Berawal dari USA ke United State of America

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Berawal dari USA (Ulum Sayang Ayah) ke United State of America

Wawancara dengan Miftahul Ulum, S.IP., MPS., M.Sc., Dosen Ilmu Politik FISIP UMJ

Kandidat Ph.D., bidang Cyber Security Governance di School of Politics and International Studies (PAIS), University of Warwick, The United Kingdom

Studi ke luar negeri boleh jadi merupakan impian banyak orang. Bermacam-macam beasiswa jadi target bagi pelajar yang ingin mewujudkan impiannya belajar di negara asing. Impian tersebut juga dimiliki oleh Miftahul Ulum, dosen Ilmu Politik UMJ yang kini sedang menempuh studi doktoral bidang Cyber Security Governance di University of Warwick, Inggris. Miftahul Ulum mendapat beasiswa LPDP dan mulai menempuh studi doktor sejak 2019 hingga saat ini.

Bukan kali pertama Ulum menempuh studi di luar negeri, ini adalah kali keempat bagi Ulum menuntut ilmu di negeri orang. Sebelumnya Ulum pernah mendapat beasiswa ke Amerika Serikat, melalui Indonesia English Language Study Program (IELSP) yakni program beasiswa untuk kursus Bahasa Inggris di universitas-universitas di Amerika Serikat selama 8 (delapan) minggu. Pada saat itu Ulum berkesempatan mengikuti kelas English and American Culture, Spring International Language Center di University of Arkansas (2008).

Kedua, beasiswa Rio Tinto untuk studi S2 di Univerity of New South Wales, Australia, dalam bidang Policy Studies (2011-2012). Ketiga, beasiswa Chevening dari Foreign, Commonwealth and Development Office (FCDO), studi S2 di University of Glasgow, Inggris, bidang Global Security in Cyber Security and Intelligence (2016-2017). Keempat, studi doktoral bidang Cyber Security Governance di University of Warwick, Inggris, melalui beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dari pemerintah Indonesia.

Sederet nama universitas asing, keberhasilan meraih beasiswa dan kiprahnya sebagai kader Muhammadiyah di Inggris sangat menarik untuk digali dan dibagikan. Akhirnya, pada Juni 2022, penulis berkesempatan bertemu Miftahul Ulum, S.IP., MPS., M.Sc., setelah rencana ngobrol melalui virtual room tak kunjung ada kabarnya. Namun nampaknya dosen muda yang lebih senang disapa dengan sapaan ‘Bang Ulum’ oleh mahasiswanya ini menyukai kejutan. Selang beberapa hari setelah wacana ngobrol virtual, penulis dikejutkan dengan kehadiran Ulum di kampus UMJ tercinta.

Lama tak berjumpa, namun rasanya bentuk wajah dan karakternya tidak berubah sama sekali, masih seperti dulu. Dosen yang selalu bersemangat mengawali kelas dan tidak pernah membosankan selama mengajar. Ulum yang humble, ceria dan enerjik begitu bersemangat saat memulai sesi wawancara yang akan menggali cerita perjalanan sekolah dan kiprahnya sebagai kader Muhammadiyah di UK.

Bicara soal sekolah, seperti yang telah ditulis pada awal tulisan ini, Ulum mengaku bahwa semua studi lanjutan di luar negeri yang ia tempuh adalah melalui jalur beasiswa. Pertama, terkait keberhasilannya dalam mendapatkan beragam beasiswa, menurut Ulum tidak diraih dengan mudah dan dalam tempo yang singkat. Lebih lanjut, ditambahkan jika itu semua adalah hasil dari impian yang ditanam, disemai dan dirawat sedari kecil.

Apapun itu termasuk urusan sekolah dan beasiswa, harus selalu diawali dulu dengan punya impian. Punya gambaran dulu. Beda antara impian dan mimpi. Mimpi itu tidak bisa kita atur, tapi impian bisa kita atur. Tapi keduanya sama, tidak ada biayanya. Sehingga ketika impian tidak ada biayanya, kenapa tidak punya impian yang setinggi-tingginya?

