Mempertahankan Lebih Sulit Daripada Menambah Hafalan

Ibrahim di Fakultas Kedokteran dan Kesehatan, Selasa (02/08).

Wawancara bersama Ibrahim, mahasiswa Program Studi Kedokteran FKK UMJ, penerima beasiswa Hafidz Qur’an.

Bagi Ibrahim menjadi penghafal Al-Qur’an adalah sebuah anugerah karena, menurutnya, tingkat keimanan seseorang itu berbanding lurus dengan kemampuannya mempertahankan hafalan Al-Qur’an. Beruntung Ibrahim sejak kecil sudah dididik oleh orang tuanya untuk menjadi penghafal Al-Qur’an. Walau tidak pernah mengenyam pendidikan formal layaknya anak-anak pada umumnya, Ibrahim fokus menghafal Al-Qur’an hingga 30 juz. Seiring perjalanannya tersebut Ia pun mengaku bahwa mempertahankan hafalan Al-Qur’an lebih sulit daripada menambah hafalan.

 Saya Ibrahim, bukan nama panjang, segitu aja. Ibrahim aja.

Namanya begitu singkat, tapi cerita Ibrahim yang ditemui penulis di Gedung FKK UMJ, Selasa (02/08), sama sekali tidak singkat. Mahasiswa yang baru saja dilantik menjadi Ketua BEM FKK pada akhir Juli 2022 ini menceritakan perjalanannya dalam mengenal dan menghafal Al-Qur’an sejak batita (bawah tiga tahun) hingga kini. Ibrahim mengaku mengenal Al-Qur’an sejak kecil melalui telinga, yakni saat orang tuanya memperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an padanya. Walaupun tidak yakin mulai dari usia berapa, tapi Ibrahim ingat betul ayat-ayat Al-Qur’an itu terdengar sejak usia batita.

Rasul juga diajarkan oleh Jibril dengan metode dibacakan dan diperdengarkan. Saya diajarkan orang tua dengan ditalkin dan diperdengarkan dulu. Dalam ilmu kedokteran juga dipelajari bahwa ingatan manusia lebih kuat ketika mendengarkan. Jadi dari kecil kalau sering diperdengarkan akan mudah mengingat. Sama halnya seperti anak-anak mendengarkan lagu, lebih cepat hafal.

Setelah banyak mendengarkan, Ibrahim kecil yang mulai menginjak usia 4 (empat) tahun mulai diperkenalkan dengan huruf hijaiah melalui buku Iqra. Berbeda dari anak-anak TPA pada umumnya yang akan mulai membaca Al-Qur’an setelah lancar Iqra 6 (enam), orang tuanya mengarahkan Ibrahim akselerasi dan mulai membaca Al-Qur’an saat ia baru menyelesaikan Iqra 3 (tiga).

 Orangtua saya tidak mau lama-lama, jadi baru iqra 3 (tiga) sudah langsung ke Al-Qur’an. Selesai iqra 3 (tiga) langsung ke hifdzil qur’an, sambil dibimbing dan dituntun.

 Perjalanan menghafal Ibrahim terus berlanjut. Tanpa sadar, laki-laki kelahiran 26 April 2001 ini telah hafal Juz 30 pada saat itu. Menginjak usia 8 (delapan) tahun, Ibrahim telah lancar membaca dan berhasil menyelesaikan hafalan 30 Juz Al-Qur’an. Namun ia mengaku bahwa hafalannya pada saat itu belum begitu lancar. Dengan keseriusan dan konsistensi Ibrahim, murojaah menjadi rutinitas wajib yang tidak boleh dilewatkan.

Usia 13 tahun karena sudah sering murojaah, hafalan 30 juz itu lumayan lancar dan bisa dipertanggungjawabkan walaupun masih banyak salahnya. Itu (menghafal) perjuangan banget bersama kakak.

Bungsu dari 3 (tiga) bersaudara ini melancarkan hafalannya di Rumah Qur’an milik orang tuanya bersama dua kakaknya dan murid tahfiz qur’an lainnya. Ibrahim mengatakan bahwa orang tuanya bukanlah penghafal Al-Qur’an, tapi memiliki semangat untuk menjadikan anak-anaknya mencintai dan menghafal Al-Qur’an. Oleh karenanya tidak ada metode khusus yang diterapkan orang tuanya selain memperdengarkan ayat Al-Qur’an pada Ibrahim dan kedua kakaknya sejak dini.

