Selama 5.151 Hari Tinggal di Mesir

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Wawancara

Dr. Saiful Bahri, Lc., MA

Perbincangan dengan alumni Universitas Al Azhar Mesir ini, sangat menarik. Saiful yang saat ini menjabat Ketua LPP Al Islam dan Kemuhammadiyahan UMJ, bercerita tentang banyak hal. Kisahnya, mulai dari pengalaman selama 5.151 hari kuliah di Mesir, hingga perjalanan melanglangbuana ke 100 kota lebih  di dunia.

Akhir Ramadhan 1443 H (April 2022), Saiful Bahri dijumpai di Ruang LPP AIK UMJ. Ruang itu ada di Gedung Rektorat Lama lantai 1. Pertemuan itu untuk mendengarkan kisahnya selama menempuh pendidikan di Mesir.

“Dinar, ya?” tanya Saiful ramah. Tampaknya, ia ingin memastikan orang yang ada dihadapannya adalah staf Kantor Sekretariat Universitas (KSU UMJ),  yang sebelumnya sudah membuat janji temu melalui Tria, Kepala KSU UMJ.

“Betul, Pak,” merespon sambutan yang sangat baik dan hangat.

Tak butuh waktu lama, kami langsung tenggelam dalam perbincangan menarik. Saiful mengungkapkan, alasan terbesarnya menuntut ilmu di Mesir adalah keinginan untuk mengenal budaya sekaligus menguji nyali dan mental dalam beradaptasi di tempat yang jauh berbeda dari Indonesia.

Ia mengawali studinya di Mesir pada tahun 1995 dengan mempelajari Tafsir dan Ilmu-ilmu Al Quran di Universitas Al Azhar Kairo. Jauh sebelumnya, Saiful sudah banyak mendengar cerita tentang suasana perkuliahan di Kairo dari Ustad Rosyidi Asyrofi, alumni Universitas Al Azhar yang juga guru di MAPK-MAN 1 Surakarta, tempat ia menimba ilmu sebelumnya. Itu sebabnya, setelah lulus dari Madrasah Aliyah tersebut, Saiful mencoba mencari beasiswa kuliah di Universitas Al Azhar.

Percobaan pertamanya untuk mendapatkan beasiswa gagal. Namun semangat yang ditularkan Ustad Rosyidi tidak pernah padam. Akhirnya atas izin Allah SWT,  Saiful lolos berangkat ke Kairo setelah mendapatkan beasiswa dari Baituzzakat Kuwait. Kesempatan emas ini, ia manfaatkan secara sungguh-sungguh dan belajar dengan giat. Berkat raihan IPK yang tinggi, Saiful bisa mendapat tambahan beasiswa dari ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia).

Itulah awal mula cerita Saiful menjadi mahasiswa Indonesia yang belajar di Kairo, Mesir. Menurut penuturannya, kehidupan di Mesir tidak sama dengan kisah Fahri, pemeran utama dalam novel Ayat-ayat Cinta garapan Habiburrahman El Shirazy. Memang, meledaknya novel dan film Ayat-ayat Cinta menjadi pemantik minat orang Indonesia untuk kuliah di Mesir. Namun bayangan cerita di film itu tidak sama dengan kehidupan nyata.

“Sewaktu orang ke sana (Mesir), mereka berpikir, ‘kok tidak sama dengan di film?’ Kita ini kan hidup di dunia nyata. Kesusahan-kesusahan yang ada di film itu endingnya bahagia. Sedangkan di dunia nyata tidak begitu,” ujar Saiful sambil tertawa.

Selama kuliah di Kairo, Saiful sering juga menemukan kesulitan dan kesusahan. Culture shock alias gegar budaya sempat dirasakan pria kelahiran Kudus, 16 Januari 1977 ini. Itu terjadi pada masa awal menetap dan kuliah di Mesir.

Dulu tidak ada kerupuk di Mesir. Sekarang sih sudah banyak rumah makan atau restoran Indonesia. Dulu tidak ada,” katanya.

Cita rasa masakan Indonesia yang kaya rempah sangat berbeda dengan masakan tanah Arab pada umumnya. “Orang Arab itu, masak daging saja, hambar,” ungkap ayah dari 4 anak ini.

Ia pun lantas dengan fasih bercerita tentang sate di Afrika yang dimakannya dengan tumis pisang. Pengetahuan tentang aneka masakan dari banyak negara, didapatnya karena sering berkelana ke berbagai kota di dunia.