Ulum mengawali cerita impiannya yang  mulai ada dan tumbuh dalam dirinya sejak kecil. Wajahnya bercerita dengan tegas dan meyakinkan. Ulum berkata bahwa kehadiran impian itu penting. Melalui impian, seseorang dapat melakukan pengaturan dalam diri. Setelah impian, niat menjadi hal penting selanjutnya untuk menindaklanjuti impian.

Saya punya privilege. Kebetulan ayah saya S2 di US (United State of America) dan sebelumnya pernah ke Jepang dan Filipina. Memang yang paling membekas adalah ketika S2 di US. Ketika saya lahir, ayah saya sedang sekolah S2 di US. Oleh karena itulah nama saya Miftahul Ulum.

Ulum yang pada saat itu ditemui di lantai 3 Gedung Muhammadiyah Civilization Center, mengenakan batik dan kopiah, duduk bersahaja dan bercerita dengan penuh gairah, sebuah kenangan yang menjadi pondasi awal impian besar sekaligus yang berhasil mengantarkannya melanjutkan studi di luar negeri. Nama Miftahul Ulum bermakna sangat filosofis. Dalam Bahasa Indonesia, miftahul ulum berarti kunci ilmu, nama tersebut diambil karena ayahnya sedang membuka ilmu yang luas di Amerika Serikat.

Itu konteksnya nama saya. Kunci ilmu, pada saat itu Amerika adalah pusatnya ilmu.

Ayah adalah sosok pemantik impian bagi Ulum. Masih dengan gairah bercerita yang sama, dosen yang dikenal humble dan ceria ini mengaku bahwa impian yang dimilikinya adalah hasil stimulus orang tua khususnya ayah. Menurutnya, impian tidak hanya datang dari dalam diri seseorang, tapi juga dari lingkungan sekitar. Ulum kecil sudah mengenal Ronald Reagan, Presien Amerika Serikat ke 40, berkat cerita-cerita yang dibawa ayahnya dari Amerika.

Ayah saya bilang, “ada salam dari Ronald Reagan,” Presiden Amerika saat itu. Ayah saya bawa baju USA, pernak-pernik USA. USA itu kepanjangan dari Ulum Sayang Ayah.

Cerita-cerita itu yang tanpa sadar menumbuhkan impian dalam diri Ulum. Impian yang tumbuh bersamanya sejak kecil, juga membuatnya senang dan suka belajar berbagai bahasa asing saat di boarding school dan kuliah. Bahasa asing yang dipelajari meliputi Bahasa Arab, Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin. Masa sekolah itu juga bagian dari kesempatan Ulum mempersiapkan kemampuan bahasa asing untuk mewujudkan impiannya.

Perjalanan impian Ulum mulai dilalui dengan mengirim aplikasi beasiswa. Program beasiswa pertama yang disasarnya adalah Monbusho pada tahun 2005 (saat ini dikenal dengan Monbukagakusho), beasiswa S1 ke Jepang. Berbagai macam prestasi akademik dan non-akademik, serta kemampuan berbahasa asing yang dimilikinya menumbuhkan rasa kepercayaan diri yang sangat baik. Ulum yang pada saat itu duduk di kelas 3 SMA, tidak melakukan persiapan lain selain mendaftar beasiswa Monbusho. Kepercayaan diri yang begitu tinggi ternyata tidak berhasil membawa Jepang menjadi takdirnya.

Tertarik dengan program kelas internasional yang didorong oleh Pak Amien Rais, Ulum mantap daftar kuliah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, salah satu perguruan tinggi yang masih membuka pendaftaran pada saat itu. Kegagalan berangkat ke Jepang tidak dianggap sebagai akhir. Impian Ulum belum kelar. Pada babak perjalanan mewujudkan impian yang selanjutnya, Ulum memanfaatkan kertas-kertas aplikasi beasiswa kakaknya. Kegagalan yang menimpa Ulum juga dirasakan oleh kakaknya. Pada saat yang sama, kakaknya pun gagal meraih beasiswa Fulbright ke luar negeri.

