Pada artikel 22 Kader Muhammadiyah Bergelar Pahlawan Nasional Bagian 1, kita sudah dapat melihat sedikit profil dan jasa kader Muhammadiyah dalam memperjuangkan kemajuan bangsa Indonesia di berbagai bidang.
Mari kita mengenal kader Muhammadiyah lainnya yang bergelar Pahlawan Nasional. Dilansir dari suaramuhammadiyah.id, terdapat 22 kader Muhammadiyah yang menerima gelar pahlawan nasional.
7. Jenderal Sudirman
Jenderal Sudirman adalah kader sejati Muhammadiyah yang digembleng di gerakan kepanduan Hizbul Wathan. Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia pertama ini adalah panglima perang yang sulit diajak kompromi.
Ia juga seorang guru dan Kepala Sekolah Hollandsch-Inlansche School (HIS) Muhammadiyah Cilacap. Selain itu Jenderal Sudirman merupakan Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Karesidenan Banyumas.
Pada Agresi Militer II yang dilakukan Belanda untuk menduduki Yogyakarta, Jenderal Sudirman bersama sekelompok kecil tentara memulai perlawanan gerilya.
Mereka memilih keluar kota menuju Selatan untuk memulai gerilya. Pada saat yang sama para pemimpin politik nasional berlindung di Kraton Kasultanan Yogyakarta. Gerakan perlawanan itu sangat bersejarah dan tercatat dalam masa perang pasca Proklamasi 1945.
Kader Pandu HW ini dikukuhkan sebagai pahlawan Nasional melalui SK nomor 314 Tahun 1964 bertangga 10 November 1964.
8. Siti Walidah
Siti Walidah, pendiri dan perintis Aisyiyah ini adalah istri dari KH Ahmad Dahlan. Aisyiyah menjadi organisasi perempuan Islam berkemajuan yang aktif dalam aneka program pembebasan kaum perempuan dari belenggu kebodohan akibat ketidaksetaraan gender.
Tokoh kelahiran Kauman Yogyakarta tahun 1872 ini adalah pemrakarsa perkumpulan Sopo Tresno yang berdiri pada 1914, sebagai cikal bakal Aisyiyah. Dalam merintis Sopo Tresno, Walidah mementingkan tiga bidang yaitu dakwah, pendidikan, dan sosial.
Hingga sekarang, Aisyiyah terus berkembang dengan berbagai aksi sosial melalui badan dan lembaga sosial. Dalam bidang pendidikan, Aisyiyah memiliki beberapa perguruan tinggi.
Siti Walidah menginspirasi dan menyadarkan kaum perempuan agar terus menuntut ilmu dan berbuat lebih banyak untuk sesama. Ia menunjukkan kodrat perempuan yang tidak jadi penghalang untuk berbakti kepada sesama.
Walidah kerap memberikan cerama di berbagai daerah bahkan jauh dari kediamannya di Yogyakarta.
Kodrat diri sebagai perempuan tidak boleh menjadi penghalang untuk berbakti kepada sesama. Siti Walidah biasa memberikan ceramah ke berbagai daerah yang jauh dari kediamannya di Yogyakarta.
Siti Walidah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui SK nomor 042/TK/1971 pada 22 September 1971.
9. Otto Iskandardinata
Anggota BPUPKI dan Sekretaris PPKI ini adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia tercatat pernah menjadi Menteri Negara yang membantu membentuk BKR (Badan Keamanan Rakyat).
Saat menjadi Anggota Volksraad pada 1930, ia mendapat julukan sebagai “Sijalak Harupat” karena keberaniannya. Otto Iskandar yang mengusulkan agar Soekarno dan Hatta menjadi Presiden dan Wakil Presiden dalam sidang 18 Agustus 1945.
Jagoan dari Bojongsoang Bandung yang juga Guru HIS Muhammadiyah Jakarta ini dikukuhkan sebagai pahlawan nasional melalui SK nomor 088/TK/1973 pada 6 November 1973.
10. Soekarno
Bapak Proklamator Republik Indonesia ini merupakan Ketua Bagian Pengajaran Muhammadiyah Bengkulu sekaligus guru Sekolah Muhammadiyah di sana. Soekarno juga memberikan pembekalan kepada warga Muhammadiyah di Bengkulu dalam menghadapi serangan udara Jepang.
Soekarno ditetapkan sebagai pahlawan nasional melalui SK tanggal; 23 Oktober 1981 bernomor 081/TK/1986.