Suatu saat laki-laki yang diketahui aktif berorganisasi di dalam dan luar kampus ini pernah mengikuti sebuah ajang Hafiz Indonesia yang merupakan program salah satu stasiun TV swasta Indonesia (RCTI), yang tayang bulan pada Ramadan setiap tahunnya. Namun Ibrahim mendaftar bukan untuk menjadi peserta, melainkan qori penanya. Laki-laki keturunan suku Banjar ini lebih dulu ‘masuk’ dan ikut acara tv dibanding menonton acara tv.

Umur 15 tahun kalo gak salah, ikut daftar Hafiz Indonesia 2015. Bukan sebagai peserta, tapi sebagai qori atau penanya. Lolos dan ikut shooting bareng di Hafiz Indonesia. Orang tua sangat disiplin, jadi gak pernah nonton tv. Saya ketemu sama artis-artis, (tapi saya) ga kenal. Ketemu, lalu dikenalkan tapi, ‘ini siapa? Saya gak tau.’ 

Ibrahim dalam Hafidz Indonesia 2015

 Sambil terkekeh, Ibrahim bercerita situasi yang dialaminya ketika bertemu artis ternama Indonesia di acara Hafiz Indonesia. Nama Teuku Wisnu dan Baim Wong sempat muncul dari ceritanya. Umumnya orang akan berebut minta foto jika bertemu artis-artis tersebut, tapi lain cerita dengan Ibrahim yang sama sekali tidak mengenal bahkan sekedar mengetahui.

Melalui Hafiz Indonesia selain mengenal artis kenamaan, Ibrahim juga bertemu dan mengenal ulama asal Yaman yang berdakwah di Indonesia, salah satu juri Hafiz Indonesia yakni Syekh Ali Jaber (alm).

Waktu itu Syekh Ali Jaber menyarankan saya ikut camp atau karantina untuk memantapkan hafalan. Langsung dipegang oleh salah satu Syekh dari Yaman, jadi shooting sambil camp. Ikutnya bareng (rombongan) Syekh Ali Jaber. Shooting di sana 1 sampai 2 bulan, tapi (setelah itu) saya lanjut di sana (camp). Jadi kenal sama gurunya, tapi belum berhak dapat sanad dari gurunya.

Pengalaman shooting Hafiz Indonesia dan camp untuk memantapkan hafalan adalah bagian kecil dari pengalaman bersama Al-Qur’an yang dimiliki Ibrahim. Selebihnya, Ibrahim sering mengikuti lomba Musabaqoh Tilawatil Qur’an yang digelar rutin di daerahnya. Prestasi terbaru dari mahasiswa yang kini bergabung dalam Bidang Pengembangan dan Kaderisasi dalam Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran (FULDFK) ialah Juara 1 Cabang 10 Juz Lomba Pekan Olahraga Sains dan Seni (POSSE) yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Riau tahun 2021. Sebelumnya, Ibrahim juga pernah menjuarai Musabaqoh Hifdzil Qur’an Cabang 30 Juz tingkat Nasional di Darunnajah tahun 2017, Juara Harapan 1 Cabang Tafsir Al-Qur’an Berbahasa Arab tingkat Nasional tahun 2020, dan Juara Harapan 3 Cabang Tafsir Al-Qur’an Bahasa Arab tingkat Nasional tahun 2021.

Ibrahim (kanan) meraih Juara 1 Musabaqoh Tilawatil Quran Golongan Tafsir Bahasa Arab Putra, Kalimantan Timur pada 2019

Keseharian Ibrahim sejak kecil diwarnai dengan lantunan murojaah dan belajar di rumah alias home schooling. Mahasiswa kedokteran ini nyatanya tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Jenjang SD hingga SMA ia lewatkan dengan mengikuti ujian persamaan paket A, B dan C. Menurutnya bukan hal mudah beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Porsi belajar saat sekolah di rumah dengan di kedokteran sangat berbeda. Namun tidak menyurutkan semangat Ibrahim untuk aktif berorganisasi di samping aktivitas akademik. Ibrahim diketahui bergabung dalam beberapa organisasi diantaranya Community Development 4B (Bersih, Bergizi, Berkarya, Bermanfaat), dan Badan Eksekutif Mahasiswa FKK UMJ, dan Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran (FULDFK).