Apa yang saya lakukan? Abang saya kebetulan ngeprint banyak aplikasi beasiswa Fulbright. Saya ambil aplikasinya dan saya lihat apa yang perlu dipersiapkan. Mulai saat itu, pada saat semester pertama masuk kuliah, mulai saya siapkan.

Persiapan yang dilakukan Ulum semenjak melihat kertas aplikasi pendaftaran beasiswa berbuah manis. Pada 2008, Ulum berhasil mendapatkan beasiswa ke Amerika dalam Indonesia English Language Study Program (IELSP) dan mengikuti kelas English and American Culture, Spring International Language Center di Univsersity of Arkansas (2008). Menurut ceritanya, banyak orang-orang yang menyangka bahwa Ulum adalah sosok yang beruntung sebab berhasil lolos di percobaan pendaftaran pertama. Namun, di balik cerita beasiswa ke Amerika, ada proses panjang yang dilalui Ulum. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Beasiswa ke Amerika dimanfaatkan oleh Ulum untuk mengikuti tes TOEFL ITP secara gratis. Hasil tes tersebut digunakan untuk mendaftar beasiswa selanjutnya.

Pada saat itu juga, Ulum memberikan bocoran persiapan yang dilakukan sewaktu mendaftar beasiswa. Persiapan itu bisa disebut sebagai satu paket yang berisi empat bahan persiapan, diantaranya nilai IPK, pengalaman organisasi, prestasi ekstrakulikuler (non-akademik) dan satu hal yang belum banyak menjadi perhatian orang pada saat itu adalah kontribusi sosial. Ulum mengawali kehidupan di kampus dengan visi yang sangat jelas. Tidak terlalu banyak mengikuti kegiatan dan organisasi pada awal masuk kuliah menjadi keputusan yang sangat matang. Beradaptasi dengan kondisi akademik di kampus untuk memastikan capaian nilai IPK adalah salah satu strategi Ulum dalam meraih prestasi akademik sebagai modal utama meraih beasiswa.

Pada tahun pertama, Ulum mengaku hanya bergabung dalam satu unit kegiatan mahasiswa yakni Student English Activity (SEA). Tahun-tahun berikutnya setelah berhasil memastikan dapat menyesuaikan diri dengan akademik, Ulum mulai bergabung di berbagai organisasi dan kegiatan, diantaranya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan Jogja Debate Forum (forum debat siswa dan mahasiswa se-Yogyakarta).

Orang-orang taunya saya langsung dapat (beasiswa). Mereka tidak tahu saya sudah mempersiapkan itu dari awal. Empat poin tadi itu. Banyak orang yang IPK nya tinggi, banyak juga orang yang organisasinya banyak, ekstrakulikuler, tapi belum banyak yang punya kontribusi sosial. Ya ini (IPK, organisasi dan ekstrakulikuler) kan (manfaatnya) cuma buat diri mereka sendiri saja.

Hasil dari persiapan yang dilakukan sejak awal masuk kuliah berbuah manis. Beasiswa program master dari Rio Tinto, sebuah perusahaan tambang, mengantarkan Ulum sekolah di University of New South Wales, Australia, dalam bidang Policy Studies (2011-2012). Ulum mengaku bahwa ia adalah satu-satunya penerima beasiswa se-Indonesia. Bahkan ia juga sempat merasa heran karena pendaftar beasiswa banyak dari latar pendidikan bidang teknik yang berhubungan dengan perusahaan. Sedangkan ia bidang sosial (Hubungan Internasional) yang menurutnya tidak terlalu berkaitan. Terdapat fakta menarik dari pencapaian beasiswa kali itu. Pada saat yang sama, beasiswa ke Amerika juga datang ke Ulum. Namun bukan sebuah kegalauan baginya, ia memantapkan dan menjatuhkan pilihannya ke Australia.

