Memperingati 22 Tahun Kenduri Cinta di Universitas Muhammadiyah Jakarta

Rektor UMJ, Dr. Ma’mun Murod, M.Si (tengah) didampingi oleh Dekan FISIP UMJ, Dr. Evi Satispi, M.Si (kanan) dan Dekan FAI UMJ, Dr. Sopa, M.Ag., pada acara Kenduri Cinta di UMJ pada, Sabtu (19/06).
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Sabtu (19/06) malam, Plaza FISIP UMJ dipadati oleh hamper seribu jamaah Kenduri Cinta yang datang dari berbagai latar belakang usia, pekerjaan dan daerah. Tidak sedikit orang tua yang turut membawa anak-anaknya untuk mengikuti forum Kenduri Cinta. Pada kesempatan tersebut untuk pertama kalinya Kenduri Cinta digelar di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Kenduri Cinta merupakan sebuah forum diskusi yang lahir sejak tahun 2000 dan bertepatan dengan hari ulang tahun ke 22, pada kesempatan tersebut Kenduri Cinta mengusung tema Kenduri Apa Kalau Bukan Cinta?

Rektor UMJ, Dr. Ma’mun Murod, M.Si., bersama dengan Dr. Sopa, M.Ag. (Dekan Fakultas Agama Islam UMJ), dan Dr. Evi Satispi, M.Si. (Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMJ), turut hadir menyambut jamaah Kenduri Cinta. Pada kesempatan tersebut, Ma’mun memberikan apresiasi pada Kenduri Cinta. “Pertama, saya memberikan apresiasi yang luar biasa kepada Kenduri Cinta. Kami sangat mendukung kegiatan-kegiatan seperti ini” ungkap Ma’mun.

Selain itu, Ma’mun juga memberikan pemahaman pada jamaah tentang Muhammadiyah dan kulturnya. Perbedaan antara Muhammadiyah dan NU tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak mendukung kegiatan positif sejenis Kenduri Cinta. “Stereotip yang menunjukkan seolah-olah Muhammadiyah antisolawat. Muhammadiyah itu wasathiyah. tidak berlebihan. Yang penting tidak anti solawat, tapi jangan berlebihan. Sesuatu yang berlebihan atau kurang itu ekstrem. Bermuhammadiyah itu ada proses, orang-orang yang tergabung dalam Muhammadiyah sangat beragam. Ada asalnya dari NU, abangan, macam-macam. Sehingga Muhammadiyah coba mengakomodir semuanya,” ujar Ma’mun.

Kenduri Cinta yang sering dilekatkan dengan sosok budayawan, Cak Nun (Emha Ainun Najib), rutin digelar setiap bulan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Namun pada kesempatan kali ini Kenduri Cinta berkolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Jakarta memberikan ruang yang lebih luas untuk diskusi. Tema pada Kenduri Cinta yang diusung adalah sebuah refleksi bahwa selama 22 tahun Kenduri Cinta terselenggara atas cinta. Cinta menjadi spirit lahirnya forum Kenduri Cinta. Pada kesempatan tersebut, Cinta menjadi bahasan yang sangat menarik sebab cinta didefinisikan secara luas. Cinta bukan hanya sebatas perasaan antara perempuan dan laki-laki, melainkan cinta Allah kepada hambaNya, cinta manusia kepada kehidupan, dll.

Pengajian Kenduri Cinta diisi oleh Ian L Betts, Ustadz Noorshofa, Dr. Ma’mun Murod, M.Si., dan narasumber lainnya. Tema politik menjadi bahasan diskusi yang sangat menarik bagi jamaah Kenduri Cinta. Pada kesempatan tersebut, Ma’mun menyampaikan terkait dengan kondisi politik di Indonesia saat ini. Menyambung bahasan wasathiyah Islam (moderasi Islam) yang disampaikan pada sambutan, menurut Ma’mun wasathiyah atau moderasi semestinya tidak hanya dalam agama, tapi juga ekonomi, politik, hukum, dan seluruh aspek kehidupan.

“Hukum sangat berpihak ke atas. Tumpul ke atas, tajam ke bawah. Itu kan ekstrem juga. Tapi tidak pernah disinggung. Ekstremnya politik kita, ekstremnya hukum kita, ekstemnya ekonomi kita, tidak pernah disindir, yang disindir hanya ekstem dalam keagamaan. Makanya Kenduri Cinta harus mengkampanyekan wasathiyah Islam yang utuh dan tulus,” ujar Ma’mun.

Ian L Betts, pria kelahiran London yang belajar Pokok-Pokok Al Qur’an dan Filsafat Islam di Institut Paramadina seklaigus penulis buku Jalan Sunyi Emha turut memberikan cerita tentang Kenduri Cinta pada masa awal kelahirannya. Ian yang telah fasih berbahasa Indonesia menjelaskan bagaimana Allah memberikan cinta pada seluruh semesta. “Nama Allah dalam asmaul husna nomor ke-47 ini menunjukkan cinta Allah,” ungkap Ian.

Ustadz Noorshofa banyak menyampaikan perihal kecintaan manusia terhadap dunia. Menurutnya manusia harus memiliki karakter zuhud, yakni cinta terhadap akhirat lebih besar daripada cinta dunia. Ia memberikan kisah khulafaurrasyidin (empat sahabat Rasul) yang memiliki karakter zuhud dan dapat dijadikan contoh bagi umat Islam.

Jamaah sangat tertib dan aktif berdiskusi. Salah satu jamaah bahkan mengungkapkan harapannya agar Kenduri Cinta bisa digelar rutin di UMJ. Harapan tersebut disambut baik oleh Rektor UMJ yang membuka lebar pintu untuk Kenduri Cinta. Forum berjalan dengan suasana hangat hingga dini hari, diselingi pembacaan puisi dan penampilan musik yang semakin memberikan cinta dan semangat bagi jamaah. (DN/KSU)

Berita Terbaru

id Bahasa Indonesia
X