Jelajah

Berawal dari sekadar hobi membaca tentang ibu kota negara-negara di dunia sejak kecil, membuatnya ingin mengenal lebih dekat kota-kota itu. Ia pun mengaku, hingga saat ini sudah terbang ke 100 lebih, kota di berbagai negara, yakni Amerika Serikat, Australia, Jepang, Belanda, Inggris, Italia, Jerman, Malaysia, Mesir, Palestina, Perancis, Turki, Singapura, Skotlandia, dan masih banyak lagi.

Selama kuliah, kesempatan berkeliling Mesir, negara-negara Timur Tengah lainnya dan Eropa, begitu dimanfaatkan dengan baik. Apalagi status sebagai mahasiswa asing  yang disandangnya memberikan keistimewaan tersendiri. Program pariwisata gratis yang dicanangkan pemerintah Mesir bagi mahasiswa asing sangat membantunya untuk traveling mengunjungi tempat pariwisata di Mesir secara gratis.

“Saya suka traveling. Pernah ke Luxor, 1000 km di belakang istana batunya Fir’aun. Tapi saya lebih suka ke tempat yang jarang orang kunjungi. Pelosok-pelosok desa, bertemu masyarakat lokal. Saya pernah menemukan rumah warga yang (maaf) atapnya dari kotoran hewan” ujar Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam MUI (2020-2025) ini.

“Mungkin Bapak bisa jadi vlogger,” gurau penulis.

Ternyata gurauan ini memantik pengakuannya yang tidak terbiasa mendokumentasikan perjalananya dalam bentuk audio visual. Pria asal Kudus, Jawa Tengah ini lebih suka menuliskan jurnal perjalanan di blog. Tulisan itu kini telah ditampilkan dalam tadabbur Quran, di laman www.saifulelsaba.wordpress.com.

Setelah berkeliling Mesir dan sekitarnya, muncullah kesempatan berkeliling negara-negara Eropa, Amerika, Asia dan Australia yang didapatnya saat mengikuti program Safari Dakwah. Pada 2007, komunitas muslim di setiap negara mengundangnya sebagai pembicara untuk mengisi kajian secara daring melalui aplikasi skype. Saiful menjadi salah satu dari banyak pembicara dalam safari dakwah tersebut.

Akhirnya pada Ramadan tahun 2008 (Masehi), ia diundang oleh komunitas muslim di Berlin, Jerman untuk menjadi Imam selama Ramadan di Masjid Al Falah.

“Kalau tidak salah, 2008 berbarengan dengan piala dunia di Jerman. Pada saat itu, ada momen sindiran besar-besaran untuk orang Jerman. ‘Ayo saatnya tersenyum’. Orang Jerman itu kaku-kaku. Bahkan sampai ada kursus untuk tersenyum,” ujar Saiful yang juga tercatat sebagai dosen Fakultas Agama Islam UMJ ini.

Safari Dakwah

Kisah kebudayaan berbagai negara menjadi cerita yang berlanjut. Setelah  selama Ramadan dihabiskan di Jerman, ia dipercaya menjadi perwakilan kawasan Asia-Pacific Community for Palestine (ASPAC Palestine). Lembaga ini merupakan Non-Government Organization (lembaga non pemerintah) yang bergerak untuk membela Palestina. Selain itu, ia melanjutkan safari dakwah ke berbagai negara untuk memberikan edukasi komunitas muslim di setiap negara berbeda.

Safari dakwah di Australia, didominasi oleh komunitas mahasiswa muslim, sedangkan saat di Jepang, lebih banyak diikuti pekerja laki-laki. Lain lagi saat di Hongkong, pesertanya didominasi oleh komunitas pekerja perempuan muslim.

Pengalaman safari dakwah yang telah dilewatinya memperkenalkan Saiful pada berbagai macam kebudayaan di setiap negara. Dakwah yang dijalankannya juga, tentu menyesuaikan budaya yang ada. Misalnya, tidak mungkin memaksakan pekerja peleburan timah di Jepang untuk berpuasa di bulan Ramadan, sebab mereka harus minum setiap 10 menit sekali untuk menghindari dehidrasi. Apalagi dengan kondisi kepercayaan masyarakat Jepang pada umumnya yang agnostik, dakwah tidak mudah. Perlu usaha ekstra dengan pendekatan khusus yang sesuai dengan kultur.