Pengalaman meraih beasiswa Ulum menjadi hal menarik bagi PENNA, Radio Streaming Internanasional, yang dimotori oleh kader-kader Muhammadiyah Internasional. Undangan untuk menjadi pembicara bertema beasiswa akhirnya memacu Ulum untuk menulis dan berakhir pada rencana pembuatan buku dari hasil menulis tersebut.

Ada 10 prinsip insan Muhamamdiyah yang disampaikan oleh Prof. Haedar Nashir, ada beberapa yang diintisarikan, saya kira kalau kita berpegang pada itu, ini saya lagi mau bikin buku tentang Meraih Beasiswa dengan Pendekatan Muhammadiyah, khusus untuk anak Muhammadiyah. Intinya adalah Muhammadiyah itu visioner, makanya kalau berpegang pada nilai-nilai Muhammadiyah, dengan tulus dan ikhlas, lancar hidupmu.

Masih soal persiapan beasiswa, Ulum tidak lupa untuk berpesan pada adik-adik mahasiswa dan calon mahasiswa.

Untuk adik-adik mahasiswa dan calon mahasiswa, gunakan masa-masa S1 mu mulai dari awal. Kenapa? Lupakan masa-masa SMP dan SMA mu. Seberapa bright nya kamu di SMA, udah selesai. Ini sekarang is another story, cerita berbeda lagi dan ini sangat penting untuk perjalananmu selanjutnya.

Saat ini Ulum tidak hanya disibukkan dengan kegiatan akademik sebagai mahasiswa sekaligus kandidat Ph.D., tapi juga sebagai tenaga pengajar di School of Politics and International Studies (PAIS), Faculty of Social and Political Sciences, the University of Warwick, the United Kingdom. Mengajar adalah salah satu yang disukai oleh Ulum. Itulah kenapa kelas Ulum, menurut banyak mahasiswa-mahasiswinya adalah salah satu kelas yang tidak bisa ditinggalkan, sebab semangat dan niat yang dimilikinya menyebar ke seluruh ruang kelas. Saking niatnya Ulum dalam mengajar, ia tidak masalah jika hanya mengajar satu orang mahasiswa, yang penting punya niat untuk belajar.

Saya sangat suka mengajar. Saya niat. Saya tidak ada masalah kalau kamu tidak suka, jadi di luar saja. Saya niat mengajar, jadi kamu juga harus niat belajar.

Sebagai salah satu mantan mahasiswi Ulum, penulis melihat Ulum selalu memiliki cara unik dan cukup memudahkan mahasiswa untuk mengerti tentang suatu topik pembelajaran. Misalnya dengan cara membuat dongeng untuk memperkenalkan konsep Ekonomi Politik Internasional. Dosen Ilmu Politik mana lagi yang mengajar dengan metode mendongeng? Namun beda cerita dengan pengalaman mengajar yang ia alami di University of Warwick. Perbedaan budaya belajar dan sistem pembelajaran membuat Ulum menemui tantangan.

Plus tantangan luar biasa adalah ketika memberi nilai. Jadi kalau memberi nilai tidak sesuai dengan aturan dan sistem, maka dosen bisa dituntut sama mahasiswa dan tuntutannya bisa berjenjang sampai ke universitas. Ketika kita memberi nilai, tidak boleh menyalahkan saja, harus menunjukkan apa yang benar. Saya jadinya belajar mengapresiasi mahasiswa dengan memberikan semangat dan dorongan bahwa yang mereka lakukan adalah bagian dari proses belajar, bukan akhir. Menyalahkan tapi juga membetulkan. Sebenarnya salah, tapi kalau diberitahu mana yang betul, akan berbeda. Paradigma itu yang berbeda dengan kita di sini.

Kualitas pembelajaran juga terlihat dari bagaimana fasilitas yang tersedia didukung dengan etos belajar mahasiswa. Dari pengalaman mengajarnya di University of Warwick, sambil guyon dan berlagak bak orang yang sedang berorasi, Ulum menyampaikan ide, gagasan dan janjinya dengan barandai-andai jika ia adalah rektor.

