MIKOM FISIP UMJ dan Divisi Humas POLRI Perkuat Nilai AIK melalui Kuliah Umum

Oleh :
Taslim Septia
Rektor UMJ Prof. Ma'mun Murod,M.Si (Tengah), Dekan FISIP UMJ, Prof. Evi Satispi (tiga dari kiri), Kaprodi MIKOM FISIP UMJ, Dr. Tria Patrianti (dua dari kiri) bersama mahasiswa MIKOM UMJ usai kuliah umum di ruang mini teater Divisi Humas Polri Pada Rabu (09/07/2025). (Dok : KSU/Taslim Septia Prima)
Rektor UMJ Prof. Ma’mun Murod,M.Si (Tengah), Dekan FISIP UMJ, Prof. Evi Satispi (tiga dari kiri), Kaprodi MIKOM FISIP UMJ, Dr. Tria Patrianti (dua dari kiri) bersama mahasiswa MIKOM UMJ usai kuliah umum di ruang mini teater Divisi Humas Polri Pada Rabu (09/07/2025). (Dok : KSU/Taslim Septia Prima)

Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (MIKOM FISIP) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menjalin kemitraan strategis dengan Divisi Humas POLRI melalui penyelenggaraan kuliah umum bertema Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, pada Rabu (09/07/2025) di Ruang Satya Prabu Mabes POLRI.

Baca juga: POLRI dan UMJ Ajak Mahasiswa untuk Tidak Terjerat Pinjol Ilegal

Hadir sebagai pembicara Rektor UMJ, Prof. Dr. Ma’mun Murod Al-Barbasy, S.Sos., M.Si., didampingi oleh Dekan FISIP Dr. Evi Satispi, S.P., M.Si dan Ketua Program Studi MIKOM FISIP Dr. Tria Patrianti, M.I.Kom.

Dalam paparannya Ma’mun membahas mengenai pentingnya memahami akar sejarah Islam dan Muhammadiyah secara utuh, terutama dalam konteks nasional.

Ma’mun menekankan bahwa penggunaan akal merupakan karunia terbesar dalam Islam.

“Akal, jika digunakan sesuai fitrah, akan sejalan dengan kebaikan dan kemanusiaan. Tapi jika tidak waras, justru bisa menjerumuskan manusia pada keburukan,” ujarnya.

Ia juga menyinggung kontribusi besar para imam besar dunia dalam membentuk peradaban Islam yang rasional dan inklusif.

Prof. Dr. Ma’mun Murod Al-Barbasy, S.Sos., M.Si. sedang memberikan kuliah umum Al Islam dan Kemuhammadiyahan Pada Rabu (09/07/2025) di Ruang Satya Haprabu, Mabes Polri (Dok: KSU/Taslim Septia Prima)

Dalam kesempatan tersebut, Ma’mun juga meluruskan sejumlah kesalahpahaman publik terhadap Muhammadiyah. Ia menyatakan bahwa Muhammadiyah bukanlah organisasi yang anti budaya.

“Kalau orang memahami Muhammadiyah dengan baik, justru akan tahu bahwa Muhammadiyah tidak menolak budaya. Kita mengkritisi budaya, bukan menolaknya mentah-mentah,” katanya.

Ia mencontohkan, tanpa peran Muhammadiyah, kemajuan Indonesia di sektor pendidikan tidak akan seperti saat ini.

“Ahmad Dahlan adalah mujahid atau pembaru yang lahir setiap seratus tahun. Dan kini, lebih dari 200 kampus Muhammadiyah tersebar di seluruh Indonesia,” jelasnya.

Kiprah Muhammadiyah tidak hanya dalam bidang pendidikan, tetapi juga telah memberikan kontribusi nyata dalam proses kemerdekaan bangsa.

Ma’mun juga memberikan pandangan terkait pendekatan beragama masyarakat Indonesia yang dinilainya masih bersifat ritualistik.

“Kita ini sering terjebak pada obsesi mengumpulkan pahala semata, padahal esensi agama adalah membawa maslahat,” tuturnya.

Dalam sesi dialog, ia menyampaikan Tipologi Internal Muhammadiyah yang unik namun menggambarkan keragaman watak anggotanya, antara lain: Mukhlas (Muhammadiyah ikhlas), Muad (Muhammadiyah Ahmad Dahlan – fleksibel dan moderat), Munu (Muhammadiyah NU), Krismuha (Kristen Muhammadiyah), dan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah sebagai organisasi modernis memiliki kecenderungan yang inklusif dan heterogen, dengan anggota dari latar belakang yang beragam.

Menurutnya, hal itu menjadi kekuatan Muhammadiyah dalam menjawab tantangan zaman. “Muhammadiyah tidak semata berbicara soal keislaman, tapi lebih dari itu yaitu tentang maslahat. Itu yang membedakannya,” ucap Mamun.

Editor : Dian Fauzalia