Kolom Mahasiswa_Pengalaman Menjadi Guru Bahasa Inggris di Thailand
Octana Puteri Pedrova saat melaksanakan program KKN Internasional UMJ 2023, Agustus 2023, di Thailand.

Pergi ke Thailand, menjadi pengalaman luar biasa serta hadiah ulang tahun terindah yang pernah saya dapatkan. Nama saya Octana Puteri Pedrova, mahasiswi Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMJ. Kali ini saya ingin membagikan pengalaman menjadi guru Bahasa Inggris di Thailand selama mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional Universitas Muhammadiyah Jakartta (UMJ) bulan Agustus 2023 lalu.

Saya sangat bersyukur terpilih mengikuti KKN Internasional ini karena berpeluang mendapatkan pengalaman berbeda dan berkesempatan mengimplementasikan ilmu yang telah didapat selama kuliah di UMJ.

Saya menyadari bahwa mahasiswa berperan sebagai agent of change di mana mahasiswa perlu berkontribusi serta memberi dampak yang baik pada perubahan yang terjadi di masyarakat. Selama di Thailand, saya melakukan pengabdian masyarakat berupa pengajaran di sebuah sekolah bernama Darul Mujahideen yang terletak di sebuah kota kecil di wilayah Thailand yaitu Padang Besar. Wilayahnya berdekatan dengan perbatasan antara Thailand dengan Malaysia.

Octana Puteri Pedrova saat mengunjungi tempat wisata Pantai Samila dan Central Hatyai di Thailand (12/08/2023).

Ini bukan kali pertama saya melakukan pengajaran dan menjadi guru. Sebagai mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial, saya sudah sering mengikuti pengabdian masyarakat dan terjun langsung ke masyarakat terutama ke pelosok-pelosok desa. Namun, pengalaman pengabdian masyarakat pada KKN kali ini terasa sangat berbeda karena menghadapi latar belakang masyarakat berbeda, yaitu masyarakat Thailand.

Sebelum berangkat saya sempat merasa gelisah, ragu, serta gugup memikirkan kendala bahasa dan budaya yang berbeda. Selain itu, saya juga takut naik pesawat. Kepergian tante saya beberapa tahun lalu karena insiden kecelakaan pesawat membuat saya trauma. Namun kali ini saya lawan trauma itu hingga akhirnya tiba dengan selamat di bandara internasional Don Mueang, Bangkok.

Sejak tiba hingga beberapa hari tinggal di Thailand, ternyata saya sama sekali tidak mengalami culture shock. Saya merasa seperti berada di rumah sendiri. Masyarakat di sana sangat baik serta tak segan membantu, bahkan tanpa diminta. Di hari pertama mengajar, saya diminta untuk mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris karena menurut penuturan dari guru yang ada di Sekolah Darul Mujahideen, anak-anak di Thailand kurang bisa berbahasa Inggris, dan mereka menganggap bahwa orang Indonesia memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang lebih baik dibanding mereka.

Saya ditugaskan untuk mengajar kelas 4, 5 dan 6 SD yang mana tiap kelas antara laki laki dan perempuan dipisah. Jadi ada sebanyak 6 kelas yang saya ajar, masing-masing kelas terdapat 35 murid. Pengalaman pertama saya mengajar murid-murid di sekolah Thailand membuat saya gugup. Namun di luar ekspetasi saya, ternyata para murid sangat antusias untuk bisa berkenalan dan berlomba-lomba  mencari perhatian saya dengan cara memberikan banyak sticker dan permen sambil tersenyum malu. Gemas sekali.

Bukan hanya muridnya, para guru yang ada di sanapun menyambut dengan hangat serta mengajari saya banyak hal terkait budaya dan juga beberapa kosa kata bahasa Thailand, seperti สวย (dibaca: sway) artinya cantik, น่ารัก (dibaca: naraak) artinya gemas, dan beberapa kosa kata terkait warna yang hingga saat ini masih saya ingat dengan jelas.