Jadwal kuliah yang padat diakui Ibrahim sebagai hal baru. Menurutnya saat ini ia harus bisa fokus keduanya baik menghafal maupun belajar. Ditambah dengan segudang aktivitas sebagai anggota dan pengurus di beberapa organisasi mendorong kreativitas Ibrahim dalam mengelola waktu dan mengasah jiwa kepemimpinanya.

Kata kaprodi kami, semester satu sampai dua, tidur 5 jam. Semester tiga sampai empat, tidur 4 jam. Semester lima sampai enam, (tidur) 3 jam. Besok-besok ga tau tuh tidur berapa jam.

 Ibrahim yang saat itu duduk di barisan kursi lantai 1 Gedung FKK UMJ kembali terkekeh saat memperagakan bagaimana Ketua Program Studi Kedokteran menyampaikan komedi realita mahasiswa kedokteran. Apa yang disampaikan Kaprodi Kedokteran bagi Ibrahim bukan sekedar guyon, melainkan dorongan semangat dalam menghafal, belajar, dan berorganisasi.

Menghafal sambil kuliah pasti kaget. Dulu kan prioritas murojaah, ga ada kegiatan lain. sekarang sudah tidak bisa seperti itu. Agak kaget, karena kita punya waktu sedikit untuk murojaah. Alhamdulillah dulu sempet udah lancar, jadi tinggal mempertahankan.

Eh… justru mempertahankan itu sulit.

 Pengajar di Yayasan Fii Sabilillah, Kalimantan Timur ini juga mengaku memiliki mimpi besar. Mimpi untuk menjadi manusia bermanfaat. Jadi apapun nantinya, Ibrahim hanya ingin menjadi manusia bermanfaat yang manfaatnya bisa terus meluas.

Khoirunnas anfa’uhum linnas. Apapun posisinya bagaimanapun nanti, intinya bermanfaat.

Lebih khusus, impian besar Ibrahim adalah mencetak generasi penghafal Al-Qur’an melalui institusi pendidikan. Sambil berangan-angan, Ibrahim menjelaskan bagaimana gambaran kebermanfaatannya di masa depan.

Saya mau menciptakan penghafal Al-Qur’an. Saya mau bikin institusi pendidikan yang dapat memberikan pendidikan dari segi (ilmu) agama, akademik, dan juga kepemipinan.

 Tidak lupa, Ibrahim juga mengajak mahasiswa lainnya untuk terus memaksimalkan apa yang ada di UMJ dan menjalankan segala aktifitas positif di UMJ dengan ikhlas agar mendapat berkahan. Bagi Ibrahim yang sejak kecil diberikan pendidikan agama yang cukup baik oleh orang tua merasa bahwa pendidikan agama tidak tertinggal selama kuliah di FKK UMJ. Hal tersebut diakuinya ketika mulai menceritakan Blok Al Islam yang pada saat itu sedang dijalaninya.

Alhamdulillah, kampus khususnya FKK mengajarkan mahasiswa untuk kembali ke Al Islam. seperti sekarang lagi Blok Al Islam. Satu bulan fokus Al Islam. Kami difasilitasi (belajar agama Islam), barusan (02/08) belajar solat. Setelah ini ada materi mengurus jenazah.

Ada blok Al Islam. Ada konsep dokter islami. Bahkan di setiap minggu harus membahas keislaman. Ada sistem kelompok namanya PBL (Problem Based Learning). Kita dipicu supaya tetap membahas keislaman dari setiap kasus yang dikasih.

 Di mata Ibrahim, UMJ menjadi kampus tempat belajar sekaligus mengembangkan potensi. Pendidikan agama Islam yang difasilitasi sangat baik menjadi wadah bagi Ibrahim untuk memperdalam keislaman. Diakui Ibrahim bahwa fasilitas kampus dalam hal pendidikan Islam sangat berarti. Kini Ibrahim berusaha untuk memaksimalkan fasilitas di UMJ, khususnya dalam ilmu keagamaan. Baginya, ilmu yang dipelajari di FKK UMJ saat ini dapat menjadi bekal untuk menjadi dokter islami, meluaskan kebermanfaatan dan tentunya bekal untuk kehidupan akhirat. (DN/KSU)