TLN Ahmad Malik Syah dan Bekalnya

Wawancara eksklusif bersama Direktur Utama PT Kereta Api Logistik

Alumni Fakultas Ekonomi 1989

Usia Universitas Muhammadiyah Jakarta pada tahun ini (2022) menginjak 67 tahun. Selama itulah UMJ telah melahirkan banyak alumni, yang jumlahnya kemungkinan mencapai ratus ribuan. Pada Rabu (06/07/2022), penulis berkesempatan menemui satu dari banyaknya alumni UMJ yang kini duduk sebagai Direktur Utama PT Kereta Api Logistik, TLN Ahmad Malik Syah. Perjalanan Malik, sapaan akrabnya, hingga pada posisi sekarang tidak luput dari pengalaman baik selama menempuh studi di UMJ, studi pasca sarjna, maupun pengalaman karir.

Siang itu gerimis cukup membasahi area Gondangdia, Jakarta Pusat, Kantor PT Kalog bertempat. Namun suasana terasa hangat dengan penyambutan yang dilakukan oleh Pak Malik pada penulis dan tim. Senyum ramah dan suara yang rendah mengawali pertemuan kami di ruangan lantai 1 Kantor PT Kalog. Ia lalu duduk dengan posisi yang sangat nyaman. Berhadapan dengan penulis yang pada saat itu melakukan wawancara. Perbincangan kami dimulai dari rasa penasaran penulis terhadap kepanjangan dari nama depan Malik. Tidak berhasil menemukan misteri kepanjangan nama TLN di mesin pencari, maka bertanya langsung pada yang punya nama adalah keputusan tepat. Ketika ditanya perihal nama depan, Malik menjawab dengan humor ala bapak-bapak yang renyah dan berhasil memecah gelak tawa. Berkat guyon yang dilemparkan Malik pada awal perbincangan, kehangatan semakin terasa.

TLN itu bukan Tukang Listrik Negara ya.

Gelak tawa pecah seketika.

Jadi T nya itu Teuku, L nya Lebeuh, N nya Nyak. Teuku Lebeuh Nyak.

Sebagai orang berdarah Aceh, nama tersebut disandangnya sejak lahir, nama pemberian orang tua yang asli Aceh. Namun Malik mengaku bahwa ia lahir dan besar di Jakarta. Pria kelahiran 06 Februari 1972 ini memiliki ayah yang berprofesi sebagai dosen di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta, menumbuhkan kepercayaan pada diri Malik untuk melanjutkan studi di UMJ, Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi (saat ini Fakultas Ekonomi dan Bisnis) pada 1989.

Kehidupan Malik pada masa menjadi mahasiswa tidak hanya dipenuhi dengan aktivitas perkuliahan di kelas saja, tapi juga dipenuhi dengan aktivitas organisasi kemahasiswaan. Menurutnya, kegiatan luar kelas sangat penting selain memberikan pengalaman, aktivitas luar kelas juga memberikan akses informasi dan relasi, baik di dalam maupun luar kampus. Semasa kuliah, pria yang hobi gowes sepeda dan tur motor ini menjadi bagian dari Senat Fakultas Ekonomi (saat ini dikenal dengan nama Badan Eksekutif Mahasiswa), Bidang Pendidikan.

Kegiatan yang digawanginya melalui Bidang Pendidikan Senat Mahasiswa pada 1991 membawa UMJ lebih dikenal oleh orang banyak, termasuk Menteri Tenaga Kerja RI. Bahkan UMJ yang pada saat itu dipimpin oleh Ruslan Saleh, berelasi dengan Cosmas Batubara, Menteri Tenaga Kerja, melakukan penandatanganan MoU (Memorandum of Understanding). Melalui kesepakatan tersebut, calon lulusan UMJ diberikan pelatihan selama 3 bulan di Balai Latihan Kerja.

Memang ada beberapa kegiatan Bidang Pendidikan, baik seminar internal sampai antardesa. Kami pernah mengadakan seminar nasional di tahun 1991, Profesionalisme Indonesia Ketenaga Kerjaan 1991. Menteri Tenaga Kerja pada saat itu menjanjikan bahwa setiap calon lulusan UMJ diberikan kesempatan untuk ikut pelatihan di Balai Latihan Tenaga Kerja, dilatih selama tiga bulan. Itu gratis.

