Menjaga Kualitas Mutu Pelayanan Kesehatan, FIK UMJ Selenggarakan Diseminasi Evidence Based Nursing Practice

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, menjaga kualitas mutu pelayanan kesehatan menjadi suatu hal yang sangat penting. Peningkatan kualitas tersebut perlu berjalan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan, sehingga jaminan kualitas pelayanan dapat dipertanggung jawabkan. Tidak hanya itu, Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta (FIK UMJ) menilai bahwa perlunya pencapaian pembelajaran layanan dasar untuk bagaimana memberikan pelayanan yang terbaik dan terdepan sehingga tetap terjaganya mutu sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Hal itu disampaikan oleh Dekan FIK UMJ, Miciko Umeda, S.Kp., M.Biomed dalam webinar nasional yang bertajuk “Diseminasi Evidence Based Nursing Practice” pada Rabu (10/08/2022).

“Keperawatan berkembang sangat luar biasa, dari pendidikan sangat rendah terus berkembang sampai dengan tingkat pendidikan doktor dan spesialisasi. Perkembangan tersebut menuntut mutu pelayanan tatanan rumah sakit atau wahana puskesmas. Untuk itu, diperlukannya ilmu pengetahuan dalam proses menjaga kualitas pelayanan sehingga perlu diadakannya kajian-kajian untuk tatanan rumah sakit maupun wahana puskesmas,” ujar Miciko.

Webinar tersebut diikuti lebih dari 200 peserta dengan menghadirkan keynote speaker, Ninik Yunitri, M.Kep, Sp.Kep.J, Ns, S.Kep yang juga dosen Program Studi Magister Ilmu Keperawatan FIK UMJ.

Tujuan diselenggarakannya webinar yakni meningkatkan mutu pelayanan kesehatan seiring dengan berkembangnya intervensi mandiri perawat untuk mengatasi berbagai permasalahan pasien terus meningkat. Sebagai salah satu profesi kesehatan, perawat dituntut memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan bermanfaat untuk masyarakat baik praktek klinik di rumah sakit maupun di masyarakat, sehingga perawat profesional harus berusaha up to date dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Ninik menyampaikan Evidence Based Practice (EBP) memiliki dampak kepada peningkatan kualitas pelayanan kesehatan seperti; kualitas perawatan yang baik, mengurangi biaya perawatan kesehatan, mengurangi lingkup geografis dalam pemberian perawatan, meningkatkan pemberdayaan klinis, dan memenuhi kepuasan publik mengenai informasi.

Lebih lanjut, Ninik menjelaskan menurut penelitian bahwa 20-30% pasien tidak menerima perawatan sesuai dengan bukti ilmiah. Tidak hanya itu, lebih dari 20% perawatan yang diberikan tidak diperlukan atau berpotensi membahayakan pasien. “Evidence dari riset berdampak ketika diimplementasikan. Jadi kita harus sama-sama mulai menerapkan kepada tatanan pelayanan dan pendidikan. Tujuannya untuk meningkatkan hasil-hasil penyerapan itu (EBP), ditambah dengan pengalaman klinis ke dalam lingkungan klinik sehingga perawat bisa memberikan masukan terbaiknya,” ujar Ninik.

Pada kesempatan yang sama, Miciko menyampaikan harapannya bahwa perlu adanya capaian pembelajaran EBP untuk melihat dasar dalam memberikan pelayanan sehingga mendapatkan mutu yang terbaik. Hal itu juga dapat mengembangkan ilmu pengetahuan di dalam perkembangan pelayananan intervensi kesehatan.
“Perlu adanya capaian pembelajaran yaitu tentang EBP untuk melihat dasar dalam memberikan pelayanan terbaik dan terdepan, sehingga mendapatkan hal yang sangat baik dan bermutu. Tetapi, bisa juga mengembangkan ilmu pengetahuan,” tutup Miciko. (FZ/KSU)