“Menurut saya terobosan besar (dalam mendakwahkan ajaran Islam) itu perlu untuk negara-negara Asia Timur. Sedangkan negara-negara Eropa dan Australia, tinggal menunggu waktu saja. Orang-orang Barat secara kultur, masyarakat sudah menerima (kehadiran Islam), tinggal policy dari pemerintah saja, mereka pakai standar ganda atau tidak?” pernyataan sekaligus pertanyaan Saiful tentang perkembangan ajaran agama Islam di dunia.

Selama kuliah di Mesir, Saiful memanfaatkan waktunya untuk beroganisasi. Selain tergabung dalam ASPAC, ia juga terlibat dalam ICMI, dan menjadi Presiden Mahasiswa Indonesia untuk Mesir. Tidak sampai di situ, keseharian Saiful juga dipenuhi dengan aktivitas bisnis. Mulai dari jual ikan sampai membuka rental mobil bagi turis asal Indonesia. Selama bertahun-tahun bisnis rental mobil berjalan, dan bisnis itu tutup akibat pandemi covid 19.

“Selain culture shock soal makanan tadi, apa ada kendala selama tinggal di Mesir?”

“Di mana-mana selalu ada kendala. Makanya itu, saya ingin tahu sejauh mana saya bisa beradaptasi. Paling berat saya alami adalah badai debu (badai pasir). Pernah nonton film Mission Impossible? Nah seperti itu kira-kira. Pada waktu itu saya sedang di luar, pulang kuliah. Tidak terkejar (untuk berlindung di tempat aman), tidak kuat lari. Akhirnya saya berlindung di satu gedung, tapi tetap kena (badai pasir),” ungkap penulis buku Tadabbur Juz ‘Amma ini.

Iklim dan karakteristik geografis sebuah tempat juga menjadi salah satu kendala dalam beradaptasi. Apalagi di daerah Timur Tengah yang memiliki iklim ekstrem. Ketika panas, akan terasa panas sekali. Sedangkan ketika dingin, akan terasa dingin sekali.

Saat itulah, terpikir untuk bertanya lama masa tinggal beliau di Mesir. Sebab cerita tentang Mesir cukup panjang. “Jadi totalnya, berapa lama bapak tinggal di Mesir?”

“5.151 hari, lalu tahun 2011 pulang ke Indonesia,” ungkap Saiful dengan gamblang.

Sempat kehilangan kata-kata, ketika ia menjawab pertanyaan dengan satuan (waktu) hari, bukan tahun. Ini diluar ekspektasi. “Bapak hitung jumlah hari selama di sana?”

“Iya, saya hitung,” ujarnya.

Kesempatan tidak datang dua kali, mungkin itu adalah kalimat yang pas untuk menggambarkan semangat Saiful. Kesempatan untuk melanjutkan studi pasca sarjana tidak dibuang sia-sia. Masih melalui jalur beasiswa, Saiful berhasil menuntaskan studinya hingga doktor di Universitas Al Azhar. Kesempatan-kesempatan yang datang akhirnya menambah masa tinggal Pak Saiful di Mesir hingga mencapai angka 5.151 hari.

Bagaimana pandangan Bapak terkait anak bangsa yang kuliah di luar negeri kemudian tidak mau pulang?”

“Sebenarnya, cara pandangnya harus diperbaiki juga. Ada beberapa orang yang punya disiplin keilmuan, tapi tidak bisa diterapkan di Indonesia,” ungkapnya.

Ia kemudian memberikan contoh salah satu pakar IT yang ditemuinya di Jerman. Ketika pulang ke Indonesia dan bergabung di perguruan tinggi, sang pakar IT hanya mendapat kesempatan mengajar teknik komputer biasa yang bisa diajarkan oleh dosen biasa. Keahliannya tidak terpakai, sedangkan di Jerman, keilmuan dan keahliannya dicari dan dibutuhkan. Sedangkan di Indonesia tidak bisa berkembang, dan itu sebabnya sang pakar kemudian lebih memilih untuk kembali ke Jerman.  Pengalaman sejenis juga dialaminya sendiri.

“Saya pulang ke Indonesia. Studi S1 sampai doktor kan linier, Ilmu Tafsir. Saya pertama pulang direkrut di beberapa tempat. Mengajar semuanya, kecuali tafsir. Padahal itu adalah bidang saya. Ternyata itu (pelajaran Ilmu Tafsir) sudah dipegang oleh dosen lain. Lalu ilmu saya untuk apa? Selama dua dan tiga tahun itu ijazah saya tidak terpakai,” ungkap Saiful.

