Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera bagi kita semua!
Dengan rasa sukacita yang luar biasa, penuh syukur, dan tanggung jawab yang mendalam, saya berdiri di hadapan Anda hari ini untuk menyampaikan sambutan hangat kepada Anda semua, para cendekiawan terhormat, praktisi berdedikasi, profesional visioner, dan mahasiswa yang penuh semangat, dalam Konferensi Internasional Pekerjaan Sosial dan Ilmu Sosial, yang dengan bangga diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) bekerja sama dengan APISWEA, serta didukung oleh UMSU.
Atas nama UMJ, saya merasa sangat terhormat dapat menyambut lebih dari 270 peserta dari seluruh Indonesia dan 14 negara , yang mewakili ragam budaya, disiplin ilmu, dan pengalaman. Kehadiran Anda hari ini bukan sekadar angka kehadiran, melainkan bukti nyata dari komitmen kita bersama untuk memajukan kesejahteraan sosial, menjunjung tinggi keunggulan akademik, dan membangun dunia yang lebih adil dan penuh kasih.
Pertemuan Bersejarah di Lembaga Bersejarah
Konferensi ini memiliki makna khusus karena diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), sebuah institusi yang memiliki warisan panjang dalam mendorong perubahan sosial. UMJ bukanlah universitas biasa, UMJ adalah universitas Muhammadiyah pertama di Indonesia, bahkan di dunia. Dari tempat inilah, misi pendidikan Muhammadiyah tumbuh dan menyebar luas, hingga kini, kita memiliki perguruan tinggi di Australia, universitas di Malaysia, dan banyak institusi lain yang menjunjung tinggi nilai-nilai pelayanan dan pencerahan yang sama.
Namun, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa perjalanan ini dimulai dari sesuatu yang sangat mendalam namun sangat sederhana: Departemen Kesejahteraan Sosial pada tahun 1955, yang pada tahun 2025 ini akan kita rayakan usia ke-70 tahunnya. Ya, pekerjaan sosial bukan hanya bidang studi bagi kami, tetapi merupakan jiwa dari Muhammadiyah itu sendiri. Sejak masa pendiri kami yang tercinta, KH. Ahmad Dahlan, yang mengajarkan bahwa pendidikan tanpa tanggung jawab sosial adalah pendidikan yang belum lengkap, hingga kepemimpinan Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, yang terus mengingatkan kita bahwa “ilmu harus mengabdi pada kemanusiaan,” Muhammadiyah selalu teguh berdiri di atas prinsip pelayanan sosial, pemberdayaan, dan keadilan.
Hakikat Pekerjaan Sosial: Panggilan Universal
Saudara-saudara sekalian, pertemuan ini bukanlah sekadar acara akademik di mana kita menyajikan makalah, bertukar kartu nama, lalu kembali ke rutinitas. Tidak, ini adalah pulang kampung. Kembali ke esensi dari apa yang kita kerjakan.
Beberapa di antara kita adalah pekerja sosial secara profesi, yang lain adalah ilmuwan sosial, dan mungkin, seperti saya, datang dari disiplin yang berbeda seperti ilmu politik, psikologi, atau kesehatan masyarakat. Namun, saya percaya sepenuh hati bahwa kita semua adalah pekerja sosial dalam hati.
Mengapa?
Karena pekerjaan sosial bukan sekadar profesi, ini adalah panggilan jiwa. Ini adalah kesadaran bahwa kemanusiaan kita terikat bersama melalui kepedulian, kasih sayang, dan tanggung jawab kolektif. Apakah kita meneliti pengentasan kemiskinan, memperjuangkan hak kesehatan mental, atau merancang kebijakan kota berkelanjutan, kita semua, pada dasarnya, bekerja menuju tujuan yang sama: dunia di mana tidak ada satu pun yang tertinggal.
SDGs: Sebuah Keharusan Moral
Hal inilah yang menjadi inti tema konferensi kita: “Transformasi Global dan Tantangan dalam Pekerjaan Sosial dan Ilmu Sosial Menuju Pencapaian SDGs 2030.” Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) seringkali dibahas dalam konteks statistik, kebijakan pemerintah, dan indikator global. Namun, marilah kita ingat, pada dasarnya SDGs adalah kompas moral. SDGs mengingatkan kita bahwa kemiskinan bukan takdir, ketimpangan bukan hal yang wajar, dan ketidakadilan bukan sesuatu yang bisa diterima.
Hari ini, dunia kita menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya: perubahan iklim yang memaksa jutaan orang mengungsi, ketimpangan ekonomi yang memperlebar jurang antara si kaya dan si miskin, krisis kesehatan mental yang diam-diam menggerogoti kesejahteraan, kekerasan dan konflik yang menghancurkan komunitas seperti Genosida di Gaza, serta migrasi dan pengungsian yang menguji kembali batas dan makna kebangsaan kita. Semua ini bukanlah persoalan yang berdiri sendiri, mereka saling terkait, dan solusi kita pun harus saling terhubung.
Peran Kita: Menjembatani Jurang, Membangun Masa Depan
Inilah sebabnya konferensi seperti ini penting. Ini bukan hanya soal berbagi pengetahuan, tetapi tentang membangun jembatan: antara bangsa, agar kearifan lokal Indonesia dapat memberi inspirasi pada strategi global, dan inovasi global dapat memperkuat komunitas Indonesia; antara disiplin ilmu, karena pekerja sosial membutuhkan ekonom, psikolog membutuhkan pembuat kebijakan, dan pendidik membutuhkan teknolog; serta antara teori dan praktik, karena riset terbaik pun harus berdampak di dunia nyata.
Seruan untuk Refleksi dan Komitmen
Saat kita mengikuti diskusi dalam beberapa hari ke depan, saya mengajak Anda semua untuk merenung: bagaimana kita bisa mengubah penelitian menjadi tindakan nyata? Bagaimana kita bisa memastikan bahwa suara yang terpinggirkan tidak hanya terdengar, tetapi juga diberdayakan? Bagaimana kita, baik secara individu maupun institusi, dapat berkontribusi pada dunia yang lebih berkelanjutan dan adil?
Mari kita lanjutkan semangat Muhammadiyah: melayani dengan ketulusan, memberi tanpa pamrih, dan berjalan dengan rendah hati di jalan keadilan. Kepada para tamu internasional kami, terima kasih telah membawa kebijaksanaan Anda ke Indonesia. Negeri ini menyambut Anda dengan hangat dan penuh rasa syukur. Kepada para peserta dari Indonesia, mari kita bangga atas warisan kita dan menjawab tantangan untuk menjadi pemimpin global dalam bidang pekerjaan sosial dan ilmu sosial.
Bersama, mari kita jadikan konferensi ini sebagai pemantik perubahan.
Nashrun minallah wa fathun qorrib, wa bassyiril mu’miniin.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Terima kasih