Sularno: Tekad Memajukan Pertanian Melalui Dakwah Bil Hal

Dekan Fakultas Pertanian UMJ, Ir. Sularno, M.Si.

Pengembangan lahan urban farming yang digarap oleh Fakultas Pertanian (FTAN) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)  tidak lepas dari peran Dekan FTAN UMJ, Ir. Sularno, M.Si, yang memantik gerakan penghijauan di UMJ melalui urban farming. Ide untuk membuat kebun di kampus UMJ berawal dari maraknya urban farming akibat pandemi Covid-19. Menurut akademisi sekaligus praktisi pertanian yang kini menjabat sebagai Dekan FTAN UMJ, penting bagi kampus UMJ membuka lahan kebun dengan konsep urban farming. Kampus UMJ yang terletak di tengah kota besar, sangat cocok menerapkan urban farming. Lahan yang dijadikan kebun dapat memberikan banyak manfaat, diantaranya mengurangi polusi udara dan suara, juga memberikan suplai oksigen dan menambah keindahan pemandangan. Peluang bisnispun bisa terbuka lebar dengan adanya urban farming.

Saat ditemui di ruangannya, Gedung FTAN UMJ, lantai 1, kehangatan suasana yang dibangun olehnya terlihat dari bungkus kopi yang berjajar rapi di rak kayu. Selain pertanian, kopi menjadi hal yang sangat digemari oleh dekan yang sedang menempuh pendidikan doktor Manajemen Pendidikan Islam di UMJ. Ia mengoleksi banyak kopi dari berbagai daerah di Indonesia. Kopi ini menjadi perekat orbrolan tamu yang datang berkunjung ke Ruang Dekan FTAN UMJ. Ia bahkan tak segan meracik sendiri kopi yang akan disuguhkan.

Semangat dekan yang mulai menjabat sejak 2020 ini sangat menggebu ketika diminta untuk memperlihatkan kebun halaman belakang gedung FTAN UMJ. Walaupun hujan turun, tidak menyurutkan Ir. Sularno untuk memperlihatkan kebun kecil yang menebar manfaat besar. Kebun kecil yang kini banyak menyediakan bibit tanaman buah, tanaman hias, dan sayur-sayuran, adalah hasil dari kerja sama banyak pihak, mulai dari mahasiswa, sivitas akademika, hingga alumni.

Akademisi yang juga berkecimpung di dunia pemberdayaan sosial ini menyuguhkan cerita masa kecilnya. Menjadi seorang insinyur pertanian adalah mimpi besarnya sejak kecil. Lahir, tumbuh, dan berkembang di keluarga petani, ia kemudian mewarisi ilmu pertanian tradisional dari kedua orangtuanya. Ia mengenal pertanian jauh sebelum mengenal pertanian di ruang akademis. “Pertanian adalah dunia saya,” kata pria kelahiran Wonogiri, 1 Februari 1963. Ia mengaku bahwa perkenalan ia degan pertanian bukan dari kampus, melainkan dari kedua orang tuanya.

Gelar kepala kebun ia sandang saat masih kelas 4 SD untuk mengatur pengelolaan kebun yang dimiliki oleh sekolah. Beranjak SMA, ekstrakulikuler agraria (pertanian) menjadi pilihan baginya untuk mengeksplore dan menyalurkan minat dan bakat yang dimiliki. Berbagai macam jenis tanaman pernah ia tanam, mulai dari tembakau, wijen, jagung, padi, dan tanaman daerah panas lainnya. “Apapun yang saya dapatkan dari pengalaman sejak duu, saya terapkan. Kemudian saya poles dengan teknologi kekinian,” tutur Sularno menceritakan proses belajarnya.

Saat ini, perannya sebagai Dekan Fakultas Pertanian di UMJ memberikan peluang yang sangat besar baginya untuk terus berkiprah memajukan pertanian di Indonesia secara akademis maupun praktis. Tentunya dengan berbagai kolaborasi yang dijalin akan lebih mudah dalam melakukan sebuah gerakan dan gebrakan.

Ia sangat bertekad untuk memajukan pertanian di Indonesia melalui dakwah bil hal (dakwah dengan tindakan) yang ia yakini dapat berdampak positif bagi perubahan. Begitulah cara Pak Larno, sapaan akrabnya, dalam mendidik mahasiswanya, juga mendidik khalayak. Pak Larno percaya tindakan akan berdampak lebih besar dibandingkan sekedar berkoar-koar yang tidak mempan. “Sudah menjadi kebiasaan saya dari dulu, tidak akan berbicara (menyeru) kepada orang sebelum saya mengerjakan,” katanya.

Pertanian memiliki makna yang sangat dalam bagi Pak Larno. Menurutnya, pertanian adalah kehidupan. “Tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang tidak berhuungan pada pertanian.

Produk yang kita pakai, semua hasil pertanian. Orang tidak boleh mengabaikan pertanian. Indonesia adalah negara agraris, tapi sayangnya kita impor. Ini menyedihkan sekali,” ujar Pak Larno.


Kondisi negara Indonesia yang lebih sering impor ketimbang swasembada menjadi kisah pilu bagi petani di Indonesia, termasuk Pak Larno. Oleh karenanya, pertanian tidak boleh dilihat sebelah mata. “Mari lihat pertanian secara keseluruhan, jangan diartikan secara sempit. Perikanan, peternakan, kehutanan, adalah bagian dari pertanian,” tegas Pak Larno. (DN)