Berorganisasi ternyata menjadi bekal yang sangat bermanfaat bagi karir seorang TLN Ahmad Malik Syah. Banyak pelajaran dan pengalaman yang ia dapat selama aktif di lembaga Senat Mahasiswa. Selain silaturahmi, organisasi juga memberikan pelajaran dari segi praksis bagi Malik. Hal tersebut dirasakan oleh Malik ketika memasuki dunia kerja.

Jadi kita kalau dikasih tugas di kantor, kita bisa lebih cepat reaksi tanggapnya. Artinya, pada saat pimpinan, relasi kerja, memberikan kita suatu rencana kerja sama, kita bisa melakukan planning dan eksekusi dengan cepat.

Dua prinsip yang dimiliki oleh Malik dalam berkegiatan selama kuliah adalah bertambahnya wawasan dan panjangnya silaturahim. Lagi-lagi, Malik menekankan pentingnya silaturahim yang menurutnya bermanfaat untuk mahasiswa.

Semakin banyak kegiatan, semakin banyak teman.

Malik mengaku memang senang berkegiatan dan berkumpul, menurutnya dengan berkumpul maka bisa menciptakan suatu gerakan dan aksi positif seperti yang ia lakukan ketika bergabung di Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi. Setelah menyelesaikan pendidikan S1 dan mendapat gelar Sarjana Ekonomi pada 1989, Malik kemudian mulai mencoba bekerja selama satu tahun di sebuah perusahaan swasta, kemudian melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat. Namun takdir berkata lain, setelah satu tahun di Amerika dan baru sempat mendalami Bahasa Inggris, Malik terpaksa menghentikan langkahnya dan kembali ke Indonesia karena satu permasalahan.

Kepulangannya ke Indonesia tidak menjadi akhir dari perjalanan karir dan pendidikan Malik. Pada 1997 ia kembali mencoba melanjutkan pendidikan Magister Manajemen di Universitas Gadjah Mada. Pendidikan magister ditempuh Malik selama 16 bulan, dan selama satu tahun kuliah dan tinggal di Yogyakarta, Malik sempat bekerja di sebuah tabloid swasta mitra Departemen Pertanian. Setelah selesai mengenyam pendidikan magister manajemen, Malik mengikuti penerimaan karyawan di Badan Pemeriksa Keuangan dan PT Kereta Api Indonesia.

Dua-duanya diterima, tapi saya memilih PT Kereta Api, karena PT Kereta Api menerima ijazah S2.

Sebelum akhirnya duduk sebagai Direktur Utama PT Kalog, Malik yang mulai bergabung di PT KAI sejak tahun 2000 ini telah berkeliling terlebih dahulu dari satu posisi ke posisi yang lain. Mulai dari Kepala Sub Seksi Adm. Keuangan DAOP I Jakarta, Manager Corporate Financing, PLT Direktur Pengembangan Usaha KAI Logistik, PLT Direktur Pengembangan Usaha KAPM, Direktur Keuangan dan Administrasi KAPM sampai akhirnya pada 17 Maret 2021, Malik mendapat amanah sebagai Direktur Utama KAI Logistik.

Belajar di Universitas Muhammadiyah Jakarta membawa Malik pada pemahaman tentang nilai-nilai luhur. Menurutnya nilai-nilai yang ia dapat selama kuliah di UMJ selaras dengan nilai dan kultur yang digaungkan oleh BUMN.

Dari Muhammadiyah, saya terus terang banyak belajar, terutama integritas. Ya, karena memang alhamdulillah kita mempunyai kampus yang baik seperti UMJ ini. Itu menjadikan kita itu seorang manusia yang memiliki prinsip. Hidup itu yang penting punya integritas. Selaras dengan kultur yang sekarang digaungkan di BUMN, AKHLAK. Itu Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif dan Kolaboratif. Di kampus diajarkan. Implementasinya tidak terlalu susah kalau sudah mempunyai bekal yang seperti itu.