Kalau saya menjadi rektor, saya mau ubah sistemnya! Perkuliahan, penyampaian materi itu online saja. Offlinenya diskusi.

Masih dalam adegan yang sama, jari telunjuk diacung-acungkan selama mengutarakan idenya. Penulis hampir melepaskan gelak tawa, tapi ide-ide yang diucapkan Ulum sangat menarik hati. Itu bukan sekedar guyonan, tapi sebuah gagasan dan masukan bagi para pendidik.

Materinya direkam, orang bisa cek video itu, tapi selebihnya waktu yang lain untuk apa? Datang ke kelas, masuk, lalu diskusi.

Menurut Ulum, pembelajaran lebih efektif jika mahasiswa lebih banyak membaca dan berdiskusi. Dosen bisa menjelaskan materi pembelajaran sebagai pengantar melalui video yang dapat diakses oleh semua mahasiswa. Sebelum masuk ke kelas, mahasiswa harus memiliki modal pengetahuan minimal dari video pembelajaran dan buku bacaan, sehingga ketika masuk kelas, waktu yang tersedia hanya untuk diskusi kelompok.

Itu yang membuat mahasiswa kritis. Saya kira dosen-dosen kita adalah pendidik, ada niat yang sungguh untuk mengajar. Banyak peluang yang bisa kita kembangkan. Saya pribadi selalu berpikir bahwa teman-teman mahasiswa yang penting mau dulu.

Begitupula dengan perjalanan menuntut ilmunya di Inggris yang kini diwarnai dengan pengabdian pada persyarikatan. Sekembalinya Ulum ke Inggris setelah berhasil dalam seleksi beasiswa LPDP untuk lanjut studi S3, ia dipercaya untuk menjadi Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah United Kingdom (PCIM UK) periode 2019-2021. Ulum terpilih kembali untuk menahkodai PCIM UK pada 2021 hingga 2023 mendatang.

Profil dan kegiatan PCIM UK ini kemudian dituliskan oleh Ulum dan terbit dalam buku Internasionalisasi Muhammadiyah. Sejarah dan Dinamika Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Luar Negeri 2002-2022. Buku yang terbit pada 2022 ini menghimpun profil sebanyak 22 PCIM seluruh dunia dari total 27 PCIM. Dalam tulisan tersebut, Ulum sebagai Ketua PCIM UK, menceritakan dan menjelaskan secara rinci bagaimana PCIM UK lahir dan tumbuh hingga saat ini. Di bawah kepemimpinan Ulum, PCIM UK menghadapi pandemik Covid-19.

Ulum menyebut era kepemimpinannya adalah era digitalisasi yang didorong oleh adanya pandemik Covid-19. Ulum dan pengurus PCIM UK menganggap bahwa hikmah pandemik Covid-19 adalah kesempatan untuk mengoptimalkan dakwah PCIM UK yang dibatasi jarak dan waktu. Dengan digitalisasi, dakwah lebih menjangkau seluruh target dakwah. Program-program rutin PCIM UK dilakukan melalui media sosial dan virtual room untuk menyasar tiga kelompok inti target dakwah, yakni internal warga PCIM UK, warga Indonesia di UK dan Eropa, dan warga asli Inggris.

Selain pengajian rutin bulanan dan Baitul Arqam Fungsional tahunan yang dilakukan secara online yang ditujukan pada internal warga PCIM UK, Ulum dkk. juga rutin menebar dakwah melalui akun media sosial khususnya Instagram (dalam akun @pcim_uk). Setiap Senin, melalui program B(e)ritania Updates! PCIM UK memberitakan kiprah Muhammadiyah dari masa ke masa di seluruh dunia. Setiap Jumat, khalayak diajak untuk bersedekah ilmu, harta dan senyum melalui The GB Friday. Bukan Great Britain yang dimaksud melainkan The Great and Best Friday. Program tersebut juga diinisiasi untuk menyegarkan kembali semangat ber-Muhammadiyah selain juga sebagai ajang promosi dakwah Muhammadiyah baik dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris yang menjangkau lebih luas lagi.

