Peringatan World Press Freedom Day di PBB

Oleh :
Asep Setiawan
Asep Setiawan
Dosen Program Studi Magister Ilmu Politik FISIP UMJ Dr. Asep Setiawan saat menghadiri acara World Press Freedom Day di Markas Perserikatan Bangsa Bangsa di New York, Amerika Serikat, Rabu (3/5/2023).

Dosen Program Studi Magister Ilmu Politik Dr. Asep Setiawan hadir dalam acara World Press Freedom Day di Markas Perserikatan Bangsa Bangsa di New York, Amerika Serikat, Selasa (3/5/2023). Dalam acara ini Asep Setiawan hadir sebagai bagian rombongan Dewan Pers.

Hampir seribu orang dari berbagai negara dan lembaga pers, hadir dalam puncak acara peringatan 30 Tahun World Press Freedom Day atau Hari Kemerdekaan Pers Dunia. Sekjen PBB Antonio Guterres menegaskan pers di dunia menghadapi berbagai tantangan yang tidak semakin ringan.

Asep Setiawan bersama Ketua Dewan Pers Ninik Rahayu, Wakil Ketua Dewan Pers Muhammad Agung Dharmajaya, anggota Dewan Pers Totok Suryanto dan Yedi Heriyadi Hendriana serta staf Dewan Pers Irwan. Selain hadir di Ruang Utama Majelis Umum PBB, Asep juga mengikuti diskusi dengan topik Radical Aprroaches to Saving Journalism: A Global Perspective hari Rabu (4/5/2023) juga di New York. Kegiatan yang dihadiri sekitar 80 jurnalis, dosen dan pegiat pers merupakan rangkaian acara peringatan Hari Kemerdekaan Pers Dunia.

Pesan Sekjen PBB

Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Pers Dunia yang ke-30 pada tanggal 3 Mei, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres kembali mengingatkan pemerintah-pemerintah di dunia akan kewajiban mereka untuk menghormati dan menjunjung tinggi hak asasi manusia yang fundamental ini, yang menurutnya, “merupakan fondasi demokrasi dan keadilan”.

Pada hari ini “dunia harus berbicara dengan satu suara – Hentikan ancaman dan serangan. Hentikan penahanan dan pemenjaraan jurnalis karena melakukan pekerjaan mereka. Hentikan kebohongan dan disinformasi. Hentikan penargetan terhadap kebenaran dan penyampai kebenaran,” kata Guterres dalam pesan video yang disiarkan dari markas besar PBB di New York dalam sebuah acara khusus yang diselenggarakan oleh UNESCO.

Sekretaris Jenderal PBB mengingatkan bahwa setidaknya 67 pekerja media terbunuh pada tahun 2022 (meningkat 50 persen dari tahun-tahun sebelumnya). Dia juga mengatakan bahwa semakin terkonsentrasinya industri media ke tangan segelintir orang, dikombinasikan dengan penutupan banyak outlet berita independen dan meningkatnya undang-undang dan peraturan nasional yang membelenggu jurnalis semakin mengancam kebebasan berekspresi di seluruh dunia. Selain itu, “Kebenaran terancam oleh disinformasi dan ujaran kebencian, yang berusaha mengaburkan batas antara fakta dan fiksi, antara ilmu pengetahuan dan konspirasi,” katanya.

Hari Kemerdekaan Pers ditetapkan 30 tahun yang lalu oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya hak asasi manusia yang tercantum dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia tahun 1948. Tema tahun ini adalah “Membentuk Masa Depan Hak Asasi: Kebebasan berekspresi sebagai pendorong untuk semua hak asasi manusia lainnya” yang menandakan bahwa kebebasan berekspresi merupakan elemen penting untuk menikmati dan melindungi semua hak asasi manusia lainnya.

Editor : Tria Patrianti