Menjadi Muhammadiyah Secara Kaffah Bagi Karyawan Amal Usaha Muhammadiyah

Menjadi Muhammadiyah Secara Kaffah Bagi Karyawan Amal Usaha Muhammadiyah

Diakui atau tidak, bagi kita yang saat ini bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), baik di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA), Rumah Sakit Muhammadiyah, Sekolah Muhammadiyah, dan lain sebagainya, terkadang masuk menjadi Warga Persyarikatan Muhammadiyah disebabkan ikatan kerja. Karena siapapun yang bekerja di AUM, harus memiliki Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (KTAM).

Dengan kata lain, seandainya tidak bekerja di AUM, kemungkinan besar tidak akan menjadi Warga Muhammadiyah. Tentu saja, hal tersebut tidak menjadi masalah ketika menjadi Warga Persyarikatan Muhammadiyah disebabkan dirinya bekerja di AUM, selama dirinya berusaha mau belajar terkait Muhammadiyah secara perlahan-lahan. Hal yang menjadi masalah besar ialah ketika dirinya menjadi Warga Muhammadiyah tanpa mau mempelajari dan mendalami secara detail apa itu Muhammadiyah.

Mempelajari dan Mendalami Muhammadiyah

Bagi Warga Persyarikatan Muhammadiyah yang masuk Muhammadiyah disebabkan bekerja di AUM, ditambah lagi bila dirinya belum pernah mengenyam pendidikan di lembaga pendidikan milik Muhammadiyah, baik di tingkat sekolah ataupun perguruan tinggi, menjadi sebuah kewajiban untuk mempelajari Muhammadiyah secara bersungguh-sungguh.

Karena, bisa dipastikan akan minim informasi terkait Muhammadiyah, baik dari sisi nilai keislaman ataupun nilai-nilai kemuhammadiyahan. Sehingga dengan adanya kesungguhan untuk mendalami terkait Muhammadiyah, dirinya bisa menjadi Warga Muhammadiyah secara kaffah, baik dari sisi ontologis, epistimologis, hingga aksiologis.

Dengan kata lain, menjadi Warga Muhammadiyah secara kaffah bagi karyawan AUM ialah sebuah kesungguhan untuk mendalami Muhammadiyah dengan sebenar-benarnya. Hal tersebut sebagai sebuah harapan agar dirinya kelak akan menjadi Warga Muhammadiyah bukan hanya sekadar memiliki Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah, agar tetap bisa mendapatkan penghidupan dari AUM. Akan tetapi, dirinya memang benar-benar memahami Muhammadiyah secara mendalam.

Pertanyaan mendasar, bagaimana cara mendalami Muhammadiyah bagi karyawan AUM? Menurut hemat penulis, ada tiga cara sederhana yang dapat dilakukan oleh karyawan AUM yang baru menjadi Warga Persyarikatan Muhammadiyah.

Pertama, membaca literatur terkait Muhammadiyah. Banyak literatur yang dapat diakses oleh Warga Persyarikatan Muhammadiyah mulai dari literatur yang bersifat gratis hingga yang berbayar. Misalnya, yang bersifat gratis, biasanya banyak tersedia di perpustakaan PTMA, perpustakaan umum, dan lain sebagainya. Sementara yang berbayar, dapat membeli literatur yang diterbitkan penerbit Suara Muhammadiyah ataupun penerbit lain yang relevan.

Dari literatur tersebut, kita dapat membaca dan memahami Muhammadiyah secara utuh. Karena dari banyak literatur, kita bisa menyusun batu-bata informasi menjadi sebuah informasi utuh terkait Muhammadiyah. Sehingga kita bisa mempelajari, mengetahui, hingga mendalami Muhammadiyah secara komprehensif.      

Kedua, aktif ikut pengajian di AUM. Setiap AUM mulai dari PTMA, Rumah Sakit Muhamadiyah, Sekolah Muhammadiyah, Pesantren Muhammadiyah, dan lain sebagainya, bisa dipastikan ada kegiatan pengajian. Pengajian, ada yang diselenggarakan mingguan, dwi mingguan, dan bulanan. Bagi karyawan AUM bisa ikut terlibat aktif di pengajian tersebut.  

Pengajian yang tersebut, biasanya memang fokus untuk memberikan pemahaman kepada setiap karyawan terkait Muhammadiyah mulai dari sejarah, keberislaman menurut Muhammadiyah, putusan fikih Muhammadiyah, dan lain sebagainya. Dengan dirinya rajin ikut pengajian, akan banyak pengetahuan terkait Muhammadiyah bisa didapatkan.