Sejak awal berdiri, PCIM UK berupaya untuk memperkenalkan Muhammadiyah pada warga Indonesia yang ada di UK dan Eropa. Selama 15 tahun PCIM UK berdiri (2015-2022), telah banyak kader-kader baru yang sekembalinya ke Indonesia turut membangun Muhammadiyah baik di struktur organisasi maupun di amal usaha.

 

Selain memperkenalkan Muhammadiyah, PCIM UK juga mencoba untuk memperkenalkan Islam kepada warga asli Inggris. Upaya tersebut dilakukan dengan menjalin kerja sama dengan komunitas-komunitas muslim di wilayah Birmingham, Bradford, Coventry, Huddersfield, and Leeds. Warga PCIM UK juga memiliki cara masing-masing dalam memperkenalkan Islam dan Muhammadiyah. Misalnya, Pak MD Hilal (cucu Kyai Dahlan) sejak tahun 2005, bersama dengan PCIM UK, melalui program steps2Allah telah banyak mengislamkan oang Inggris.

Perkembangan Islam di Inggris dimanfaatkan oleh PCIM UK untuk terus melebarkan sayap dakwah. Salah satu tahapan masuk dan berkembangnya Islam di Inggris adalah melalui masjid-masjid komunitas berbasis negara. Strategi ini yang dilirik oleh PCIM UK, memperkenalkan Islam dan Muhammadiyah ke warga asli Inggris melalui masjid berbasis negara. Jika masjid ini berhasil dibangun, maka akan menjadi masjid Indonesia pertama di Inggris.

Sebagai bagian dari misi internasionalisasi Muhammadiyah, PCIM UK menginisiasi lahirnya komunitas baru yakni Diaspora Muhammadiyah Eropa. Komunitas tersebut dibentuk agar dapat saling memperkuat dan berkolaborasi untuk mensukseskan internasionalisasi dakwah Muhammadiyah di Eropa, juga untuk mendorong berdirinya PCIM-PCIM baru di Eropa.

Siapa Ulum saat ini terbentuk dari apa yang ia lihat sejak kecil. Orang tua adalah role model pertama dan utama baginya. Pemantik, penyemai dan perawat impian bagi Ulum adalah sosok ayah yang tidak hanya memiliki semangat menuntut ilmu tapi juga semangat berdakwah. Nilai-nilai yang diajarkan dan diturunkan oleh ayahnya ke anak-anaknya, menjadi pijakan kuat sampai hari ini dan nanti. Muhammadiyah menjadi kendaraan dakwah bagi sosok sang ayah, itupula yang membuat Ulum tidak pernah menolak untuk menghidupi Muhammadiyah.

Saya, alhamdulillah, dikasih contoh yang baik. Orang tua saya hidupnya 24/7 untuk Muhammadiyah. Dia (ayah) role model yang saya lihat, yang akhirnya turun ke anak-anaknya. Jadi pegangan untuk anak-anaknya, itu yang kita pegang. Dan itulah yang menjadi dasar bahwa tidak pernah saya menolak kalau misalnya Muhammadiyah minta (untuk berkontribusi), saya iyakan.

Ulum saat ini masih menjalankan amanahnya sebagai Ketua PCIM UK dan masih menikmati proses menuju gelar Ph.D. di Warwick. Ke mana ia berkiprah setelah menyelesaikan keduanya di UK?

Secara keilmuan, ilmu saya kan cyber security ya, di sini digunakan tidak?Saya komitmen, saya mau pulang (mengabdi untuk Indonesia). Tapi masalahnya ketika saya pulang, ilmu saya digunakan atau tidak? Saya sih gampang mau dimanapun itu bumi Allah, yang penting saya bisa bermanfaat. Di manapun tempatnya, Ulum hanya akan berkarya, berkiprah dan bermanfaat.

Bermuhammadiyah itu tidak akan membuat kamu miskin. Pasti akan selalu ada jalan. (Ulum: 2022) (DN)

Wawancara Lainnya

id Bahasa Indonesia
X