Ustazah Oki: Muhammadiyah Perlu Perkuat Basis Jamaah Digital

Oleh :
Fazri Maulana
Dr. Oki Setiana Dwi, S.Hum, M.Pd., saat menjadi narasumber Pengkajian Ramadan PP Muhammadiyah
Dr. Oki Setiana Dwi, S.Hum, M.Pd., saat menjadi narasumber Pengkajian Ramadan PP Muhammadiyah di Auditorium KH  Ahmad Azhar Basyir Gedung Cendekia Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Selasa (19/03/2024). (Foto : KSU/M.H Fahmi)

Ustazah Dr. Oki Setiana Dewi, S.Hum, M.Pd., yang juga seorang seniman menilai Muhammadiyah telah terbukti melewati berbagai rintangan dalam menjawab perubahan zaman yang semakin kompleks. Sebagai organisasi Islam, Muhammadiyah beradaptasi untuk memastikan relevansinya dalam memimpin umat Islam menghadapi tantangan zaman.

Baca juga : Ustaz Adi Hidayat: Islam Tidak Anti dengan Seni

Berkaitan dengan pandangan dakwah kultural, Oki mengatakan Muhammadiyah perlu memperkuat basis jamaah digital. Tanpa ada usaha merawat dan membangun jemaah, Islam tidak mungkin akan mengalami pertumbuhan.

“Memahami kultur tidak hanya lewat membaca, tetapi harus turun ke masyarakat. Gerakan dakwah kultural perlu diperkuat, Muhammadiyah perlu menyentuh pada komunitas marginal, virtual, dan digital,” terang Oki saat memberikan materi dalam Pengkajian Ramadan 1445 H PP Muhammadiyah di Universitas Muhamamdiyah Jakarta (UMJ), Selasa (19/03/2023).

Langkah penguatan ini, seiring perubahan zaman yang menempatkan masyarakat pada komunitas digital. Fenomena muncul bahwa generasi saat ini mengenal Islam melalui platform media sosial, bukan melalui ruang-ruang dakwah.

Oki mengatakan Sekolah, Pesantren, Majelis Taklim, hingga Perguruan Tinggi tidak lagi jadi satu-satunya tempat menimba ilmu agama. Platform media sosial saat ini menjadi rujukan utama untuk belajar mengenai Islam.

Melihat hal tersebut, Muhammadiyah perlu mengubah strategi dakwah menggunakan platform digital. Konsep dakwah kultural dilakukan dengan mengemasnya menjadi tontonan yang menarik dan mudah dipahami.

“Kita bisa menyediakan kebutuhan praktis yang dibutuhkan masyarakat muslim di dunia digital. Mulai dari masalah ke islaman sehari-sehari dari bangun tidur sampai bangun lagi,” ungkap Oki.

Selain itu, Muhammadiyah juga penting untuk menyasar para seniman. Pelaku seni memiliki kelebihan untuk mengemas dakwah menjadi jauh lebih mudah dimengerti oleh masyarakat, sehingga dapat memperluas gaung dakwah kultural Muhammadiyah.

“Tidak mudah menyajikan konten agama yang harus bersaing dengan konten non-agama. Semua tidak bisa dilakukan sendiri, perlu adanya kolaborasi,” jelas Oki.

Editor : Dian Fauzalia