FPPTMA: Mengembangkan Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah -‘Aisyiyah
December 20, 2017
Show all

PSIP FISIP UMJ: Kebudayaan, Toleransi dan Kerukunan Antar Umat Beragama

Pusat Studi Islam dan Pancasila (PSIP) FISIP UMJ menggelar seminar nasional pada selasa (19/12) di aula FISIP UMJ lantai 3.  Seminar tersebut menghadirkan beberapa narasumber di antaranya: Dir. Pascasarjana UIN Jakarta Masyukir Abdillah, Tokoh Lintas Agama Frans Magnis Suseno, Anggota Majlis Diktilitbang PP Muhammadiyah Abdul Munir Mulkhan, Ketua PP Muhammadiyah Syafiq A. Mughni, Anggota Ombudsman RI Ahmad Suaedy dan Dir. FSIP FISIP UMJ Ma’mun Murod Al-Barbasy.

Menurut Mughni pada mulanya haji dan kyai di Jawa membawa kebudayaan Timur Tengah sepulang mereka beribadah haji. Ini, menurutnya berlangsung lama dan intens. Karenanya, menurut Mughni, mereka bisa dikatakan sebagai makelar budaya. Dan pada masa kolonialisme, agama kristen masuk ke Indonesia beserta budaya negara-negara tersebut. “Ini memperkaya khazanah kebudayaan Indonesia,” katanya. Di Muhammadiyah ada dokumen bernama dakwah kultural yang memandang penting kebudayaan. Sedangkan dalam konteks toleransi, Mughni menegaskan bahwa toleransi kita terbangun dari ijtihad yang terus menerus.

Bagi Romo Magnis sendiri toleransi di Indonesia lebih dulu terbangun. “Di Barat toleransi beragama baru muncul 400 tahun lalu di abad pencerahan, toleransi di Indonesia adalah sangat bagus” katanya. Toleransi, dalam pandangannya, adalah saat orang tidak merasa takut di tengah orang yang berbeda.  Toleransi yang sudah bagus ini, katanya, perlu didukung oleh negara. “Negara perlu mendidik masyarakat untuk toleran,” tegasnya lagi.

Masykuri Abdillah menggarisbawahi peran agama dalam mewujudkan toleransi antar umat beragama. “Eksistensi kerukunan sangat penting karena menjadi prasyarat bagi terwujudnya integrasi sosial dannasional,” jelasnya. Menurutnya, upaya penguatan toleransi dan kerukunan antarumat beragama perlu terus menerus dilakukan, baik terkait dengan perilaku umat beragama maupun kebijakan negara/pemerintah.

Dengan materi “Kebudayaan, Jalan Menghampiri Sang Maha Misteri,” Abdul Munir Mulkhan menerangkan posisi dan kontribusi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modern namun turut mengawal perubahan dengan strategi kebudayaan. “Islam itu agama final, sementara kebudayaan adalah proses dan ruang terbuka yangtidak pernah selesai,” pungkasnya. (HUMAS)

Comments are closed.

Universitas Muhammadiyah Jakarta - Powered by Puskom-UMJ