Bangsa ini hanya akan maju bila rakyatnya sehat karena kesehatan bukan sekadar kondisi tubuh, melainkan landasan produktivitas, kebersamaan, dan keberlanjutan. Studi menunjukkan bahwa status kesehatan fisik dan mental memiliki korelasi kuat dengan produktivitas tenaga kerja serta kualitas sumber daya manusia secara keseluruhan.
Indonesia kini tengah bergerak ke arah yang lebih baik. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi stunting nasional menurun menjadi 19,8%, lebih rendah dari target 20,1%. Angka ini menandai keberhasilan program intervensi gizi dan kesehatan yang melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah, tenaga medis, hingga kader posyandu.
Capaian tersebut membuktikan bahwa upaya kolaboratif dalam bidang kesehatan mampu menghasilkan kemajuan nyata. Namun, pekerjaan belum selesai. Tantangan gizi, penyakit menular, dan penyakit tidak menular masih menghantui. Dari titik inilah kesehatan menjadi fondasi persatuan karena tanpa rakyat yang sehat, visi Indonesia Maju 2045 akan sulit terwujud.
Indonesia Maju Dimulai Dari Kesehatan Bersama
Kehidupan sehat dimulai dari bawah, dari posyandu di desa hingga rumah sakit di kota. Posyandu bukan hanya tempat timbang berat badan balita, tetapi juga pusat belajar, praktikum gizi, dan solidaritas antar warga. Lewat program imunisasi, pemberian makanan tambahan, dan edukasi kesehatan ibu-anak, posyandu menjadi simbol gotong royong dalam menjaga kesehatan bersama.
Data Kementerian Kesehatan mencatat bahwa pada 2023 lebih dari 300 ribu posyandu telah menerima distribusi alat antropometri, sementara ribuan kader dilatih untuk deteksi dini risiko stunting. Artinya, posyandu adalah tulang punggung kesehatan masyarakat, terutama di daerah terpencil.
Di tingkat nasional, gotong royong diwujudkan melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Hingga akhir 2023, cakupan JKN sudah mencapai 95% penduduk Indonesia atau sekitar 260 juta jiwa. Skema ini berhasil menekan beban biaya kesehatan langsung (out-of-pocket) menjadi 27,5% dari total pengeluaran Kesehatan.
Sekaligus menurunkan risiko kebangkrutan akibat biaya medis dari 4,5% pada 2017 menjadi hanya 2% pada 2021. Angka-angka ini menunjukkan bahwa solidaritas dalam kesehatan benar-benar melindungi rakyat.
Mahasiswa Kesmas Garda Edukasi dan Perjuangan Baru
Dari struktur besar tersebut, ada satu elemen yang sering luput dibicarakan mahasiswa kesehatan masyarakat. Mereka bukan hanya calon tenaga profesional, tetapi juga agen perubahan yang aktif di lapangan.
Ratusan kegiatan pengabdian masyarakat dijalankan setiap tahun mulai dari edukasi gizi di desa, kampanye Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), hingga advokasi sanitasi lingkungan. Peran mereka semakin vital karena mampu menjembatani ilmu akademik dengan kebutuhan masyarakat secara langsung.
Jika kader posyandu adalah motor kesehatan di akar rumput, maka mahasiswa kesmas adalah akselerator yang membawa inovasi. Mereka hadir sebagai Edukator untuk menyebarkan pengetahuan tentang gizi seimbang, kesehatan reproduksi, hingga pencegahan menular & penyakit tidak menular.
Bisa juga menjadi Inovator guna menciptakan media edukasi digital, aplikasi kesehatan, hingga metode komunikasi kreatif untuk generasi muda. Bahkan Advokasi untuk menyuarakan kebijakan berbasis bukti yang kuat, agar layanan kesehatan lebih merata.
Merawat Semangat Kebersamaan Dalam Perbedaan
Dalam konteks kemerdekaan, mahasiswa kesmas adalah pejuang era baru. Jika dulu kemerdekaan berarti terbebas dari penjajahan fisik, kini perjuangan adalah membebaskan rakyat dari stunting, gizi buruk, ketidakadilan akses kesehatan, dan ancaman penyakit tidak menular.
Kesehatan secara bersama adalah fondasi persatuan dan kemajuan bangsa. Saat anak-anak tumbuh tanpa stunting, keluarga terbebas dari beban medis yang berat, dan hak atas layanan kesehatan terpenuhi, itu bukan kebetulan, melainkan hasil kebersamaan.
Dari sinilah makna “Bersatu untuk Indonesia Maju” menemukan bentuk konkretnya ketika semua elemen pemerintah, tenaga medis, kader posyandu, mahasiswa, hingga Masyarakat berjalan dalam satu barisan.
Kesehatan bukan tanggung jawab satu pihak, melainkan hasil gotong royong nasional. Dari posyandu di desa, mahasiswa kesmas yang turun mengabdi, hingga kebijakan JKN di tingkat nasional semua adalah simpul-simpul yang mengikat persatuan bangsa.
Seperti pejuang kemerdekaan yang bersatu melawan penjajahan, kini perjuangan kita adalah bersatu melawan penyakit, stunting, ketidakadilan layanan, dan ketimpangan kesehatan. Sehat bersama berarti rakyat tetap produktif. Produktif bersama berarti bangsa terus maju.
Dan kemajuan itu hanya mungkin jika kita Bersatu bersama menjaga, bersama berupaya, bersama memajukan bangsa.