Universitas Muhammadiyah Jakarta juga menyimpan banyak kenangan bagi Malik, selain makanan yang tersedia di kantin, hal lain yang masih diingat olehnya adalah suasana kemahasiswaan.

Suasana kemahasiswaan itu kompak. Saking kompaknya kami pernah demo ke dekan.

Tawa kembali mengiringi cerita Malik. Momen melakukan demonstrasi ke dekan Fakultas Ekonomi nampaknya cukup berkesan bagi Malik. Seperti yang diketahui banyak orang, mahasiswa memang dekat dengan idealisme, dan itulah yang dimiliki Malik dan kawan-kawan hingga terciptalah gerakan demonstrasi. Sebuah kenangan yang rasanya akan selalu diingat oleh Malik sampai nanti. Masih dengan suara yang rendah, Malik bercerita dengan santai dan tenang. Kali ini ia memberikan gambaran suasana hubungan yang terjalin antar mahasiswa di kampus UMJ pada saat itu.

Kekompakan itu penting. Sama seperti di perusahaan, kekompakan harus dibangun. Alhamdulillah saya merasakan di kampus dulu itu kompak, kami satu keutuhan dengan fakultas lain, bisa membangun dengan baik. Kita kekeluargaannya luar biasa.

Pada beberapa sesi obrolan, Malik juga sempat menyinggung lamanya kuliah seorang aktivis. Lima tahun bagi Malik untuk menyelesaikan studi S1, tapi itu tidak dijadikan masalah baginya.

Tugas kita sebagai mahasiswa kan belajar, tapi kita juga harus bergaul, karena memberikan banyak memberikan manfaat kepda kita secara langsung di kampus. Kalau kita hanya belajar, kita tidak kenal mereka (teman-teman dan relasi lainnya). Pada saat lulus S1, Dirjen Depnaker, Pak Payaman Simanjuntak menawari saya untuk kerja di Depnaker. Nah itu kenapa penting untuk kita berelasi, kalo kita hanya belajar di kampus, tidak akan kenal mereka.

Selama kurang lebih 40 menit wawancara bersama TLN Ahmad Malik Syah, ia selalu menunjukkan the power of silaturahim. Namun walaupun begitu, bukan berarti Malik mendukung aktivis menjadi mapala alias mahasiswa paling lama di kampus (sering juga dikenal dengan sebutan mahasiswa abadi).

Akademis sekaligus aktivis, selama itu dapat dipertanggung jawabkan, silahkan. Artinya jangan sampai karena sibuk belajar, tidak punya teman (relasi). Jangan juga sibuk di luar (organisasi atau kerja) kemudian lupa dengan ruang kelas sampai didrop out. Jadi yang penting dalam beraktivitas di kampus harus tetap membagi waktu untuk belajar.

Pada kesempatan tersebut, sebagai alumni, Malik memberikan pesan bagi mahasiswa yang masih berjuang dalam belajar dan berorganisasi. Pesan ini adalah pesan yang selalu ia dapatkan dari orang tua. Bahkan berdasarkan pengakuannya, pesan-pesan ini juga disampaikan oleh orang tuanya ketika ia hendak berangkat ke Amerika.

Jadi pesannya…

Satu, jangan pernah tinggalkan solat, karena solat itu merupakan tiang agama kita. Kedua, jangan pernah kena narkoba. Kalau yang lain-lain sambil bismillah, insyaallah jalan aman. Tapi kalau udah dua hal ini karena biasanya, saya lihat beberapa temen itu berubah. Tapi kalau udah dua ini kita jaga, InsyaAllah kita masih bisa konsen dengan tujuan hidup kita itu.

Alumni yang gemar tur motor bersama teman-temannya, menutup obrolan dengan kesan yang menyenangkan. Memberikan dukungan terhadap aktivis dengan memberikan pencerahan tentang bagaimana bekal seorang aktivis dapat memberikan banyak manfaat bagi mahasiswa baik di masa sekarang mau mendatang. (DN)