Rektor UMJ Kunjungi BKKBN Gelar Audiensi KKN Temantik Stunting

Oleh :
Kholifatul Husna
Suasana Audiensi Kuliah Kerja Nyata (KKN) temantik Stunting dengan BKKBN di Gedung BKKBN Jakarta Timur, Selasa (06/06/2023).

Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta Dr. Ma’mun Murod, S.Sos., M.Si. kunjungi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) dalam rangka tindak lanjut Memorandum of Understanding (MoU) program Kuliah Kerja Nyata (KKN) temantik stunting di Gedung BKKBN Jakarta Timur, Selasa (06/06/2023).

Dalam rangka rencana pelaksanaan KKN UMJ tahun 2023, kunjungan Rektor UMJ Dr. Ma’mun Murod, M.Si. didampingi oleh Ketua LPPM Prof. Dr. Tri Yuni Hendrawati, ST., M.Si., Ketua Penjamin Mutu Prof. Dr. Tria Astika Endah Permatasari, MKM., Dekan FKM UMJ Dr. Andriyani, M.Kes. Dekan FISIP UMJ Dr. Evi Satispi, M.Si. Dosen FKM Nurmalia Lusida, M.K.M., Dosen FISIP Dr. Ati Kusmawati, S.Pd. M.Si.Pikolog yang disambut hangat oleh ketua BKKBN Dr. (H.C) dr. Hasto Wardoyo, Sp.O.G. (K). dan jajaran direktur BKKBN.

Baca juga : FKK UMJ Peduli Stunting

Ma’mun menyampaikan tujuan kunjungan tersebut sebagai bentuk sinergi dengan BKKBN sebagai salah satu tempat yang akan dijadikan lokasi KKN temantik 2023. Hal ini, terlihat dari tingginya angka stunting di wilayah Jabodetabek sekitar 21,6% .

UMJ berkomitmen untuk membantu pemerintah dalam menurunkan angka stunting dengan melaksanakan kegiatan KKN temantik stunting. Selain pelaksanaan KKN, Ma’mun beharap kerja sama antara UMJ dengan BKKBN akan berlanjut keapada penelitian, serta pengembangan masyarakat lainnya.

“Selain untuk kepentingan kampus yang harus menjalin banyak relasi tentu kami juga membantu BKKBN yang memiliki tanggung jawab sosial dan kemanusiaan dimana angka stunting di Indonesia masih terbilang tinggi. UMJ berkomitmen untuk membantu pemerintah terkait penurunan angka stunting melalui KKN temantik dan berlanjut dengan kerja sama lainnya,” ungkap Ma’mun.

Ketua BKKBN Dr. (H.C) dr. Hasto Wardoyo, Sp.O.G. (K). menyampaikan bahwa angka stunting di Indonesia masih sangat tinggi terutama di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan angka balita stunting sebesar 37%. Permasalahan stunting di Indonesia merupakan permasalah yang kompleks.

Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama dan gotong royong dari berbagai pihak untuk menyelesaikan permasalah stunting tak terkecuali perguruan tinggi. Hasto menuturkan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mengatasi permasalah stunting karena terdapat banyak intelektual dan pakar dari berbagai bidang ilmu untuk dapat menurunkan angka stunting di Indonesia.

“Harapan dari kerjasama dengan UMJ ini dapat memperbanyak program KKN temantik untuk mengawal dan mendampingi keluarga berisiko memiliki anak stunting. Terlebih UMJ yang memiliki berbagai macam prodi yang dapat menunjang baik faktor spesifik sampai faktor sensitif sehingga kerja sama dalam rangka percepatan penurunan angka stunting melalui mahasiswa peduli stunting,” ungkap Hasto.

Menurut Hasto BKKBN telah menyiapkan sekitar 600 ribu personil yang tergabung dalam 200 ribu Tim Pendamping Keluarga (TPK). Setiap tim beranggotakan tiga orang dari unsur bidan, kader pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga (PKK), dan kader keluarga berencana (KB) dikerahkan di seluruh wilayah Indonesia.

“Selain melalui KKN temantik pencegahan stunting, perguruan tinggi juga bisa mengambil peran melalui merdeka belajar kampus merdeka dan platform dana pendamping Kedaireka dimana BKKBN telah bekerja sama dengan Kemendikbudristek,” sambung Hasto.

Selaras dengan itu, Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak dr. Irma Ardiana, MAPS. mengatakan sesuai dengan peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2001 tentang Percepatan Penurunan Angka Stunting melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi yang memerlukan mahasiswa untuk ikut andil dalam percepatan penurunan angka stunting di Indonesia.

“Disini kami melihat peluang mahasiswa memiliki pengalaman dan pembelajaran untuk mengatasi jumlah kunjungan masyrakat ke posyandu yang rendah, ketika kami memberikan paket layanan kepada posyandu masih banyak masyarakat enggan untuk datang memeriksa anak-anaknya. Maka dari itu saat melibatkan potensi dan edukasi dari mahasiswa melalui survei kepada masyarakat, artinya memang ada populasi tertentu yang membutuhkan kerja sama dengan Perguruan Tinggi,” jelas Irma.

Dengan kata lain program Penurunan Angka Stunting di indonesia memerlukan keterlibatan langsung mahasiswa melalui 3 kanal seperti MBKM, KKN Temantik Stunting, dan Program Pengabdian Masyarakat lainnya.

Editor : Budiman