Sandika, Caster E-sport yang Suka Pantun

Sandika caster PUBG Mobile
Sandika saat memandu pertandingan PMPL Indonesia Spring 2023

 Sandika Hadit Prasetyo, Caster e-sport PUBG Mobile, Alumni Ilmu Komunikasi FISIP UMJ.

 

 

Jalan-jalan ke Argentina

Berangkatnya naik kopaja

Mau jadi umat yang berguna?

Kuliah di UMJ aja!

 

Sepotong pantun dari Sandika Hadit Prasetyo, seorang caster e-sport PUBG Mobile nasional memecah tawa reporter yang bertugas melakukan wawancara sore itu. Alumni Ilmu Komunikasi FISIP UMJ yang baru menyelesaikan studi pada 2022 lalu ini, kini meniti karir di dunia e-sport sebagai komentator atau caster dengan nama panggung Sanskuy. Saat ditemui di studio tempat shooting on air pertandingan PUBG Mobile Pro League (PMPL) Indonesia Spring 2023 di Kawasan Jakarta Barat, Sandika membagi cerita perjalanannya memenangkan audisi caster hunt pada 2019.

Laki-laki kelahiran 5 Agustus 1999 ini mulai mengudara di pertandingan PUBG Mobile setelah berhasil meraih juara 1 dalam ajang PUBG Mobile Campus Championship Caster Hunt 2019 dan menyingkirkan puluhan peserta lainnya yang berasal dari berbagai kampus di seluruh Indonesia. Sandika yang sangat gemar bermain game sejak kecil ini mengaku sadar diri akan kemampuan bertanding PUBG Mobile tidak sebanding dengan kemampuannya berbicara. Alhasil audisi caster hunt menjadi pilihan baginya untuk berprofesi di dunia e-sport.

Sejak kecil Sanskuy sudah kenal dengan beragam permainan dari orang tuanya, mulai dari board game hingga mobile game. Orang tuanya membelikan beragam jenis permainan mulai dari Sega, Play Station, hingga board game. Sampai saat ini Sandika masih suka mengoleksi board game di rumahnya.

“Waktu SMP kalau ke rental PS boleh, tapi ke warnet gak boleh. Mungkin warnet kan gak cuma game, tapi bisa akses banyak hal. Sedangkan kalau rental PS kan cuma game. Waktu TK udah dibelikan Sega, PS 1. Sampai akhirnya game mobile masuk, ikut juga main. Sebenarnya orang tua gak mendukung juga sih. Itu bentuk dari reward biasanya. Ada hal yang tercapai baru dibeliin. Jadi kalau dapat ranking baru dibeliin PS atau benda lainnya. Jadi terpacu buat ranking juga biar dapet rewardnya,” paparnya panjang lebar.

Bagi Sandika, permainan adalah hiburan sekaligus media melepaskan stres. Menurutnya permainan, khususnya mobile game, bukan sekadar permainan, melainkan olahraga sama halnya sepak bola yang pertandingannya digelar mulai dari level tarkam (antar kampung) hingga internasional. Oleh karenanya Sandika melihat banyak peluang dalam dunia mobile game. Kegemaran dan rasa penasarannya mengantarkan Sandika untuk ikut kompetisi menjadi komentator PUBG Mobile nasional. Ajang PMCC 2019 tidak terbatas pada pertandingan PUBG Mobile saja, melainkan ada pula program Caster Hunt dan Brand Ambassador Hunt. Sandika yang sangat jeli melihat peluang, kala itu menyasar Caster Hunt.

“Saya senang main game, tapi sadar gak jago. Tapi dari kecil saya suka ngomong, kayaknya jadi komentator bisa nih. Akhirnya daftar dan kualifikasi pertama di FEB UMJ. Bikin videonya dibantu sama anak BEM FEB UMJ. Waktu pengumuman, dapat juara 1. Itu tulisannya (di tampilan layar acara pengumuman) Sandika Hadit Prasetyo dari Universitas Muhammadiyah Jakarta,” kenangnya.

