Tobacco Control dan Dampaknya bagi Mahasiswa

Diksusi Publik Kawasan Tanpa Rokok (KTR) pada Senin (08/08).

Senin (08/08), Project group Penanggulangan dan Penyalahgunaan NAPZA SEMESTA FKM UMJ bersama dengan Departemen Kajian Aksi dan Strategis Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta, berkolaborasi dalam menyelenggarakan acara Diksusi Publik Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

Diskusi Publik Kawasan Tanpa Rokok ini dihadiri oleh Wakil Dekan I Fakultas Kesehatan Masyarakat UMJ yaitu Dr. Munaya Fauziah, SKM, M.Kes; Wakil Dekan III dan IV, Suherman, S.PI., M.KM., M.Sc. Ph.D, dan Kaprodi S1 yaitu Ernyasih, SKM, MKM. Turut hadir pula perwakilan lembaga mahasiswa FKM UMJ terdiri dari BEM, DPM, IMM, ERDAMS, serta tamu undangan setiap organisasi mahasiswa setiap fakultas di UMJ.

Acara diawal dengan pemaparan hasil riset Kawasan Tanpa Rokok di wilayah kampus A Universitas Muhammadiyah Jakarta yang telah dibagi menjadi 4 area. Metode pencarian dan pengumpulan sampel rokok ini dengan membagi anggota menjadi beberapa kelompok yang akan disebarkan terhadap 4 (empat) area tersebut. Pencarian dan pengumpulan sampel rokok ini dilakukan pada weekend dan weekday. Berdasarkan hasil riset ini didapatkan bahwa jumlah sampel rokok terbanyak pada beberapa lokasi yakni Muhammadiyah Civilization Center & Rektorat, Fakultas Pertanian, Fakutas Ilmu Pendidikan, serta Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, dengan jumlah sampel rokok sebanyak 1.966.

Selanjutnya masuk pada acara inti yaitu penyampaian materi oleh narasumber-narasumber yang luar biasa. Untuk materi pertama dengan bahasan Tobacco Control dan Dampaknya bagi Mahasiswa”, disampaikan oleh Tubagus Haryo Karbyanto S,H yang merupakan Forum Warga Kota (FAKTA) Indonesia dan Advokasi Komisi Nasional Pengendalian Tembakau. Ia menyampaikan bahwa perilaku merokok itu memang legal tapi terbatas namun tidak normal. Indonesia menjadi peringkat ketiga di dunia jumlah perkok terbanyak.

Selanjutnya, ia juga menjelaskan mengenai kawasan tanpa rokok yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan pasal 115. Kawasan tanpa rokok terdiri dari fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja dan tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan. Puncak perkembangan regulasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Indonesia terjadi pada tahun 2017.

Materi Kedua disampaikan oleh Wakil Rektor IV, Dr. Septa Candra, SH., MH, tentang Kawasan Tanpa Rokok di Lingkungan Kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta”. Dalam penyampaiannya, Septa menjelaskan bahwa berdasarkan Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 6/SM/MTT/III/2010 tentang Hukum Merokok menetapkan hukum merokok adalah haram karena perbuatan merokok mengandung unsur menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan dan bahkan perbuatan bunuh diri secara perlahan.

Dalam Peraturan Rektor No. 372 Tahun 2018 tentang kamus Islami Universitas Muhammadiyah Jakarta pada BAB VI pasal 27 menjelaskan bahwa Kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta adalah kawasan tanpa rokok, tanpa narkotika, dan obat-obat berbahaya dan tanpa minuman keras; sivitas akademika dan tenaga kependidikan/administrasi dilarang merokok, mengkonsumsi narkoba dan minuman keras di lingkungan kampus; Dilarang jual-beli rokok, narkoba dan minuman keras di lingkungan kampus; dan fakultas melaksanakan rencana tindak lanjut dari Baitul Arqam mahasiswa, terutama yang lulus bersyarat.

Acara ini dilanjutkan dengan diskusi dan pembagian doorprize, terlihat antusias peserta bahkan banyak dari mereka yang memberikan pertanyaan kritis dalam menanggapi materi yang telah disampaikan.

Diskusi Publik Kawasan Tanpa Rokok ini diharapkan dapat menjadikan Universitas Muhammadiyah Jakarta bebas dari asap rokok dan lebih dikaji serta diperhatikan tindak lanjut implementasinya agar penerapan kampus Muhammadiyah Jakarta bebas asap rokok bisa terwujud dengan baik.