kelas, merasa bersyukur besar di lingkungan yang mendukung. Mulai dari keluarga orang tua yang juga dari bidang olahraga bola voli, lingkungan sekolah, hingga kini ketika sudah menjadi mahasiswa di UMJ.

“Sangat senang bisa gabung di UMJ karena Pak Doby dan Pak Rektor mendukung banget. Saya suka sekali kalau banyak yang dukung. Harapaannya bisa membawa nama UMJ lebih baik lagi dari bidang olahraga,” tutur Ferarri.

Bagi Ferarri, meskipun fokus berlatih sepakbola, pendidikan tetap penting karena menjadi penyeimbang. Menurutnya, tidak selamanya ia akan bermain sepak bola.

“Kalau sudah pensiun baik di sepakbola dan kepolisian, saya mau jadi juragan kontrakan. Punya tanah di kampung, alhamdulillah. Jadi mau perbanyak tanah. Sama mau buka warung kopi dan warung nasi. Biar bisa bantu driver ojek yang butuh makanan murah,” katanya.

Tak henti-henti, Ferarri mengucap syukur atas rezekinya yang didapatkan dari sepakbola. Mulai dari pengalaman main di timnas kelompok umur sampai tim senior. Ia juga bisa memberangkatkan orang tuanya ibadah umrah.

“Target tertinggi saya, bisa bawa Indonesia terbang tinggi,” katanya diakhiri senyum.

Penulis : Dinar Meidiana
Editor : Tria Patrianti