Hari Komunikasi Internasional: Peluang dan Tantangan AI

Hari Komunikasi Internasional: Peluang dan Tantangan AI amin shabana

Kecerdasan Buatan dan Kebijaksanaan Hati: Menuju Komunikasi seutuhnya menjadi tema Hari Komunikasi Internasional yang diperingati setiap tanggal 17 Mei.

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) adalah bidang ilmu yang berkembang sangat cepat akibat disrupsi teknologi yang mengubah banyak aspek kehidupan modern.

AI dapat membantu manusia dalam berbagai bidang, mulai dari industri, kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan lainnya. Namun, pemanfaatan AI juga menimbulkan berbagai tantangan seperti keamanan, privasi, sosial, dan ekonomi.

Dalam memperingati hari komunikasi internasional, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (FISIP UMJ) sekaligus anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Amin Shabana, S.Sos, M.Si., secara khusus membahas peluang dan tantangan kehadiran AI.

Amin mengatakan kehadiran AI dianalogikan bagaikan dua sisi mata uang. Pada satu sisi, AI dapat dipandang sebagai kekuatan transformatif yang bermakna positif. Teknologi AI mampu berpotensi memberi keuntungan dan produktifitas. Namun sisi lain, penyalahgunaan AI dapat menimbulkan ancaman bagi penggunanya.

“Masyarakat harus lebih bijaksana dalam memanfaatkan teknologi. Kita perlu melindungi penggunanya. Sosialisasi harus ditingkatkan, maka itu akan sesuai dengan makna tema kali ini,” ungkap Amin.

Kehadiran AI di tengah aktivitas berbagai profesi memperlihatkan adanya kemudahan yang disuguhkan oleh teknologi. Dalam kegiatan industri komunikasi, berbagai perusahaan seluruh dunia sudah menggunakan AI. Berkaitan dengan penggunaan AI dalam public relations, periklanan, hingga penyiaran.

Amin melihat bahwa AI juga dapat digunakan untuk memfasilitasi pembuatan sebuah public relations campaign yang tidak lagi menggunakan cara-cara konvensional. Kemudian, pembuatan konten-konten iklan dan penyiaran digital dapat diproduksi secara cepat dan mudah. Ketiga hal itu menggunakan bantuan kemampuan AI.

“Di era disrupsi 4.0 dan 5.0 ini, kita harus bisa memanfaatkan AI sesuai dengan kebutuhan industrinya. Hal ini menuntut sumber daya manusia memiliki keahlian dalam menggunakan AI. Tentunya, manusia yang andal adalah yang dapat memanfaatkannya,” tutur Amin.

Ketika dihadapkan dengan pesatnya pertumbuhan teknologi AI. Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri memunculkan kekhawatiran semua pekerjaan akan digantikan oleh mesin. Namun, Amin mengatakan bahwa hal itu tidak akan terjadi karena AI tetap bergantung kepada human centre atau peran manusia.

AI tidak memiliki kemampuan untuk berpikir menghasilkan ide-ide kreatif untuk inovasi, AI tidak dapat mengambil alih manusia di ruang tersebut. “AI itu hanya alat tetap harus dibutuhkan manusia-manusia kreatif yang bisa memanfaatkan itu. Kita pahami bahwa manusialah pusat disrupsi” ungkap Amin

Amin menjelaskan bahwa banyak terjadinya penyalahgunaan AI menjadi tantangan seperti ancaman keamanan data, peretasan, pencurian, atau penyalahgunaan data.

Sebab, potensi pelanggaran penyalahgunaan data sangat besar. Oleh karena itu, ia menekankan privasi pengguna AI, baik individu maupun kelompok dalam setiap sektor harus dilindungi.

Dalam momentum hari komunikasi internasional, Amin menekankan untuk membangun kesiapan ekosistem pengembangan AI. Selain itu, edukasi dan sosialisasi diperlukan untuk meningkatkan kapasitas penggunanya.

Hal itu diperkuat dengan pembuatan regulasi yang dapat melindungi masyarakat, pelaku industri, hingga pemangku kepentingan. “Sehingga kita bisa melihat pemanfaatan AI dengan baik. Ketika ekosistem itu terpenuhi dari hulu sampai hilir maka kita bisa mengontrol teknologi, bukan sebaliknya,” tambah Amin.

Penulis : Fazri Maulana
Editor: Dinar Meidiana