Azab Terhadap Kaum Tsamud dan Luth

Oleh :
Nadiva Rahma
Azab Terhadap Kaum Tsamud dan Luth
Ketua LPP-AIK UMJ, Drs. Fakhrurazi, MA.(atas), saat menyampaikan materi Kajian Integrasi Ilmu yang dihadiri oleh karyawan dan tenaga pendidik UMJ, (22/12/2023) di Masjid At-Taqwa UMJ. (Foto : KSU/Nadiva Rahma)

Kajian integrasi ilmu menjadi kegiatan rutin Jum’at yang diikuti oleh karyawan dan tenaga pendidik Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Dalam kesempatan ini, kajian yang dipimpin oleh ketua Lembaga Pengkajian dan Penerapan Al-Islam dan Kemuhammadiyah UMJ (LPP-AIK UMJ), Drs. Fakhrurazi, MA., di Masjid At-Taqwa UMJ, Jumat (15/12/2023), membahas tanda-tanda kekuasaan Allah dan Azab terhadap kaum Tsamud dan Luth yang digambarkan melalui surat Al-Qamar ayat 23-40.

Baca juga : Gambaran Orang Kafir pada Hari Kebangkitan

Diawali ayat 23-32, Fakhrurozi menerangkan, pada ayat ini menggambarkan tentang kaum Tsamud yang mendustakan peringatan nabi mereka yakni nabi Saleh. Pada saat itu nabi telah memperingatkan kaum Tsamud dengan berbagai ayat untuk mengajak mereka beribadah hanya kepada Allah. Namun, kaum Tsamud justru bersikap sombong dan memandang nabi Saleh sebagai pendusta.

Akibat dari kesombongan tersebut, Allah SWT menimpakan azab kepada kaum Tsamud berupa gempa bumi dan petir yang disertai dengan batu-batu besar. Hal tersebut sebagai peringatan dan tanda-tanda kekuasaan Allah.

Sementara pada ayat 33-40 mengisahkan kaum Luth yang juga mendustakan peringatan nabi mereka yakni nabi Nuh. Seblumnya Fakhrurazi menjelaskan bahwa kaum Luth telah mendustakan rasulnya dengan melakukan perbuatan yang tidak disukai oleh Allah SWT yakni mendatangi sesama lawan jenis. Sebagai hukuman atas perbuatan kaum Nabi Nuh tersebut Allah SWT menurunkan azab dengan mendatangkan banjir besar yang menggelamkan kaum nabi Nuh.

Melalui kisah kaum Luth tersebut Fazkhrurazi mengingatkan kepada seluruh peserta kajian agar mendidik anak dengan baik. “Kalau kamu punya anak perempuan didiklah sebagai anak perempuan dan kalau kamu punya anak laki-laki didiklah sebagai anak laki-laki,” Tegas Fakhrurazi.

Terakhir Fakhrurozi menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi umat muslim yang tidak hanya untuk dibaca tetapi juga dipahami. “Kalau Al-Qur’an hanya sebatas dibibir saja tidak berpengaruh kepada perilaku dan amal tetapi Al-Qur’an yang dipahami akan mempengaruhi kepada perilaku,” Pungkas Fakhrurazi.

Editor : Dian Fauzalia