Ketika ditugaskan menjadi guru, saya merancang program pengajaran dengan berbasis metode interaktif. Metode ini menempatkan guru sebagai bukan satu satunya pemberi informasi terkait pembelajaran, namun murid itu sendiri juga bisa menjadi pemberi informasi, bukan hanya penerima. Saya sadar bahwa proses transfer ilmu terjadi apabila kedua belah pihak saling memberi dan menerima.

Sudah bukan zamannya lagi menjadi guru yang ditakuti oleh banyak murid, apalagi murid dianggap tidak bisa apa-apa karena masih dalam proses belajar. Padahal manusia tidak pernah berhenti belajar hingga akhir hayatnya. Metode interaktif yang saya gunakan biasanya dalam mengajar berupa menghapal materi sambil bernyanyi dan menari, dan juga mengajar lewat teknologi games.

Saya melewati hari-hari selama satu bulan dengan bahagia bersama murid-murid.  Mereka memiliki sikap yang santun dan selalu menyapa dengan salam setiap bertemu. Pendidikan karakter dan agama yang ditanamkan di sekolah Darul Mujahideen sangat luar biasa. Hal itu dapat dilihat dari ketegasan guru-guru apabila ada anak yang berbuat salah, para guru langsung bertindak memberi sanksi dan memberikan pemahaman kenapa mereka menerima sanksi.

Pendidikan Agama disana juga baik. Setiap pagi murid-murid wajib untuk mengaji, lalu ketika azan Zuhur dan Ashar berkumandang maka murid-murid langsung melaksanakan sholat tanpa menunda-nunda. Penggunaan hijab dan pergaulan dengan lawan jenis diatur dengan sangat ketat. Hijab yang digunakan harus menutup dada. Gedung sekolah laki laki dan perempuan juga dipisah.

Ada satu kebiasaan yang menurut saya perlu diterapkan oleh sekolah yang ada di Indonesia, yaitu kebiasaan minum susu setiap pagi. Pemerintah Thailand memberikan susu gratis kepada setiap sekolah untuk dibagikan pada siswa. Hal ini ditujukan untuk menurunkan angka stunting. Berdasarkan studi tahun 2018, mengkonsumsi susu 300 ml setiap harinya bisa mencegah stunting. Selain itu susu juga bisa memberikan banyak manfaat lainnya.

Di Thailand, saya juga berkesempatan melakukan eksplorasi ke berbagai tempat wisata. Mulai dari Floating Market Hatyai, ASEAN Market, Central Mosque of Songkhla Province, Hat Yai Municipal Park, Samila Beach, Folklore Museum Songkhla Thailand, Wat Phra Non Laem Pho, hingga Kim Yong Market.

Thailand sangat saya rekomendasikan sebagai tempat untuk berlibur. Makanan, tempat wisata, keindahan alam, masyarakatnya, barang barang unik dan hal lain semuanya terasa sangat luar biasa.

Ada hal tak terduga yang saya alami di sana. Jadi tiga bulan sebelum ikut program KKN ke Thailand, saya mendengarkan dan sangat senang sekali dengan lagu เรนิษราผู้ถูกเลือกให้ผิดหวัง(ดอกไม้ฤดูหนาว) atau bila diterjemahkan ke Bahasa Inggris berarti Sad Flower yang dinyanyikan oleh Reinisra.

Tiba-tiba saya mendengarkan lagu itu diputar saat saya sedang di perjalanan pulang menuju tempat tinggal saya di Thailand. Saya merasa malam itu menjadi malam paling indah karena saya tidak menyangka skenario yang telah Allah rancang untuk saya. Padahal awalnya saya hanya menyukai lagu itu, namun Allah memberikan kesempatan untuk bisa mendengarkannya langsung di negara asal di mana lagu itu dibuat.


Editor : Tria Patrianti

octana puteri pedrova

Octana Puteri Pedrova

Mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)

Kamu mahasiswa aktif UMJ? Punya pengalaman yang menarik untuk dibagikan? Silakan tulis pengalamanmu dalam 700-1400 kata, lalu kirim ke email [email protected]. Tulisan yang terpilih akan dimuat di Kolom Mahasiswa website www.umj.ac.id.