 

Sssanskuy Caster PUBG Mobile

Sandika meraih Juara 1 PMCC Caster Hunt 2019

Bagai mendapat durian runtuh, Sandika yang sebelumnya tidak pernah menjadi komentator pertandingan, menjadi juara 1 dalam Caster Hunt 2019 yang diselenggarakan oleh PUBG Mobile. Sandika sangat bersyukur karena mendapat kesempatan jadi juara 1, padahal belum pernah menjadi komentator sebelumnya. Kemampuan berbicara dan berkomentar tanpa sadar diperolehnya karena ia sangat menyukai sosok komentator sepak bola nasional yang dikenal dengan nama Valentino Jebret.

“Kayaknya sih karena suka nonton sepak bola dan perhatiin komentatornya. Saya suka sama Bung Valen (Bung Jebret). Suka perhatiin dia kalau lagi jadi komentator. Jadi kosa kata komentator sudah tahu dan ada. Kedua, senang ngomong dan cerewet aja anaknya. Ternyata ada tempatnya untuk orang cerewet kaya saya,” ungkap Sandika.

Sanskuy dan pantun bagai dua sejoli yang tidak bisa dipisahkan. Setiap bertugas menjadi caster dalam sebuah pertandingan, pantun tidak pernah absen. Pantun jadi brand image seorang Sandika bukan hanya saat menjadi caster tapi juga secara otomatis membentuk personal branding di media sosialnya (Instagram dan Tiktok). Sandika kini berkarir juga di media sosial dengan nama pengguna @sssanskuy. Dalam memproduksi konten, Sandika menggunakan ilmu yang didapat selama belajar di Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UMJ.

“Nah kalau sebagai content creator, kenapa ambil Ilkom di UMJ, karena waktu SMP-SMA senang nonton Agung Hapsah, Chandra Liow, Kevin Anggara. Suka bikin video juga, tapi bedanya dulu gak ada yang nonton, sekarang ada. Awalnya mau masuk broadcast karena senang bikin video. Salam untuk Pak Daniel. Pak Daniel dosen favorit saya,” tuturnya lugas.

Dengan tempo cerita yang sedikit cepat dan penuh tawa, terlihat Sandika yang ramah dan ‘welcome’ ini memiliki semangat menggebu menceritakan bagaimana pengaruh para dosen dan ilmu yang ia dapatkan terhadap karirnya saat ini.

“Respek saya untuk Bu Okta dan Bu Jami. Beliau berdua itu yang bikin saya akhirnya pilih advertising (kekhususan di Prodi Ilkom). Padahal awalnya sudah yakin pendirian buat masuk broadcast. Banyak Ilmu yang diajarkan Bu Okta dan Bu Jami saya pakai sekarang buat bikin konten. Mulai dari bikin timeline konten, sampai cari ide kreatif buat konten, itu semua dari beliau berdua. Itu makanya relate, beruntung masuk Ilkom. Sekarang kan banyak orang latar belakangnya bukan Ilkom, jadi harus belajar lagi (untuk kelola media sosial). Sedangkan saya udah punya (ilmunya) jadi tinggal diaplikasikan,” ungkapnya.

Dengan latar belakang pendidikan Ilmu Komunikasi, Sandika mengaku memiliki banyak amunisi untuk terus eksis di dunia media sosial dan menghadapi tantangan yang dipenuhi disrupsi, misalnya fenomena cepat viral. Menurutnya yang cepat viral berpotensi cepat redup pula, karena tidak memiliki perencanaan dan analisis yang baik tentang dunia media sosial.

