Oleh : Ahmad Taufik Zulfikri

Taufik Sang MC Tuna Netra
Taufik Zulfikri memandu acara.

Saya Ahmad Taufik Zulfikri, yang mendapat julukan Sang MC Tuna Netra, mahasiswa disabilitas netra dari Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Bukan perkara sulit bagi saya saat memutuskan untuk kuliah, karena saya punya lingkungan yang sangat mendukung. Dan bukan tanpa alasan saya memilih Prodi Ilmu Komunikasi, karena saya cukup aktif di bidang public speaking meskipun saya disabilitas netra.

Saya memiliki jam terbang yang cukup tinggi menjadi pembawa acara atau moderator, kegiatan yang telah memberikan saya banyak pengalaman sangat menakjubkan. Salah satu yang paling berkesan adalah saat menjadi pembawa acara atau master of ceremony sebuah acara besar di pusat perbelanjaan di kawasan Jakarta tahun 2018 silam.

Meskipun tidak bisa melihat wujud panggung dan wajah penonton yang katanya mencapai ribuan orang, saat saya merasakan nervous dan ngeblank. Saya meragukan informasi dari panitia yang bilang jumlah penonton mencapai ribuan. Soalnya, setiap kali saya minta penonton tepuk tangan, di depan saya tidak ada suara. Ada sedikit saja terdengar dari kejauhan. Meskipun begitu, saya tetap fokus untuk memandu acara dengan baik.

Usut punya usut, ternyata saat itu saya yang tidak bisa melihat ini sedang ditonton oleh para disabilitas rungu yang bertepuk tangan dengan bahasa isyarat. Tepuk tangannya tidak bersuara, hanya melalui gerakan tangan saja. Pantas saja saya merasa tidak ada yang tepuk tangan.

Mungkin banyak orang yang tidak tahu bagaimana cara saya memandu acara. Setiap kali bertugas menjadi MC, saya memanfaatkan alat pendengar (ear buds) wireless dan ponsel untuk menuliskan naskah MC, sebagai pengganti que card yang biasa digunakan para pembawa acara profesional.

Saat pertama kali jadi MC, saya menghapal naskah dan dialog yang harus disampaikan bersama rekan MC. Saya juga membuat catatan di ponsel untuk menyimpan naskah MC dan juga daftar urutan acara. Tak disangka, saya merasakan chemistry dengan rekan MC saat itu sehingga bisa memandu acara dengan baik.

Seru sekali bisa menjadi seorang MC. Rasanya semua orang berada di bawah komando saya. Saya merasakan MC disabilitas netra tidak ada bedanya dengan MC lainnya. Tidak ada hambatan untuk melangkah. Waktu itu memang modalnya cuma nekat. Ketika ada kesempatan dan kepercayaan datang, saya selalu ambil. Syukur alhamdulillah, orang-orang memberikan feedback positif walaupun mereka sempat kaget karena baru tahu saya tunanetra ketika turun dari panggung didampingi panitia.

Pengalaman itu jadi gerbang awal saya menekuni dunia public speaking. Supaya lebih menguasai ilmunya, saya yang pernah jadi anak pemalu ini akhirnya punya keberanian lebih untuk gabung bermacam-macam komunitas, di antaranya komunitas film dan komunitas public speaking.

Sebelumnya tidak pernah terbayang oleh saya bahwa di masa depan akan menjadi seorang disabilitas netra dengan kategori low vision atau gangguan penglihatan. Sejak lahir hingga remaja hidup terasa biasa saja, normal seperti yang lainnya. Pada tahun 2015, saat masih duduk di Kelas IX SMP, saya memutuskan untuk berhenti sekolah karena mengalami kejadian mengerikan bagi.

Diawali dengan sakit kepala yang tidak biasa, berujung pada gangguan penglihatan yang orang sering sebut dengan tunanetra. Memang tidak sepenuhnya gelap, tapi warna-warni keindahan dunia yang biasa saya nikmati dalam sekejap menghilang. Bukan wujud tiga dimensi yang saya lihat melainkan bayangan dan siluet saja. Saya mengurung diri di kamar berminggu-minggu, menjauh dari keramaian dunia luar yang rasanya tidak bisa saya miliki.

Setelah keterpurukan itu mulai reda, saya tidak betul-betul berhenti sekolah dan mengikuti ujian Paket B. Setelah lulus ujian Paket B, saya harus menunggu tiga tahun untuk ikut ujian paket C. Saya tidak tahu harus melakukan apa selama tiga tahun itu.

