Cerita dan Pengalaman Pengabdian Masyarakat di Gunung Kidul, Yogyakarta
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FIP UMJ saat melaksanakan program KKN Nasional UMJ di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. (Foto : Dok.Pribadi)


Bagi seorang mahasiswa yang belum pernah merasakan jauhnya hidup di perantauan, berkesempatan menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan pengalaman baru. Begitu pula dengan saya, Nadiva Rahma, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta (PBSI FIP UMJ).

Saya mendapat lokasi KKN di Gunung Kidul menjadi pengalaman paling berharga dan berkesan yang saya rasakan selama hidup. Walaupun dengan berat hati harus jauh dari keluarga, saya mencoba menjalaninya dengan ikhlas sambil menyadari bahwa kesempatan ini mungkin tidak datang dua kali.

Pada kesempatan ini saya akan membagikan sedikit cerita selama menjalani program KKN Nasional UMJ di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta yang dimulai sejak awal Februari dan akan berakhir pada 28 Maret 2024.

gunung kidul
Pemandangan di sekitar lokasi KKN PLP Nadiva Rahma, di Desa Tanggulangin Kabupaten Gunung Kidul, DIY Yogyakarta Maret 2024.(Foto : Dok.Pribadi)

Sebelum pemberangkatan KKN, tak jarang berbagai tanggapan menghampiri saya. Wah! Seru, dong, KKN di Gunung Kidul”, “Asyik banget bisa main-main ke pantai nanti”, “Jauh juga, ya, KKN di Gunung Kidul”.

Begitu kira-kira, campur aduk perasaan saya pada waktu itu. Antara cemas karena harus meninggalkan sejenak kota kelahiran saya dan perasaan tidak sabar ingin merasakan keseruan KKN yang kerap diceritakan oleh kakak tingkat saya.

Kegiatan KKN kali ini menarik sekaligus menantang bagi saya karena dilakukan bersamaan dengan kegiatan Pengenalan Lingkungan Persekolahan (PLP). Sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan, program tersebut wajib untuk dilaksanakan sebagai pelatihan menjadi calon pendidik. 

KKN di gunung kidul
Nadiva Rahma saat mengajar siswa di Desa Tanggulangin, Kabupaten Gunung Kidul DIY Yogyakarta. (Foto : Dok.Pribadi)

Selama di Gunung Kidul, saya bersama dengan teman kelompok yang terdiri dari sebelas orang melakukan pengabdian masyarakat di daerah Kapanewon Ponjong, tepatnya di desa Tanggulangin. Sebuah desa yang terletak jauh dari hiruk-pikuk kehidupan perkotaan.

Pengalaman ketika pertama kali menginjakkan kaki di desa ini membuka mata saya terhadap realitas kehidupan yang ada di perdesaan. Mulai dari perbedaan kondisi alam, budaya, tradisi, dan lain sebagainya.

Tingkat kenyamanan hidup yang tidak sepenuhnya bisa saya dapatkan seperti di perkotaan salah satunya ialah udara sejuk yang setiap pagi saya hirup dan indahnya pemandangan hijau yang saya saksikan di sekeliling perdesaan.

Keramahan warga Desa Tanggulangin menjadi suatu hal yang saya syukuri. Kehadiran kami disambut dengan hangat layaknya kedatangan keluarga baru. Rumah Bu Lia menjadi basecamp berkumpul saya dan teman-teman. Bu Lia, Pak Sidik, Bu Lulu, dan Pak Hendar adalah sosok yang kami anggap seperti orang tua kami selama berada di desa ini.

Kerap kali saya bersama kelompok aktif di berbagai kegiatan mulai dari posyandu, mengajar anak-anak mengaji, hingga kerja bakti. Selain berkegiatan, kami mengadakan beberapa program kerja di desa yakni edukasi pembuatan tong sampah dari botol bekas, M3 (membaca, menulis, dan menghafal) Qur’an, dan bimbingan belajar.

KKN di gunung kidul
Nadiva Rahma saat mengajar ngaji anak-anai dii Desa Tanggulangin, Kabupaten Gunung Kidul DIY Yogyakarta.. (Foto : Dok.Pribadi)

Perasaan senang saya rasakan ketika bernteraksi langsung dengan anak-anak di Desa Tanggulangin, terlebih ketika saya bersama kelompok menyelenggarakan program Bimbingan Rumah Belajar anak-anak yang kami gelar seminggu sekali.

Antusias dan semangat yang mereka miliki, menjadi alasan saya untuk terus ingin menetap. Logat Bahasa Jawa yang digunakan, serta kelucuan tingkah laku mereka menjadi hiburan bagi saya. Pemandangan sekumpulan anak-anak yang datang dengan sepeda tak luput mengingatkan saya pada masa kecil.