11. Adam Malik
Adam Malik mengawali karier perjuangan sebagai Anggota Kepanduan Hizbul Wathan di Pematang Siantar. Pada 13 Desember 1937, ia bersama Pandu Kartawiguna mendirikan Lembaga Kantor Berita “Antara”.
Pada 1962, nama Adam Malik mendapat sorotan karena peran menonjolnya dalam proses perundingan Indonesia-Belanda mengenai Irian Barat. Ia juga pernah menjadi Ketua Sidang Umum PBB Ke-26 tahun 1971-1972.
Ia dikenal sebagai sosok yang membawa gagasan politik luar negeri bebas aktif saat menjadi Menteri Luar Negeri. Putra asal Pematang Siantar ini dikukuhkan sebagai pahlawan nasional melalui SK nomor 107/TK/1998 tanggal 6 November 1998.
12. Fatmawati
Fatmawati adalah aktivis Nasyiyatul Aisyiyah dan dikenal sebagai penjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih yang dikibarkan pada 17 Agustus 1945. Konon katanya, ia menyenandugkan lagu-lagu Aisyiyah saat menjahit bendera Merah Putri.
Fatmawati juga dikenang sebagai qoriah yang biasa melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an saat peringatan hari besar Islam di Istana. Ia adalah totok yang sangat gigih memperjuangkan pengembalian dokumen, barang, dan arsip pemerintah RI yang dirampas Belanda antara tahun 1945-1950.
Putri Sekretaris Muhammadiyah Bengkulu, Hassan Din, ini dikukuhkan sebagai pahlawan nasional dengan SK Nomor 118/TK/2000 pada 4 November 2000.
13. Nani Wartabone
Nani Wartabone memulai perjuangan pada 1923 melalui Jong Gorontalo. Ia mendirikan organisasi itu di Surabaya dan menjadi Sekretaris. Pada Juli 1931, saat memimpin rapat PNI, Nani melawan pihak kolonial yang ingin membubarkan rapat tersebut dengan mendemontrasikan lagu “Indonesia Raya”.
Pada 1941 ia membentuk organisasi rahasia Komite 12 untuk menghadapi perang Pasifik. Kemudian pada 1943, ia dituduh menyiapkan pemberontakan dan ditangkap. Setelah PM Tojo jatuh, ia dibebaskan.
Nani Wartanobe memiliki banyak gebrakan. Pada 16 Agustus setelah Jepang menyerahkan pemerintahan kepadanya, Nani mengadaka kenaikan kembali “Sang Saka Merah Putih”.
Kemudian ia berhasil menguasai Telekomunikasi Radio Jepang, dan membentuk Dewan Nasional pada 28 Agustus 1945. Beberapa tahun setelahnya, yaitu pada 1958, Nani memimpin penumpasan terhadap pemberontak Permesta di Gorontalo.
Nani bersama Imam A Nadjmuddin merintis Grup Muhammadiyah Suwawa. Ia tercatat pernah menjadi Kepala Pemerintahan di Gorontalo, Kepala pemerintahan di Gorontalo, Kepala Daerah Sulawesi Utara, Anggota MPRS, Anggota DPRGR, Anggota Dewan Perancang Nasional, dan Anggota DPA.
Nani Wartabone ini dikukuhkan sebagai pahlawan nasional melalui SK 085/TK/2003 bertanggal 6 November 2003.
14. Gatot Mangkupraja
Gatot Mangkupraja tidak dapat dipisahkan dari sejarah pembentukan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA). Ia juga tercatat sebagai anggota Laskar Hizbullah.
Ia bersama Natsir, Muhammad Hatta, Ahmad Soebardjo, dan semaun juga pernah mengikuti Kongres Liga Penentang Imperialisme dan Penindasan Kolonialisme yang diselenggarakan di Brussel, Belgia.
Pada masa pergelokan Gatot Mangkupraja ditangkap dan adili oleh pemerintah Kolonial Belanda bersama Soekarno, Maskoen Soemadiredja, dan Soepriadinata yang kemudian terkenal dengan peristiwa Indonesia menggugat.
Gatot adalah putra dari dokter pertama di Sumedang yaotu Saleh Makupraja yang pernah menjadi pimpinan Muhammadiyah Cianjur. Ia mendapat gelar Pahlawan Nasional melalui SK 089/TK/2004 pada 5 November 2004.
Penulis : Dinar Meidiana
Editor : Dian Fauzalia