Strategi Digitalisasi Pemasaran dan Kampanye Politik pada Pemilu 2024

Oleh :
Dinar Meidiana

Kontestasi politik yang akan berlangsung pada 2024 mendatang memantik banyak isu muncul terkait dengan pelaksanaan pemilihan umum. Sebagai akademisi, mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (MIKOM FISIP UMJ) turut ambil bagian dalam memberikan sumbangsih pemikiran melalui forum webinar nasional dengan tema Strategi Digitalisasi Pemasaran dan Kampanye Politik pada Pemilu 2024. Webinar digelar pada Jumat (29/07), secara hybrid dari Gedung FISIP UMJ, dengan menghadirkan narasumber yang berpengalaman.

Para narasumber adalah pakar dan praktisi yang berpengalaman di bidangnya, yakni Pilar Saga Ichsan (Politisi Golkar, Wakil Wali Kota Tangerang Selatan), Mardani Ali Sera (Politisi PKS, Anggota Komisi II DPR RI), Hendri Satrio (Pakar Komunikasi Politik, Pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI) dan Trisno Muldani (Mahasiswa MIKOM FISIP UMJ).

Sementara itu sebagai pengantar, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik UMJ, Dr. Evi Satispi, M.Si dan Dr. Aminah Swarnawati, M.Si selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi FISIP UMJ. Serta, Peneliti BRIN dan juga pengajar Marketing Politik UMJ, Prof. Siti Zuhro.

Dalam pengantarnya, Dr. Aminah Swarnawati, M.Si mengatakan bahwa digitalisasi merupakan sebuah keniscayaan di Era digital. Mengingat segmen pasar hari ini adalah milenial dan gen Z, sehingga dalam menyambut pemiliu mendatang, para politisi maupun partai politik harus bisa beradaptasi.

“Karena mereka (milenial dan gen-z) merupakan digital native, sedangkan generasi sebelumnya merupakan digital immigrant. sehingga kata kuncinya ialah adaptasi dan kolaborasi,” tuturnya.

Aminah menambahkan, media konvensional mungkin penting sebagai media pemasaran politik, namun masyarakat selaku pengguna saat ini telah lebih banyak yang bergeser ke digital. Sehingga pemasaran politik di media digital menjadi penting untuk didiskusikan.

Sedangkan Dekan FISIP UMJ, Dr. Evi Satispi, M.Si., yang hadir secara daring, pada kesempatan tersebut, Evi mengatakan bahwa webinar adalah ajang untuk mengintegrasikan ilmu yang diperoleh mahasiswa di ruang kelas dengan para pakar dan praktisi untuk kemudian menghasilkan rekomendasi yang dapat diberikan pada negara dan bangsa.

Masuknya dunia pada era digital membuat banyak aspek kehidupan bergeser dari konvensional ke digital, begitu pula dengan aktivitas politik. Perkembangan zaman menjadi perhatian penting bagi para politisi dalam melakukan kampanye politik. Dalam webinar tersebut, dua narasumber diantaranya adalah praktisi yang telah berpengalaman dalam melakukan kampanye politik pada kontestasi politik.

Salah satu mahasiswa MIKOM FISIP UMJ, Trisno Muldani, turut menyampaikan apa yang menjadi landasan tema webinar yang menjadi bahasan menarik. Berkaca pada Pemilu 2024 di Indonesia banyak memakan anggaran kampanye hingga ratusan milyar. Oleh karenanya penting bagi parpol untuk mulai melirik bagaimana pemasaran politik dan kampanye politik dilakukan melalui platform digital. “Kalau dikomparasi antara digital marketing dan tradisonal, tentunya penggunaan kampanye melalui televisi lumayan memakan biaya. Namun hasilnya tidak berbanding lurus dengan apa yang diharapkan. Sekarang diperkenalkan dengan pemasaran digital, semuanya terukur dan bisa ditentukan sendiri,” ungkap Trisno Muldani

Trisno juga menyampaikan bahwa digitalisasi akan berpengaruh pada munculnya hoax dan buzzer politik. “Ini harus diatur sedemikian rupa karena kemungkinan adanya hoax dan buzzer politik sangat besar. Oleh karenanya perlu ada pengawasan intensif dari pemerintah atau yang berwenang dalam hal Pemilu yakni KPU dan Bawaslu,” ujar Trisno.
Pilar Saga Ichsan, politisi Golkar yang saat ini menduduki kursi Wakil Wali Kota Tangsel, memaparkan bagaiman strategi kampanye politik yang telah dilakukan pada Pilkada 2019. Pilar Saga mengaku bahwa strategi kampanye politiknya dilakukan dengan dua cara yakni tradisional dan digital sesuai dengan latar belakang dan karakteristik masyarakat. Kampanye tradisional dilakukan dengan melakukan assessment di setiap wilayah untuk memetakan program dan model kampanye yang dilakukan.

Hal yang sama dilakukan oleh Mardani Ali Sera, Politisi PKS yang kini duduk sebagai Anggota Komisi II DPR RI. Mardani Ali Sera memaparkan bagaimana pemetaan masyarakat dilakukan untuk menentukan strategi kampanye politik. Namun menurutnya, perkembangan teknologi dan sosial media perlu dimanfaatkan untuk strategi kempanya politik. Mardani mengatakan bahwa digitalisasi adalah keniscayaan, walaupun begitu ia menyebut bahwa pasukan darat (strategi tradisional) juga tidak boleh dilupakan.

Strategi kampanye melalui platform digital justru dianggap kurang efektif oleh pakar komunikasi politik, Hendri Satrio (pendiri Survei KedaiKOPI). Berdasarkan survei yang dilakukan oleh KedaiKOPI, kampanye yang dilakukan dengan menggunakan baliho dan spanduk lebih efektif dibandingkan kampanye melalui media sosial. “Media sosial menjadi media yang paling tidak dipercaya publik. Media sosial tidak selalu bisa diandalkan. Mungkin bisa diandalkan bagi orang-orang yang melek media sosial. Dari hasil survei, spanduk dan baliho lebih efektif,” ungkap Hendri.

Pada akhir webinar, Prof. Dr. Siti Zuhro, dosen pengampu mata kuliah Manajemen Kampanye Politik yang turut hadir secara daring memberikan pandangannya dari hasil webinar dan diskusi. Menurutnya pemasaran dan kampanye politik adalah hal krusial yang perlu diperhatikan oleh parpol. Selain itu, era digital tidak boleh diabaikan oleh parpol agar masyarakat tetap mendapatkan informasi yang baik, tercerahkan dan teredukasi.

“Mari kita songsong pemilu serentak dengan persiapan matang dan perbaikan serius dari para stakeholder agar menghasilkan pemilu berkualitas dan berkeadaban,” tegas Siti Zuhro. (DN/KSU)

Kabar Serupa