UMJ Akan Dirikan Therapy Center untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Narasumber (Ruwinah) sedang menyampaikan materi autisme , di Auditorium FKK, pada Rabu (23/11).

UMJ akan dirikan Therapy Center sebagai tempat layanan yang diperuntukkan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Layanan terapi tersebut nantinya dapat dibuka untuk masyarakat umum yang bekerja sama dengan Hospital Penawar, Johor, Malaysia. Dr. Septa Chandra, SH., MH menyampaikan bahwa kehadiran lembaga pendidikan harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat. “UMJ termasuk universitas yang sudah mampu menerima mahasiswa disabilitas sehingga kursus ini diharapkan dapat menghasilkan output yang baik,” tambah Septa.

Keseriusan tersebut dibuka dengan mengadakan menyelenggarakan Short Course dan Screening Perkembangan Anak Autism and Spectrum Disorder (ASD) dan Learning Disorder (LD) yang diselenggarakan oleh LPPM. Kegiatan ini digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap anak disabilitas dan dalam rangka memperingati hari disabilitas internasional yang jatuh pada bulan Desember.

Ketua LPPM UMJ, Prof. Dr. Ir Tri Yuni Hendrawati, M.Si., sangat mendukung kegiatan ini mengingat UMJ berkomitmen untuk menerima mahasiswa disabilitas, “Dalam pusat penelitian, hal ini harus didukung oleh multidisipliner. Untuk itu tentu memerlukan akademisi dari berbagai fakultas karena disabilitas merupakan tugas kita bersama untuk memfasilitasi mereka.” Jelas Yuni.

Dr. Suharsiwi, M.Pd., koordinator kegiatan yang juga merupakan Dosen Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI UMJ), menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan ini diselenggarakan selama 3 hari (23/11 – 25/11) dengan menghadirkan narasumber dari Malaysia, Head of Penawar Special Learning Centre and Clinical, Hospital Penawar Johor Malaysia Ruwinah Abdul Karim. “Kegiatan ini nantinya akan kita kolaborasikan bersama terkait dengan riset dan juga pembentukan therapy center di Universitas Muhammadiyah Jakarta,” jelas Suharsiwi.

Pendirian Therapy center ini didirikan oleh Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi, dimana merupakan program dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbudristek. Dengan adanya Therapy Center, diharapkan anak-anak berkebutuhan khusus dapat menerima terapi yang tepat dan mencerahkan para orang tua dalam mengatasi anak berkebutuhan khusus.

Foto bersama antara pimpinan, narasumber dan para peserta, di Auditorium FKK, Rabu (23/11).

Puluhan mahasiswa, guru, dan dosen mengikuti kursus Screening Perkembangan Anak ASD (Autism and Spectrum Disorder) dan LD (Learning Disorder), bertempat di Auditorium FKK UMJ. Pelaksanaan kursus ini berlangsung selama tiga hari, yang dimulai dari hari Rabu (23/11) hingga Jumat (25/11).

Sebanyak kurang lebih 80 peserta yang merupakan mahasiswa, dosen, dan guru, hadir mengikuti rangkaian kursus. Dalam penyampaian materi, Ruwinah mengatakan bahwa masalah autisme terkadang berada pada pengetahuan para guru dan orang tua dimana belum dapat mendiagnosis penderita autisme.

Pada kegiatan ini dijelaskan pula cara mendiagnosis penderita autisme. Informasi yang disampaikan narasumber memberikan pemahaman yang lebih baik tentang autisme dan cara menghadapi penderita autisme. (RN/KSU)