Adab Menyembelih Hewan Kurban

adab menyembelih hewan kurban

Islam sebagai agama yang sempurna mengatur banyak hal, termasuk dalam menyembelih hewan. Aturan penyembelihan itu berlaku baik untuk ibadah kurban pada Iduladha maupun untuk konsumsi sehari-hari.

Dalam rangka menyambut Hari Iduladha, mari kita simak adab penyembelihan hewan kurban yang disampaikan Drs. Sunarto, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tangerang Selatan.

1. Menyembelih dengan Pisau Tajam
Hendaklah dalam menyembelih hewan menggunakan pisau tajam agar hewan tidak tersiksa. Sabda Nabi Muhammad Saw. dalam hadis riwayat Muslim, Abu Daud, Ibnu Hibban, Thurmudzi, Ibnu Majah, Ahmad dan Darimi dari Syaddad bin Aus, yaitu:

“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala hal, maka apabila kalian membunuh, maka bunuhlah dengan baik, dan apabila kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan baik, dan hendaklah salah seorang di antara kamu menajamkan pisaunya dan menyenangkan sembelihannya”.

2. Jangan Menyembelih dengan Gigi, Tulang, dan Kuku
Janganlah menyembelih hewan kurban dengan gigi, tulang, kuku atau dengan sesuatu yang sulit untuk membuat hewan cepat mati. Penjelasan ini terdapat dalam hadis riwayat Bukhari dari Rafi’ bin Khadij, berikut:

“Apa yang dapat mengalirkan darah dan disebut Asma Allah atasnya, maka makanlah, bukan (menyembelih) dengan gigi atau kuku. Dan akan aku ceritakan kepada kalian tentang hal itu, bahwa sesungguhnya gigi itu tulang, sedangkan kuku itu pisaunya orang Habasyah”.

3. Jika Hewan Kurban Mengamuk dan Jadi Liar Maka Sembelihlah dengan Alat Apa Saja
Hadis riwayat Bukhari, Muslim, Turmudzi Ahmad dan Darimi, hendaklah menyembelih dengan alat apa saja yang memungkinkan apabila hewan kurban berubah menjadi liar ketika akan disembelih.

Dari Rafi’ bin Khadij berkata: Kami pernah bersama Nabi Saw. dari Tihamah, tiba-tiba ada seekor unta kabur menjadi buas dan liar, sedangkan di kaum itu hanya ada beberapa pasukan berkuda. Maka ada seseorang yang memanahnya, sehingga hewan itu terhenti dengan sebuah panah. Maka bersabdalah Rasulullah Saw.: “Sesungguhnya hewan ini memiliki sifat buas seperti buasnya binatang liar, maka apa saja yang memungkinkanmu (untuk membunuh binatang itu), maka lakukanlah”.

4. Menghadap ke Arah Kiblat
Berdasarkan sebuah hadis: Dari Jabir berkata, Nabi Saw. pada Hari Raya Iduladha menyembelih dua ekor domba yang bertanduk, gemuk dan betina keduanya. Dan tatkala beliau menghadapkan keduanya ke arah kiblat, beliau membaca:

إِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ عَلَى مِلَّةِ إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ إِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَالِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ.

Setelah membaca, beliau berdoa: “Ya Allah (kurban ini berasal) dari Mu dan untuk Mu dan (kurban ini) dari Muhammad dan umatnya, bismillah allahu akbar”. Kemudian beliau menyembelihnya”. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad dan Darimi dengan sanad yang baik)

5. Tidak Menyembelih di Hadapan Hewan Kurban Lain
Ada beberapa hadis yang menjelaskan perihal ini di antaranya:

Hadis riwayat Thabrani, kata Albani dalam as Silsilah as Sahihah, hal 24 yaitu;
Dari Ibnu Abbas berkata, Nabi saw telah melewati seorang laki-laki yang sedang meletakkan salah satu kakinya diatas pelipis seekor kambing sambil mengasah pisau, sedangkan hewan tersebut melihatnya, maka sabdanya: “Mengapa engkau tidak melakukannya sebelumnya, apakah kamu akan membunuhnya sebanyak dua kali?

Kemudian, dalam hadis riwayat Baihaqi berikut:
Dari ‘Ashim bin Ubaidillah bin Umar bahwa sesungguhnya ada seorang laki-laki mengasah pisaunya sambail mengambil seekor kambing untuk disembelihnya, maka Umar memukulnya dengan sebuah cambuk sambil berkata, “Apakah kamu akan menyiksa ruhnya? Mengapa engkau tidak melakukannya sebelum engkau mengambilnya?”

Lalu, pada hadis riwayat Baihaqi (Muhammad Abu Faris, Ahkam al Dzaba’ih fi al Islam) berbunyi;
Dari Ibnu Sirin berkata bahwa sesungguhnya Umar melihat seorang laki-laki menggiring paksa seekor kambing untuk disembelih, maka dia memukulnya dengan sebuah cambuk sambil berkata, “Brengsek, tuntunlah dengan baik ke tempat kematiannya”.

Sunarto mengatakan, adab tersebut menjadi landasan mukmin saat menyembelih hewan kurban. Pasalnya, tujuan syariat, objek kurban, dan caranya berbeda-beda setidaknya di tiga zaman berikut:

1. Zaman Nabi Adam AS
Dengan syariat kurban, Allah ingin menguji tingkat ketakwaan, ketulusan dan keikhlasan hamba-hamba-Nya, obyeknya adalah harta kekayaan.

2. Zaman Nabi Ibrahim AS.
Pada zaman ini Allah SWT mensyariatkan kurban tak lain adalah untuk menguji tingkat mahabbah (kecintaan) hamba-Nya dan yang menjadi obyek adalah manusia.

3. Zaman Rasulullah Saw.
Pada zaman ini objeknya sudah sapi, unta, kambing atau domba. Tujuan syariat kurbannya, antara lain untuk mensyukuri nikmat, sebagai syiar bahwa Allah Swt. yang mengantarkan kepada ketakwaan, dan mengikuti petunjuk Nabi Ibrahim a.s.

Penulis: Qithfirul Fahmi
Editor: Dinar Meidiana