Damai Indonesiaku Spesial Ramadan 1446 H tvOne hadir di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Acara yang berlangsung selama dua hari 10-11 Maret 2025 ini mengangkat tema “Ramadan Momen Membentuk Karakter Anak” dan “Tanda Ibadah Ramadan Tak Bernilai Ibadah”. Acara ini menghadirkan penceramah dan tokoh nasional.
Baca juga: UMJ dan Kemendikdasmen Bahas Pendidikan Karakter di Program Damai Indonesiaku TvOne
Hari kedua agenda Damai Indonesiaku Spesial Ramadan mengangkat tema “Tanda Ibadah Ramadan Tak Bernilai Ibadah” menghadirkan penceramah Habib Muhammad Syahab dan Ustadz Ridho Febri.
Dalam ceramahnya, Habib Muhammad Syahab menyampaikan bahwasannya tanda ramadan yang diterima melibatkan iman, amal saleh, dan mengikuti ajaran Nabi.
“Puasa tidak hanya sekedar menahan lapar, tetapi juga harus disertai dengan iman dan takwa, perilaku baik. Penting untuk introspeksi diri dan memperbaiki sikap agar ibadah kita bermakna dan diterima oleh Allah,”ujar Syahab.
“Imam Ghazali menyatakan bahwa makna puasa pada orang awam hanya menahan lapar dan haus dari waktu subuh sampai maghrib, padahal makna puasa bukan hanya itu, namun terdapat nilai yang lebih besar, yaitu harus ada iman yang kuat didalam menjalani ibadah puasa,” jelas Syahab.
Menurutnya, Iman yang kuat adalah syarat pertama agar puasa diterima oleh Allah. Ketaatan dan keyakinan terhadap Allah sangat penting dalam menjalankan ibadah puasa. Pasalnya, banyak orang yang ketika menjalankan ibadah puasa namun tanpa sadar masih ikut ghibah dan melakukan maksiat.
Amal saleh yang dilakukan selama bulan Ramadan juga berperan penting demi menjaga kualitas iman dan takwa. Kewajiban menunaikan zakat, melaksanakan salat tarawih dan salat lail sudah sepatutnya dilakukan secara istiqomah untuk mendapatkan nilai sempurna dari ibadah puasa itu sendiri.
Syahab menegaskan, puasa memiliki syarat yang penting agar ibadah kita diterima oleh Allah. Selain beriman yang kuat, melakukan amalan-amalan sholeh seperti ibadah wajib dan sunnah, bayar zakat, penting untuk mencontoh perilaku Rasulullah Muhammad dalam memaknai bulan ramadan adalah dua dari syarat penting tersebut.
Lebih jauh, ia berpesan dan mengingatkan bahwa bulan suci ramadan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan dan momentum yang baik untuk memperbaiki diri. Kita dihimbau untuk menjadikan ramadan sebagai ladang ibadah serta memohon maghfirah atas dosa yang pernah kita lalui.
Disisi lain, Ustad Ridho Febri menyampaikan bahwa puasa adalah kewajiban bagi orang-orang yang beriman untuk mencapai derajat takwa sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Al Baqarah ayat 183 “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.
Allah menjadikan puasa sebagai barometer untuk diri agar meraih nilai takwa, pasalnya saat puasa kita juga menahan hawa nafsu agar tidak membicarakan keburukan orang lain.
“Dengan berpuasa, menjadi perisai bagi kita, sebab kita belajar untuk mengendalikan hawa nafsu dan tidak membicarakan keburukan orang lain. Karena puasa itu akan membentuk diri kita menjadi hamba yang bertakwa” tuturnya.
Definisi takwa mencakup menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangannya. Puasa berfungsi sebagai sarana untuk membentuk diri menjadi hamba yang bertakwa.
Ridho menyebut bahwa ramadan memiliki keutamaan seperti membuka pintu surga, menutup pintu neraka, dan membelenggu setan. “Ini memberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan iman” ucapnya.
“orang yang bertakwa itu senang introspeksi diri, muhasabat diri, dan bertaubat kepada Allah SWT, oleh sebab itu, Allah sediakan surga yang luasnya seluas langit dan bumi” ujarnya.
Senada dengan Habib Muhammad Syahab, Ridho menguatkan momentum Ramadan adalah kesempatan besar untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan. Dalam bulan ini, kita diharapkan untuk menahan hawa nafsu dan memperbaiki sikap kita.
Secara kongkrit, ibadah puasa, iman dan takwa adalah yang saling keterkaitan, dimana saat berpuasa, umat muslim wajib menjaga kualitas iman dan takwanya, sehingga ia mampu menahan segala godaan hawa nafsu yang menghampirinya, baik dari tindakan, prasangka buruk, maupun ucapan.
“Sikap, ucapan, perilaku yang tidak baik, harus kita hindari, sehingga nilai puasa di bulan ramadan ini dapat diterima oleh Allah SWT. Semoga Allah menjadikan ramadan ini menjadi ramadan terbaik dalam kehidupan kita, barakallahufikum” tutupnya.
Rangkaian acara yang dimulai sejak siang hingga sore menjelang buka puasa ini selain kajian keagamaan, juga terdapat Bazar Ramadan, Tari Daerah, Musik Religi hingga Buka Puasa Bersama.
Hadir dalam kesempatan ini, Wakil Rektor IV Dr. Septa Candra, M.H., Ketua LPP AIK, Drs. Fakhrurozi Reno Sutan, M.A., serta bapak ibu pegawai dan dosen dan warga sekitar dilingkungan kampus UMJ.
Editor : Sofia Hasna