Dalam kondisi itulah Allah memberikan jalan yang sangat lebar dan cahaya baru melalui ayah saya. Beliau mengenalkan saya pada komunitas disabilitas netra yang bernama Mitra Netra. Babak selanjutnya, Mitra Netra menjadi teman saya dalam banyak hal, termasuk beradaptasi dengan kehidupan baru saya sebagai seorang low vision atau gangguan penglihatan.

Sejak saat itu, saya mulai aktif di komunitas, bersosialisasi, kemudian bangkit. Pengalaman jadi MC tadi misalnya, adalah buah dari saya bergabung di komunitas public speaking. Baru dua kali ikut kelas, sudah ditodong jadi MC. Kurang tahu pasti alasan kenapa saya diminta jadi MC, tapi yang pasti salah seorang mentor bilang bahwa dia melihat ada bakat dalam diri saya. Akhirnya komunitas membantu saya menemukan bakat terpendam dan semakin aktif ngemsi hingga saat ini. Bahkan saya dapat julukan: Taufik Zulfikri Sang MC Tuna Netra.

Saya berkuliah di UMJ  karena ingin mendalami ilmu komunikasi yang sudah saya lakukan setelah jadi disabliitas netra. Mungkin ini hikmah dari Allah, bahwa penglihatan saya diambil, tapi kemudian saya dapat yang lebih banyak. Hilang satu, datang seribu, mungkin itu kata kiasan yang bisa menggambarkan kehidupan saya.

Bukan hal mudah beradaptasi dengan hidup baru. Menjadi tunanetra di usia belasan seperti kembali ke masa TK, karena saya harus belajar semua dari nol. Belajar menggunakan ponsel, berjalan, menggunakan komputer, membaca, sampai belajar bermain bola. Syukur alhamdulillah, hobi berlari dan menendang bola masih bisa dilakukan.

Blind football jadi jawaban untuk teman-teman disabilitas netra untuk bisa berolahraga sama seperti orang pada umumnya. Dalam permainan blind football, bolanya khusus dan  bersuara, sehingga kami berlari dan mengejar sumber suara dari bola. Tidak ada yang berubah dari permainan. Blind football menjadi salah satu cabang olahraga di ajang internasional sekelas Paralympic.

Saat menjadi disabilitas netra, saya yakin bisa melakukan apa yang orang lain walau dengan cara berbeda. Kami bisa berjalan dengan lancar menggunakan tongkat, menggunakan ponsel dan komputer dengan aplikasi khusus. Oleh karenanya kami selalu berusaha untuk berdaya melalui komunitas yang bisa menjadi wadah strategis bagi teman-teman disabilitas untuk berkembang.

Salah satunya adalah melalui Yayasan Matahatiku Berdaya Mandiri yang saya dirikan bersama teman-teman disabilitas. Kami fokus pada pemberdayaan teman-teman disabilitas dalam sektor wirausaha dan pengembangan diri. Kami menginisiasi terbentuknya yayasan ini  berangkat dari kompleksnya problematika teman-teman disabilitas dalam mendapatkan pekerjaan.

Yayasan Matahatiku hadir untuk menjadi wadah dalam mengasah ilmu dan kemampuan. Beberapa bidang yang ditekuni adalah wirausaha dan pengembangan diri yang dilakukan melalui pelatihan dan pendampingan. Semua ini kami upayakan agar tercipta sinergi dan kesempatan yang sama untuk penyandang disabilitas.

Saya dan teman-teman disabilitas netra memiliki kemampuan dan bisa mengasahnya sama seperti orang pada umumnya. Kami ada bukan untuk dikasihani, tetapi kami ingin diakui keberadaannya. Penyandang disabilitas netra seringkali menjadi objek, padahal yang kami inginkan adalah kami juga menjadi subjek.

*seperti diceritakan pada Dinar Mediana, reporter KSU

*penyunting: Tria Patrianti

<strong>Ahmad Taufik Zulfikri</strong>

Ahmad Taufik Zulfikri

Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)

Kamu mahasiswa aktif UMJ? Punya pengalaman yang menarik untuk dibagikan? Silakan tulis pengalamanmu dalam 700-1400 kata, lalu kirim ke email [email protected]. Tulisan yang terpilih akan dimuat di Kolom Mahasiswa website www.umj.ac.id.