Kepemimpinan Perempuan untuk Pertumbuhan Generasi Unggul

Rektor UMJ, Dr. Ma’mud Murod, M.Si pada Pembukaan DIKSUSWATI I Nasional, Jumat (05/08).
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Kesetaraan gender adalah salah satu Hak Asasi Manusia (HAM). Hak untuk hidup dengan terhormat, bebas dari rasa ketakutan dan bebas menentukan pilihan tidak hanya diperuntukan bagi para laki-laki, perempuanpun memiliki hak yang serupa pada hakikatnya. Namum anggapan bahwa perempuan adalah sosok yang lemah dan hanya sebagai pelengkap kerap ditemukan.

Karena hal tersebut, Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cirendeu (PC IMM Cirendeu) menyelenggarakan DIKSUSWATI I Nasional dengan tema “Manifesto Kepemimpinan Immawati : Mewujudkan Gerakan Perempuan Berkemajuan”, Kamis-Minggu (4-7/8) bertempat di Training Center UMJ. Kegiatan ini dibuka oleh Dewan Perwakilan Daerah (DPD) IMM DKI Jakarta.

Pembukaan kegiatan tersebut dilaksanakan di Auditorium Kasman Singodimedjo FISIP UMJ. Perempuan dalam IMM disebut sebagai Immawati. Peran Immawati untuk menisbahkan diri sehingga terciptanya masyarakat muslim yang sebenar-benarnya memerlukan usaha untuk mengorbitkan Immawati yang tangguh berlandaskan keislaman. Ketua Umum PC. IMM Cirendeu, Dicky Mulya Ramadhani, S.AP., mengatakan dalam upaya pembentukannya peran Immawati maupun Immawan harus linear.

“Ir. Soekarno mengibaratkan burung garuda yang memiliki sayap yang menggelepar. Kedua sisi sayap tersebut, untuk dapat terbang tinggi maka kedua sisi harus diisi oleh perempuan maupun laki-laki, jika tidak ada keduanya tidak dapat terbang tinggi. Hadirnya Immawati harus menegaskan bahwa tugas perempuan bukanlah hanya hal-hal sederhana namun perempuan memiliki perjuangan yang haqiqi,” tegas Dicky.

Rektor UMJ, Dr. Ma’mud Murod, M.Si., dalam sambutannya mengatakan bahwa perempuan adalah makhluk yang sama seperti laki-laki. Ia menerangkan bagaimana pengkajian pemikiran kepemimpin Islam klasik apalagi barat, syarat menjadi pemimpin adalah laki-laki. “Bukan hanya laki-laki, tapi dari suku Quraisy,” jelasnya. Karena pemimpin dulu itu kenapa harus laki-laki karena pemimpin harus terjun ke medan perang. Pemimpin kala itu akan memimpin pasukannya untuk menang dalam berperang. Beliau juga menjelaskan saat ini pemikiran itu sudah kuno. “Kenapa saat ini perempuan bisa memimpin, karena saat ini pemimpin tidak lagi harus terjun ke medan perang,” tegas Ma’mun.

Kepemimpinan terlebih pada kaum perempuan akan mendorong dan mempercepat pertumbuhan generasi yang unggul. Perempuan yang memiliki kelebihan dengan perasaan dan kepekaan jika dibandingan dengan laki-laki seyogyanya berperan aktif dan terlibat secara langsung untuk membuktikan bahwa perempuan bukan hanya pelengkap. (JD)

Berita Terbaru

id Bahasa Indonesia
X