Saat ini melalui LPP AIK UMJ, Saiful mencoba untuk berkhidmat. Ia ingin menjalankan banyak program dakwah dengan menggunakan pendekatan Ilmu Tafsir dan Ilmu Al Quran. Walaupun ia mengaku sedikit kesulitan, karena dakwah sejenis ini tidak bisa menyasar pada masyarakat secara umum.

Pada kesempatan wawancara ini, Saiful juga menyampaikan kritik membangun yang juga bisa dikatakan sebagai otokritik bagi masyarakat dan pemerintah Indonesia.

Menurut saya, mereka tidak kembali ke Indonesia bukan sesuatu yang negatif. Bisa jadi di sini (Indonesia) tidak ada (kebutuhan atau tempat untuk mengaplikasikan keilmuannya). Pada faktanya habit untuk menghargai ilmu dan budaya baca masih kurang. Itu yang agak berat. Dana riset kecil, tidak didukung resources yang besar. Di negara-negara besar, perpustakaan buka 24 jam. Sedangkan di sini akses saja terbatas. Di Australia, saya mau pinjam buku yang ada di Amerika, mereka siapkan. Diaspora yang dikirim Den Xiao Ping ada 1 juta orang, tapi yang kembali jauh dari angka 1jt  s(satu juta). Tapi itu yang sekarang membangun China. Basicnya diaspora,” ungkap Saiful dengan tetap rendah hati dan menyimpan banyak harapan bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.

Terbiasa

Dari perjalanan keliling dunia dan studi di Mesir, Saiful menikmati dan merasa mendapat banyak pelajaran. Selain belajar soal kebudayaan lain, mulai dari makanan khas negara lain yang unik, iklim yang ekstrim, sampai watak orang di setiap negara berbeda.

“Saya terbiasa dengan perbedaan. Pertama, saya tidak mudah heran (kalau ada perbedaan). Kedua lebih mudah toleran. Jadi, orang beda itu biasa. Gak mungkin orang gak beda,” ungkapnya.

Saiful pun kemudian mengajak membayangkan jika di UMJ banyak mahasiswa asing dari berbagai negara. “Kampus kita akan cepat maju. Itu yang saya suka dari kampus Al Azhar,” ujarnya.

Ia pun menceritakan suasana kampus Al Azhar yang dipenuhi mahasiswa asing dari berbagai negara. Bahkan, bagi mahasiswa asing itu disediakan asrama khusus. Di sana, juga menjadi tempat banyak kegiatan. Dari sanalah, Saiful sering bersosialisasi dengan mahasiswa asing lainnya. Jadi, sekolah di luar negeri bukan untuk adu keren, melainkan untuk mengetahui perbedaan kultur.

“Bandingkan jumlah SDM dan kekayaan SDA Jepang dengan Indonesia. Kenapa mereka dengan SDA yang sedikit bisa maju, sedangkan Indonesia begini?” tanyanya.

Sebuah pertanyaan yang sebenarnya bisa membawa kami pada obrolan yang lebih dalam dan luas tentang Indonesia. Namun tak terasa jatah waktu 30 menit untuk pertemuan itu sudah habis, bahkan sudah lewat 11 menit. Akhirnya,obrolan bersama Dr. Saiful Bahri, Lc., MA., ditutup dengan  pertanyaan pamungkas yang bisa memberikan wawasan khusus bagi mahasiswa atau calon mahasiswa yang ingin studi di luar negeri.

“Apa yang perlu disiapkan untuk kuliah di luar negeri?”

“Paling utama itu mental. Kalau sudah siap, siap berbeda, siap sukses dan siap sebaliknya (siap gagal). Saya pernah mengalami sakit yang luar biasa dalam kondisi tidak punya uang. Siapkan mental menghadapi perbedaan dari semua sisi. Dari segi iklim, makanan, bergaul dengan berbeda orang dan bahasa. Itu tidak mudah. Kendala itu akan berat. Kalau mentalnya belum siap, itu akan sulit. Tapi prinsip saya, kuliah di mana saja yang paling menentukan itu SDMnya. Khusus saya, saya memang punya cita-cita berkeliling dunia, saya ingin tahu apa yang saya baca dengan di dunia nyata.”

Demikian kisah 5.151 Hari Dr. Saiful Bahri, Lc.MA di Mesir. Kisahnya, sama sekali tidak mirip dengan kisah Fahri dalam novel Ayat-ayat Cinta. Namun kisah ini pasti memberikan kita banyak pengetahuan dan wawasan tentang kebudayaan dan toleransi. (*)

Editor: Tria Patrianti

Wawancara Lainnya

id Bahasa Indonesia
X