Pengidap AIDS Dapat Hidup Normal

dr. Ihsanil Husna, Sp.PD. FKK UMJ

 

Let Communities Lead menjadi tema Hari AIDS Sedunia 2023 yang diperingati setiap tanggal 1 Desember. Penyakit yang berisiko tinggi yang disebabkan oleh virus ini tidak bisa disembuhkan, dapat menular dan dapat menyebabkan kematian. Data UNAIDS (United Nation Programme on HIV and AIDS) menunjukkan sepanjang tahun 2022 sebanyak 1,3 juta orang baru terinfeksi HIV, 39 juta orang hidup dengan HIV, dan 630 ribu orang meninggal karena AIDS.

HIV dan AIDS menjadi perhatian penting bagi pemerintah baik nasional maupun internasional. Pada kesempatan ini, FKK UMM, membagikan informasi sebagai bentuk edukasi dan dukungan terhadap ODA (Orang Dengan AIDS) agar dapat menjalani kehidupan sama seperti orang pada umumnya.

Tentang HIV AIDS dan Pengobatannya

HIV adalah virus yang menyerang sel pertahanan tubuh manusia atau sel darah putih, sementara kumpulan gejala-gejala akibat infeksi HIV disebut AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Pengidap HIV dengan viral load (jumlah virus dalam tubuh) tinggi akan menimbulkan gejala lebih berat. dr. Ihsanil menjelaskan bahwa infeksi yang diakibatkan oleh penurunan daya tahan tubuh ini disebut infeksi oportunistik yaitu kondisi tubuh tidak bisa melawan penyakit seringan apa pun.

Sampai saat ini belum ada obat yang dapat membunuh virus, maka pengidap AIDS yang dikenal dengan ODA (Orang Dengan AIDS) dianjurkan mengonsumsi obat ARV (antiretroviral). Obat ini diistilahkan sebagai fix dose combination yaitu kombinasi dari beberapa jenis obat agar pasien dapat lebih mudah mengkonsumsinya.

Obat ARV dapat menekan perkembangbiakan atau replikasi virus dalam tubuh sehingga gejala-gejala yang timbul semakin membaik diikuti dengan perbaikan kualitas hidup. Pengobatan dilakukan dengan tertib diminum dalam jangka waktu yang sama setiap hari seumur hidup.

“ARV ini harus dikonsumsi seumur hidup. Untuk menjaga kepatuhan pasien dalam menjalani terapi ini, pada tahap awal biasanya akan diberikan konseling sebelum melakukan testing, setelah didapatkan hasil testing, sebelum mendapatkan pengobatan, dan selama mendapatkan pengobatan,” ujar dr. Ihsanil.

Apabila pasien melakukan pengobatan dengan tertib, maka pada fase-fase tertentu dalam siklus 3 sampai 6 bulan, seseorang bisa undetected virus. Pada kondisi demikian pasien biasanya sudah bisa menjalani kehidupan layaknya orang pada umumnya. Jadi kualitas hidup orang yang sudah mendapat pengobatan ARV ini diharapkan akan sama dengan orang-orang normal di sekitarnya.

“ODA yang diobati dengan baik dan benar bisa menjalani kehidupan secara normal. ODA memang tidak dapat disebut sembuh, tapi bisa menjalani kualitas hidup sama dengan orang normal lainnya. Pasien akan tidak terlihat gejala, bisa menjalani kehidupan normal dan dapat beraktivitas seperti biasa, ” ungkap dr. Ihsanil.

ODA memiliki tingkat mortalitas tinggi yang diakibatkan oleh infeksi oportunistik. Jadi, pengobatan harus dilakukan bersamaan dengan pengobatan HIV. Di Indonesia infeksi oportuniti yang banyak terjadi saat ini adalah TB Paru maka setiap penderita TB harus dicek HIV.

“Pengobatan ini harus berjalan berdampingan tentunya kontrol dari pelayanan kesehatan yang menyediakan obat-obat untuk kedua penyakit kronik ini. Sampai saat ini untuk pengobatan ARV masih program pemerintah sehingga pasien tidak perlu mengeluarkan uang,” katanya.

Komunitas Kunci ODA Hidup Berkualitas

Selama pengobatan, ODA juga memerlukan support system yang dapat mendukung keberhasilan pengobatan. Support system ini dapat berupa komunitas yang berperan mendampingi ODA selama menjalani pengobatan. Kehadiran komunitas yang mendukung akan mendorong ODA memiliki rasa kepercayaan diri bahwa dirinya masih bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Stigma terhadap ODA masih ada, oleh karenanya keluarga sebagai komunitas terdekat memainkan peran penting. Banyak dari pengidap yang tidak ingin memberi kabar pada orang sekitar tentang penyakitnya. Namun ini menjadi dilema bagi pelayanan kesehatan karena dalam proses pengobatan dan menjalani kehidupan pasien harus diketahui riwayat penyakitnya agar mendapatkan penanganan yang tepat.

“Mustahil tidak melibatkan keluarga selama masa pengobatan. Keluarga yang diharapkan sebagai support system harus diberikan informasi yang benar sehingga bisa memperkuat mental atau mendorong pasien untuk menjalani kehidupan dan pengobatan sepanjang hayat, karena ini adalah pengobatan yang masuk dalam kategori long life treatment,” ujar dr. Ihsanil.

Lebih lanjut, dr. Ihsanil menerangkan bahwa keluarga perlu dipersiapkan untuk menerima dan mendampingi anggota keluarganya yang ODA. Tidak hanya ODA yang diberikan bekal dari pelayanan kesehatan tapi keluarga juga perlu mendapatkan pembekalan agar dapat mendampingi ODA dengan tepat.

Selain keluarga, dr. Ihsanil menjelaskan bahwa masyarakat juga perlu dilibatkan sebagaimana program pemerintah dalam mengaktifkan supporting group agar ODA tetap mendapatkan akses untuk pelayanan kesehatan. Oleh karenanya komunitas menjadi kunci agar ODA dapat hidup berkualitas layaknya orang pada umumnya.

 

Penulis : Dinar Meidiana
Editor : Tria Patrianti

Kata Pakar Lainnya

https://simlppm.untan.ac.id/vendor/terbaik-2024/https://lentera.uin-alauddin.ac.id/question/gratis-terlengkap/https://old-elearning.uad.ac.id/gampang-menang/https://fk.ilearn.unand.ac.id/demo/http://ti.lab.gunadarma.ac.id/jobe/system/https://elearning.uika-bogor.ac.id/tanpa-potongan/https://silayar.ut.ac.id/demo/https://besadu.belitung.go.id/css/https://silayar.ut.ac.id/course/terbaik-terpercaya/https://jdih-dprd.sumedangkab.go.id/system/https://alumni.fhukum.unpatti.ac.id/app/https://siswa.dpuair.jatimprov.go.id/tests/demo/