Ketiga, aktif di Ranting atau Cabang Muhammadiyah. Keaktifan Warga Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting atau Cabang Muhammadiyah menjadi sebuah kewajiban. Karena, dengan aktif di ranting dan cabang—baik sebagai anggota biasa, anggota atau pengurus majelis, dan pimpinan, esensinya menjadi upaya bagi setiap Warga Muhammadiyah untuk mendalami Muhammadiyah secara utuh.

Hal yang harus diketahui bersama bahwa menjadi Warga Persyarikatan Muhammadiyah tidaklah cukup hanya dengan mengetahui Muhammadiyah dari literatur hingga mengendap di pikiran kita masing-masing. Akan tetapi, bagaimana caranya ialah pengetahuan terkait Muhammadiyah mampu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam bentuk aktivitas di ranting atau cabang ataupun dalam kehidupan sehari-hari setiap Warga Muhammadiyah.  

Menggerakkan Cabang dan Ranting

Menggerakkan Cabang dan Ranting Muhammadiyah esensinya ialah mentransformasikan nilai-nilai Kemuhammadiyahan dalam bentuk nyata di kehidupan sehari-hari. Karena, bila kita aktif bekerja di AUM, tentu motivasi utamanya ialah mendapatkan imbalan berupa honorarium. Dengan kata lain, bila tidak bekerja, maka dirinya tidak akan digaji oleh AUM. Artinya, motivasi utama ialah uang.

Sementara itu, keaktifan di Ranting ataupun Cabang Muhammadiyah selepas bekerja di AUM, motivasi yang mendasarinya ialah sebuah pengabdian. Karena, menggerakkan dan menghidupkan cabang dan ranting tidak mendapatkan gaji seperti pengabdian di AUM. Pengabdian yang dilakukan benar-benar tulus untuk mendakwahkan Islam berkemajuan ala Muhammadiyah di tengah-tengah masyarakat.

Dengan demikian, pengabdian kita di Ranting dan Cabang Muhammadiyah, baik posisinya sebagai anggota biasa, anggota atau pengurus majelis, dan pimpinan, akan menjadi salah satu bukti bahwa kita menjadi Warga Persyarikatan bukan semata-mata warga Muhammadiyah yang mencari penghidupan di Muhammadiyah. Akan tetapi, memang didasari motivasi bahwa dirinya hendak berjuang di Muhammadiyah.

Motivasi tersebut membuat dirinya tak pernah mengkotak-kotakkan jenis pekerjaan, apakah yang dikerjakannya pekerjaan di Ranting atau Cabang Muhammadiyah ataupun pekerjaan di AUM. Dirinya akan menganggap bahwa seluruh pekerjaannya ialah pengabdian dirinya di Muhammadiyah, baik saat berada di AUM lebih-lebih pada saat berada di Ranting atau Cabang Muhammadiyah.   

Oleh karena itu, dirinya akan memberikan kinerja terbaik untuk Muhammadiyah—baik kala bekerja untuk AUM ataupun saat mengabdikan diri di Ranting ataupun Cabang Muhammadiyah. Kinerja terbaik yang diberikan kepada Muhammadiyah sebagai upaya untuk mentransformasikan bahwa kita esensinya ialah umat terbaik, seperti yang diungkap oleh Allah Swt di dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran [03]ayat 110, yaitu: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia…”.

Menghidupi AUM dengan Ruh Muhammadiyah

Keaktifan setiap karyawan AUM di Ranting atau Cabang Muhammadiyah esensinya akan membentuk jiwa raga dirinya menjadi Kader Muhammadiyah secara kaffah. Pikiran, tindakan, dan seluruh hidupnya akan benar-benar berisikan nilai-nilai Kemuhammadiyahan yang utuh dan otentik. Hal tersebut—baik langsung ataupun tak langsung akan menjadikan dirinya sebagai manusia unggul di bidangnya masing-masing. Sehingga tugas apapun yang diembankan sebagai karyawan di AUM, akan dijalani dengan output kinerja terbaik dan berkualitas.

Dirinya akan mengerjakan segala bentuk penugasan dengan penuh tanggung jawab dan kualitas kinerja yang unggul tanpa perhitungan. Sehingga apapun pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya akan mampu diselesaikan dengan kualitas kinerja di atas rata-rata. Karena baginya kualitas kinerja menjadi harga diri dan akan dipertanggung jawabkan kelak di akhirat sebagai sebuah amanah yang telah diterimanya.

Hal tersebut bisa terjadi disebabkan nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan telah menyatu dan melebur dalam dirinya. Sehingga seluruh kinerja yang dilakukan muaranya ialah bentuk pengabdian sebagai sebuah umat yang hendak mengajak berbuat pada kebaikan dan mencegah terhadap berbuat kemungkaran, seperti yang tersirat dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran [03] ayat 104. Demikianlah esensinya menjadi Warga Persyarikatan Muhammadiyah secara kaffah bagi karyawan AUM.