Kedekatan saya dan anak-anak terus bertambah seiring berjalannya waktu. Perasaan haru itu datang ketika mendengar kesedihan mereka atas kepulangan kami yang akan tiba dalam hitungan hari. Dua bulan ini ternyata terasa begitu singkat.

Merasakan kehidupan menjadi anak kost, juga suatu pengalaman baru yang saya rasakan selama satu bulan ini. Rasanya kemampuan memasak saya cukup terasah selama berada di sini. Memasak beragam jenis resep masakan yang kami temukan di google untuk hidangan makan malam bersama adalah sebuah momen yang akan selalu menjadi kenangan.

Momen datangnya bulan ramadan kali ini terasa berbeda karena saya lewati bersama teman-teman. Bangun lebih pagi dari biasanya untuk menyiapkan menu sahur dan buka bersama menjadi rutinitas yang kami jalani bersama remaja masjid. Berkumpul bersama santri-santri dan mengisi kegiatan sambil menunggu adzan maghrib berkumandang.

Selain melakukan pengabdian Masyarakat, saya melaksanakan kegiatan PLP di SMK Muhammadiyah Ponjong dan menjadi guru Bahasa Indonesia. Awalnya sempat merasa cemas karena ini merupakan pengalaman pertama bagi saya untuk terjun langsung di sekolah.

Berbekal dengan ilmu pengetahuan yang saya dapatkan selama di kampus membantu saya dalam melakukan pengajaran, akhirnya keberanian muncul dan rasa cemas itu perlahan memudar. Bukan hidup namanya kalau tidak ada tantangan. Meskipun kecemasan itu menurun, tetapi kehadiran tantangan tidak bisa ditolak.

KKN di gunung kidul
Mahasiswa FIP UMJ bersama anak-anak Desa Tanggulangin berfoto di depan RUmah Belajar. (Foto : Dok.Pribadi)

Salah satu tantangan bagi saya ialah menjadi guru Bahasa Indonesia di tengah siswa-siswa yang terbiasa menggunakan bahasa daerah. Kebetulan di Gunung Kidul, umumnya berbahasa Jawa. Mulanya saya merasa sedikit kesulitan untuk memahami beberapa kosakata Bahasa Jawa yang digunakan oleh siswa.

Pada akhirnya saya membiasakan para siswa untuk menggunakan Bahasa Indonesia pada jam pembelajaran Bahasa Indonesia untuk mempermudah interaksi antara kami.

Meskipun begitu, saya merasa tertarik untuk mempelajari Bahasa Jawa. Saya tak segan meminta bantuan para siswa untuk mengartikan kosakata Bahasa Jawa. Satu hal yang akan sulit saya lupakan adalah ketika para siswa turut senang membantu saya mengartikan beberapa kosakata Bahasa Jawa ke dalam Bahasa Indonesia.

Mbak, bahasa indonesianya ‘Deni’ itu hari”, kata salah satu siswa di sela kegiatan belajar. Sebagai guru Bahasa Indonesia di sekolah, ini menjadi salah satu tugas saya untuk tetap menyeimbangkan antara penggunaan Bahasa Ibu dan Bahasa Indonesia.

Saya menyadari, menjadi seorang guru bukanlah tugas yang mudah. Ia adalah sosok yang berperan penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Bagi saya menjadi seorang guru adalah profesi yang menyenangkan. Selain dapat berbagi pengetahuan, dipertemukan oleh siswa-siswa dengan berbagai karakter adalah suatu anugerah.

Pengalaman adalah guru terbaik. Begitu kira-kira kalimat yang tepat untuk cerita pengalaman saya selama mengabdi pada masyarakat ini. Pada bagian ini saya merasakan sebuah kehidupan dengan rasa syukur karena memiliki kesempatan untuk dapat merasakan salah satu anugerah terindah yang belum saya lakukan sebelumnya.

Paling tidak melalui pengalaman ini, saya memiliki kisah perjalanan untuk diceritakan pada anak-cucu nantinya, juga sebagai bekal di masa yang akan datang.

Editor: Dinar Meidiana

nadiva2

Nadiva Rahma

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FIP UMJ

Kamu mahasiswa aktif UMJ? Punya pengalaman yang menarik untuk dibagikan? Silakan tulis pengalamanmu dalam 700-1400 kata, lalu kirim ke email [email protected]. Tulisan yang terpilih akan dimuat di Kolom Mahasiswa website www.umj.ac.id.