“Kalau yang saya perhatikan, sosial media cepat banget. Tapi yang cepat naik, istilahnya pedangnya cuma itu. Saat pedangnya tumpul, dia gak punya senjata lagi. Itu yang disayangkan, karena dia gak ngerti ilmunya. Beruntungnya lagi-lagi, saya di UMJ diajarin sosial media. Advertising kan belajarnya include media sosial dan komunikasi kreatif. Itu memang ada pelajarannya dan diajarkan,” papar Sandika lebih jauh

Fenomena cepat viral bukan suatu ancaman baginya, justru menurutnya tantangan yang dihadapi saat ini yaitu mengatur keuangan setelah menekuni profesi caster. Ia mengaku senang mengerjakan pekerjaan di industri kreatif tapi belum bisa mengerjakan yang sifatnya manajerial. Hal itu membuat Sandika memutuskan untuk bergabung dengan management dan menyerahkan segala urusan terkait keuangan dan perjanjian kerja sama pada manajernya.

Sssanskuy Caster PUBG Mobile

Sandika saat diwawancara di Revival TV, Minggu (26/02/2023).

Kini Sandika berkeinginan untuk melanjutkan studi ke program magister untuk mendalami ilmu komunikasi. Ia merasakan betul betapa pelajaran dan tugas yang diberikan para dosen ketika kuliah sangat aplikatif dan dibutuhkan di industri kreatif tempatnya meniti karir saat ini.

“Saya sangat menikmati kuliah di UMJ, di Ilkom. Kenapa akhirnya mau kuliah lagi, karena in line sama kerjaan. Sekarang kerja di bidang komunikasi, jadi pengen` mendalami lagi. Saya merasa pendidikan itu berdampak banget. Karena tugas-tugas kuliah yang dikasih sama dosen, akhirnya saya aplikasikan sekarang waktu bikin konten,” akunya.

Rasa nikmat dalam belajar tidak ia temukan begitu saja. Sandika mengaku pernah merasa tidak menikmati pelajaran sama sekali, tepatnya ketika duduk di bangku SMA. Ia pernah merasa stres belajar bahkan hingga menangis karena tidak bisa menyelesaikan ulangan Fisika. Semenjak lulus SMA ia memberanikan diri untuk meminta pada orang tuanya agar diizinkan untuk memilih jurusan sesuai dengan keinginannya dan kemampuannya.

“Sempet merasa stress karena gak bisa hitung-hitungan tapi dipaksa masuk IPA. Dari situ sempat kepikiran “SMA aja gak bisa ngerjain ulangan, gimana pas kuliah?” Masa down banget, merasa paling bodoh sedunia. Pas lulus SMA, minta ke ortu biar gak paksa pilih jurusan. Akhirnya dicari-cari nemu Ilmu Komunikasi. Itu saya pilih komunikasi, gak ada hitungannya, isinya ‘ngomong’. Kalau ngomong saya bisa nih. Karena waktu SMA kalau ada acara, saya yang dikasih mic,” ceritanya panjang lebar.

Dari pengalamannya menemukan potensi dan peluang, Sandika mengatakan agar mahasiswa yang saat ini masih berjuang menimba ilmu untuk terus eksplor hal-hal yang disukai. Walaupun misalnya tidak ditemukan di kampus, Sandika merekomendasikan untuk mencari berbagai hal di luar kampus. Misalnya dunia e-sport yang kini digeluti oleh Sandika, belum ada wadahnya di UMJ tapi bisa cari di luar UMJ.

“Untuk semua mahasiswa UMJ, menurut saya, terus eksplor apa yang kamu suka. Di kampus kan gak semua bisa tercover. Kamu bisa cari di luar kampus, misalnya e-sport. Ini tetap bisa kamu gunakan untuk mengharumkan nama UM. Itu pernah saya lakukan dan ternyata berhasil. Akhirnya bukan hanya mengharumkan nama UMJ, tapi karir kamu sebagai manusia yang akhirnya kebawa. Karena mau gak mau kita harus memperjuangkan diri sendiri. Jadi eksplor semuanya itu gak apa-apa banget,” himbau Sandika menutup perbincangan.

Penulis : Dinar Meidiana
Editor : Tria Patrianti